Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sendal Jepit Shintia

Aku di belikan sendal oleh pacar lama ku, ini sendal untuk mu. Sambil melihat sendal kusam ku yang sudah kerut di kakiku.

Lalu pergi begitu saja. Dia kini nampak wanita sosialitas. Bergaya seorang modelis dengan parfum Bunga mawar, memakai rok diatas lutut. Sambil memegang handphone Vivo dan menenteng tas saku berwarna coklat.

Sembari, berjalan ke arah mobil Fortuner yang di kemudikan lelaki Poro buncit, ketuaan sedang parkir di sebelah bauh jalan.

Dia itu siapa? Bapaknya? Keluarganya? Oh tidak jawab batin ku. Lelaki tua Poro buncit, muka serabutan dan ke-kakek-an adalah pacarnya.

Batin ku mulai merana melihat semua itu.

Memangnya mata mu buta dan Telinga mu tuli. Apakah itu selerah mu? Masa punya pacar dengan lelaki berumur usur itu.

Kau di kasih minum apa semalam, sehingga pandanganmu kian Kabur dan tidak bisa membedakan, mana daun muda dan mana daun kering.

Di bilang nakal, tidak mau. Di bilang, tak bermoral juga tidak mau. Terus apaan? Tuntutan jaman atau tuntutan poro (perut).

Dia percaya diri menggait tangan cowoknya sambil berjalan yang jalannya kian terklepak klepek, seperti ikan Poro bibi, yang kesetika di ganggu poronya kian membesar, bahkan bisa membuat terapung di permukaan karena Poro yang semakin besar saat ada ancaman dari luar.

Aku tak terima. Aku punya harga diri. Masa dia turun dari mobil Fortuner dan menghadiakan aku sebuah sendal seribuan yang berada di Pasar Yotefa serba obral itu.

Dia kira siapa aku? Memangnya siapa kamu? Tanya temanku, Itu Rendra, si tangan kidal suka petik sinar gitar yang lagunya selalu melow.

BACA JUGA :   Aku

Iya ya. Siapa aku? Aku tahu, aku ini adalah seorang juru parkir yang menghais rejeki seribu dan dua ribu dalam sehari.

Rendra benar, aku ini hanya juru parkir. Tapi aku punya harga diri kan.

Aku marah dengan bahasa Rendra itu, apalagi dia belum pernah mencicipi puncak berpacaran.

Dengan geram, aku menulis surat dan mengembalikan sendal pemberiannya. Aku berharap Rendra bisa mengantarkan beban di dada ini ke Shintia melalui surat ini.

Iya hanya lewat surat karena memang aku tak punya Handphone. Jangankan yang Android, handphone kayu pun tak punya.

Apalagi kalau punya handphone, bagaimana dengan biaya pulsa segalah, beribet kan.

Shintia, Wahai kekasih ku. Aku melihat semua itu, kau menghampiri ku saat sakit ku kian pulih. Kini kau datang dengan gebetanmu seorang bapak-bapak yang sudah bauh tanah.

Ku titipkan surat ini melalui rendral untuk mu sembari aku kembalikan sendal yang kau berikan di jalan Ahmat Yani.

Ijinkan aku untuk tidak lagi memanggil mu kekasih, karena memang kau bukan kekasih ku.

Namun, apa yang kau berikan kepada ku di waktu siang bolong itu sebuah penghinaan.

Aku kembalikan sendal mu dan Biarkan aku pakai sendal kusam ku.

Inilah aku, apa adanya. Karena aku ingin menjadi diriku seperti apa diri ku ini.

Paskalis (49)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: