Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Kebohongan Berbuah Karma

Sumber: https://pixabay.com/id/photos/emoji-tersenyum-bad-mood-perasaan-3202669/

Bab 6 : Kebohongan yang Berbuah Karma

Senangnya hari ini aku punya kesempatan bermain basket sepuasnya di lapangan seorang diri. Sudah lama aku tidak memegang bola basket setelah tanganku cedera akibat kecelakaan motor tiga Minggu yang lalu.

Kini lenganku telah membaik dan aku bisa menggerakkannya dengan leluasa tanpa ada rasa khawatir yang menyelimuti diriku.

Untungnya hari ini Pak Rian tidak masuk, jadi tidak ada kegiatan belajar mengajar di kelasku. Dan Bu Ani wali kelas kami memberikan kebebasan kepada muridnya untuk belajar sendiri asalkan tidak membuat kegaduhan.

“Anak-anak, hari ini Pak Rian tidak masuk karena sakit. Jadi, pada jam ini kalian ibu berikan kebebasan untuk belajar sendiri, tapi ingat jangan membuat kegaduhan, mengerti?” Kata Bu Ani.

“Iya, Bu!” Para murid menjawab kegirangan.

Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang akan aku lakukan selama jam kosong ini, akhirnya aku terpikirkan ide untuk bermain basket. Ketika aku hendak meminta ijin Bu Ani, sayangnya beliau sudah pergi meninggalkan kelas. Aku pun bangun dari tempat duduku untuk mengejarnya.

“Indri, kamu mau ke mana?” tanya Rida temanku.

“Aku mau mengejar Bu Ani,” jawabku.

“Memangnya, kenapa kamu ingin menemui Bu Ani?” sahut Sofi.

“Aku mau minta ijin kepadanya untuk bermain basket di lapangan. Daripada menunggu jam berikutnya di kelas, lebih baik aku gunakan waktu kosong ini untuk latihan bermain basket. Kalian mau ikut?” ajakku kepada Rida dan Sofi.

“Tidak, aku tidak mau ikut. Aku tidak terlalu suka bermain basket. Selamat bersenang-senang sendirian,” Ujar Rida.

“Iya, aku juga nggak. Maaf ya Indri,” sela Sofi.

“Ya udah, kalo nggak mau. Kalian berdua bersenang-senanglah di kelas yang membosankan ini.”
Aku berlari secepat mungkin agar tidak kehilangan jejak Bu Ani. Syukurlah, Aku melihat Bu Ani sedang mengajar di kelas sebelah.

BACA JUGA :   5 CARA MEMPERKUAT OTAK ANAK AGAR DAPAT MENGENDALIKAN EMOSINYA DENGAN BAIK

“Tok tok tok tok tok!” suara ketukan pintu.

“Masuklah Indri!” perintah Bu Ani.

Aku melangkah masuk ke dalam kelas dengan wajah menunduk.

“Ada apa Indri?” tanya Bu Ani kepadaku.

“Sebelumnya, saya minta maaf telah mengganggu kegiatan mengajarnya, Bu Ani,” kataku dengan suara pelan.

“Oh tidak apa-apa kok. Santai saja. Ada yang ingin kamu sampaikan kepada ibu?”

“Begini Bu Ani, boleh tidak kalau jam kosong ini saya habiskan untuk latihan bermain basket di lapangan indoor?”

“Boleh-boleh saja. Tapi ingat, jangan sampai terlambat masuk di jam pelajarannya Pak Zaid, mengerti?”

Aku menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa aku paham dengan apa yang dikatakan oleh Bu Ani.

Aku senang sekali Beliau mengizinkanku bermain basket. Setelah mendapat izin, aku langsung keluar dan pergi menuju lapangan indoor. Dugaanku memang tepat, lapangannya tidak digunakan oleh kelas lain. Kuambil bola basket dari dalam keranjang dan mulai mendribelnya perlahan. Pertama, aku latihan behind the back dribel, yaitu memantulkan bola dari tangan satu ke tangan lainnya melalui tubuh bagian belakang. Dribel ini yang paling susah buatku, tangan kananku tidak bisa meraih bolanya dengan cepat, jadinya bolanya memantul ke mana-mana.

Beberapa kali pun aku mencoba tetap saja gagal. Aku mulai pasrah dan mencoba teknik dribel yang lain.

“Hah, kenapa susah banget, sih! Udah ah, lebih baik aku coba crossover dribel aja,” kesalku sambil membuang bola.

Crossover dribel adalah teknik mendribel bola dari satu tangan ke tangan lainnya dengan posisi rendah. Aku paling suka teknik dribel satu ini, karena mengayunkan bolanya tidak terlalu tinggi. Aku pun mencoba teknik dribel ini sambil berjalan ke arah ring.

BACA JUGA :   Teks Dialog : Kelinci Pembohong Kena Karma

“Baiklah, ayo kita masukkan bolanya ke dalam ring,” gumamku dalam hati.

Pandangan mataku hanya fokus menatap ke satu titik, yaitu ring. Aku mencoba mengira-ngira letak posisi lemparan yang tepat. Setalah mendapatkan posisi yang pas, inilah saatnya mengeksekusi bola.

“Ayo masukkkkk!” teriakku sembari melempar bola.

Dan ternyata lemparanku tepat
sasaran, bolanya masuk ke dalam ring.

“Yeee, bolanya masuk,” sangking senangnya aku sampai berlari mengelilingi lapangan.

Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan bagiku, bola yang aku lemparkan selalu masuk ke dalam ring. Ketika aku sedang asyik bermain, tiba-tiba ada lima orang perempuan datang menghampiriku dari ruang guru. Aku tidak mengenal mereka, tapi mereka begitu tega mendorongku ke lantai.

“Kalian apa-apaan sih! Salahku apa memangnya?” bentakku kepada mereka.

“Jangan jadi wanita sok cantik, deh. Emangnya kamu siapanya Rori, kok mau dia memberikan kue kepadamu?” jawab salah seorang dari mereka.

“ Kue, Kue apa? Terus, Rori itu siapa? Aku nggak kenal sama Rori. Kalian itu jangan tuduh orang sembarangan dong!” aku berdiri dan langsung mendorong perempuan yang menuduhku tadi.

“Hei, berani sekali kamu mendorong temanku. Dasar perempuan tidak tahu diri!” kata temannya yang lain.

“Apa sih sebenarnya mau kalian dariku?” tegasku.

“Kami mau, kau jauhi teman kami Rori. Rori itu miliknya Ira. Lagian, wajah biasa seperti ini apa menariknya. Kalau dibandingkan dengan Ira, beda jauh. Seharusnya Rori tertarik kepada Ira, kenapa malah suka sama perempuan biasa aja kayak gini ya. Heran aku,” kata salah satu perempuan sambil memeras pipiku.

“Lepaskan aku,” tak tahan dengan perlakuan mereka, aku langsung menjambak rambut salah satunya temannya.

Meskipun aku sendirian, aku berani menghadapi lima orang sekaligus. Tidak akan kubiarkan mereka berani melukai diriku. Selain menjambak rambut, aku bahkan berani menampar mereka satu persatu. Saat salah seorang dari mereka hendak balik menampar, tiba-tiba Pak Zaid datang dan meraih tangan perempuan yang mau menamparku.

BACA JUGA :   24 Planet Layak Huni

“Apa, yang kalian lakukan di sini?” teriak Pak Zaid dengan nada yang tinggi.

“Tidak, tidak, Pak. Kami di sini hanya bermain saja. Iya kan?” jawab salah satu dari mereka sambil merangkul diriku.

“Singkirkan tanganmu dariku! Mereka bohong, Pak. Sebenarnya, mereka tadi sedang melakukan bullying kepadaku. Untung bapak tiba tepat waktu, kalau tidak temannya tadi mau menampar wajahku,” jawabku membela diri.

“Tidak Pak Zaid, dia yang berbohong, kami hanya ingin mengajaknya bermain basket bersama. Eh, dia malah menolaknya, Pak,” sela salah satu dari mereka.

“Hentikan kalian semua. Kecil-kecil sudah pandai berbohong. Bapak lihat dengan mata kepala bapak sendiri. Dari tadi saya memperhatikan kalian semua dari ruang guru. Kalian berlima ikut bapak dan kamu yang bawa bola basket, cepat kembali ke kelasmu,” ternyata Pak Zaid dari tadi mengawasi kami dari kejauhan, jadi mereka berlima tidak bisa berkutik lagi.

Syukurlah kelima perempuan tadi mendapatkan hukuman yang setimpal. Coba saja kalau Pak Zaid tidak ada di sana, mungkin sekarang wajahku memar-memar akibat dipukuli oleh mereka. Dari jendela kelasku, terlihat mereka berlima sedang berdebat satu sama lain. Aku sampai tertawa melihatnya.

“Indri, kamu kenapa ketawa tawa sendiri? Fokus, kalau Pak Zaid tahu, kamu pasti disuruh keluar kelas nanti,” Sofi memperingatkan diriku.

“Iya iya, maaf!”

Aku pun mendengarkan apa kata Sofi dan kembali fokus menyimak pelajaran.

Sumber gambar:
https://pixabay.com/id/photos/emoji-tersenyum-bad-mood-perasaan-3202669/

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: