Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Perasaan yang Tak Tersampaikan

https://pixabay.com/id/photos/tic-tac-toe-jantung-permainan-kapur-1777859/

Bab 4 : Perasaan yang Tak Tersampaikan

Aku tidak mengerti tentang satu hal, kenapa semua gadis di kelasku selalu mengusik diriku. Mereka sungguh pengganggu yang ingin aku singkirkan. Aku sampai heran, sebenarnya apa yang membuat mereka tertarik kepadaku?.

Padahal, aku hanya seorang pria biasa-biasa saja yang tidak memiliki keistimewaan apa pun. Terutama gadis yang bernama Ira, aku sungguh tidak suka kepadanya. Dia dan teman-temannya selalu saja menggangguku. Tadi saja sewaktu di kantin, dia menatapku dengan genitnya, teman-temannya juga ikut-ikutan.

Mereka sungguh perempuan yang tidak punya rasa malu sama sekali. Aku tahu mereka sedang menggodaku, tapi aku sengaja bersikap pura-pura tidak tahu. Rencananya aku tadi mau makan di kantin, namun karena ada Ira dan teman-temannya, selera makanku jadi hilang. Jadi, lebih baik aku pergi saja dari sana.

“Mereka semua sungguh seorang pengganggu, berani sekali mereka bicara seperti itu padaku. Untung saja mereka perempuan, kalau pria sudah aku hajar dari tadi.” gumamku dalam hati.

Sewaktu aku mau meninggalkan kantin, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan sesosok perempuan yang pernah mencipratkan air ke wajahku. Perempuan itu sedang duduk seorang diri di sebelah tempat duduk Ira dan teman-temannya. Ia tengah sibuk menyantap makanan paginya. Entah mengapa ketika melihat dirinya aku merasakan perasaan aneh. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku?. Baru kali ini jantungku berdegup kencang saat melihat seorang perempuan. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?.

“Ayo, ajak bicara dia. Mumpung dia lagi sendirian. Beranikan dirimu,” aku mencoba menyemangati diri sendiri.

Setelah melewati perang batin yang begitu sengit, akhirnya aku kembali ke dalam kantin untuk menghampirinya. Walaupun aku merasa gugup, aku tetap melangkah maju.

Begitu aku berdiri di hadapannya, mendadak raut wajahku berubah menjadi pancaran kebahagiaan. Aku terus saja memandanginya sampai lupa untuk mengajaknya bicara. Dia juga balik memandangiku, tapi dengan tatapan wajah yang aneh. Aku berpikir mungkin dia terkejut melihat diriku yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Tidak ada yang memulai berbicara, kami berdua hanya sibuk memandang satu sama lain dalam kesunyian.

“Aku harus memulainya lebih dahulu, tapi apa yang harus aku katakan kepadanya. Oh, aku benar-benar bingung,” seruku dalam hati.

BACA JUGA :   Asal usul kota Majalengka

Ketika aku melihat kue yang ada di tangan kananku, tiba-tiba saja mulutku membuka dengan sendirinya.

“Ini, kue untukmu,” kataku secara spontan.

“Benar, ini untukku?,” tanya si anak perempuan itu.

“Iya, makanlah, sampai jumpa,” jawabku kepadanya.

Karena bingung tak tahu harus berkata apa lagi, aku pun pergi meninggalkannya. Suasana di kantin sedang tidak mendukung untuk melanjutkan pembicaraan kami. Sebab, Ira dan teman-temannya terus saja mengganggu dengan suara berisiknya. Seandainya saja mereka tidak ada di sana, mungkin sekarang kami sudah menjadi teman akrab.

“Maaf, aku harus pergi. Waktunya tidak tepat untuk kita berdua. Maafkan aku,” gumamku dalam hati sembari berjalan menuju pintu keluar kantin.

Langkah kakiku terasa berat sekali saat keluar dari kantin, aku sampai menghela napas beberapa kali karena memikirkan perbuatan bodohku tadi.

“Payah, kenapa kau lakukan itu? Dia pasti berpikiran jelek tentangku. Sudahlah, nanti aku akan minta maaf kepadanya jika bertemu lagi,” ujarku sambil mengaruk-garuk kepala.

Mendadak aku dikejutkan oleh kehadiran Dani sahabatku dari arah belakang. Dia menepuk punggungku hingga aku kaget dibuatnya.

“Rori, Bro! Sedang apa sendirian di sini?” tanya Dani penasaran.

“Nggak sedang apa-apa, kok. Kamu sendiri sedang apa?” tanyaku balik.

“Aku tadinya mau langsung masuk kelas, tapi karena aku melihat dirimu di sini, ya aku samperin. Ngomong-ngomong, kenapa kamu garuk-garuk kepala tadi?” tanya Dani penasaran.

“Gatal. Kepalaku gatal, makanya aku garuk-garuk. Kenapa, ada masalah buatmu?” jawabku ketus.

“Jangan galak-galak dong, Rori. Aku kan cuma tanya saja. Ah, aku mengerti sekarang, apa karena mereka kamu kesal?” kata Dani sambil melihat Ira dan teman-temannya di kantin.

“Ya, pagi-pagi mereka sudah membuatku kesal.”

“Sabar, jangan marah-marah gitu. Wajar mereka mengagumimu, karena kau itu selebriti di sekolah ini. Siapa yang tidak tahu Rori, pria tampan, alim, pintar, dan anaknya Ustadz.”

“Kamu itu ngomong apa sih?. Udah ah, aku mau ke kelas,” aku pergi meninggalkan Dani yang berdiri di depan kantin.

“Eh, Rori tungguin dong!”

Jam pelajaran pertama di kelasku adalah olahraga. Aku sangat senang karena ini merupakan mata pelajaran favoritku, apa lagi kalau pelajarannya itu tentang sepak bola, aku akan semakin bersemangat. Aku berharap Pak Ahmad membebaskan kami melakukan olahraga yang kami suka di hari pertama mata pelajaran ini.

BACA JUGA :   Masa lalu

Dan benar saja, dugaanku benar. Setelah pemanasan, Pak Ahmad mempersilahkan kami bebas melakukan apa saja, asal tidak ke kantin sebelum jam istirahat dimulai.

“Untuk hari pertama ini, Bapak bebaskan kalian melakukan olahraga yang kalian sukai. Tapi ingat, jangan coba-coba ke kantin saat jam pelajaran masih berlangsung. Jika nanti saya tahu ada yang ke kantin, siap-siap saja push up di tengah lapangan ini. Kalian mengerti?” ujar Pak Ahmad.

“Iya Pak,” sahut kami bersamaan.

“Ini ada bola sepak di tangan saya. Siapa yang mau mengambilnya?”

“Saya, Pak.”

“Oh Rori ternyata. Ini tangkap,” seru Pak Ahmad sambil melempar bolanya ke arahku.

Anak laki-laki kebanyakan lebih memilih bermain sepak bola, sementara perempuannya banyak yang duduk-duduk saja tanpa melakukan kegiatan apa pun. Yang berolahraga bisa dihitung dengan jari.

Hanya dua atau empat orang saja yang tengah bermain badminton di sebelah lapangan basket. Waktu aku mau mulai permainannya, tiba-tiba perutku sakit, aku pun meminta ijin kepada Pak Ahmad untuk pergi ke toilet.

“Pak, saya ijin ke toilet. Tiba-tiba perut saya mules,” ijinku

“Ya sudah, cepat sana, jangan lama-lama!” kata Pak Ahmad.

“Baik Pak, terima kasih.”

Aku pun bergegas menuju toilet secepat mungkin. Karena tidak bisa menahan rasa sakit di perut lebih lama lagi, aku pun langsung masuk ke toilet yang ada di dekat ruang olahraga. Akhirnya lega juga, semua kotoran di dalam perutku keluar semuanya. Waktu aku keluar dari toilet, aku terkejut melihat anak perempuan yang ada di kantin tadi berdiri di depan pintu.

“Ka ka ka ka mu sedang apa di toilet pria?,” kataku terbata-bata

“Toilet pria katamu. Kamu tidak lihat tanda yang terpasang jelas di pintu. Ini toilet untuk perempuan, bukan pria. Justru aku yang balik tanya, sedang apa kamu di toilet perempuan?,” ujar anak perempuan itu dengan marahnya.

“Oh ya ampun, karena buru-buru aku tidak melihat tandanya. Maafkan aku.”

“Sudah minggir sana! Aku mau masuk. Baru kali ini aku lihat pria lama banget di kamar mandi. Kenapa kamu lihat-lihat seperti itu?” tanya anak perempuan itu galaknya.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Kenapa Pak Guru Marah

“Nggak apa-apa kok.”

“Kalau sudah, minggir sana!” anak perempuan itu menarik diriku secara paksa untuk keluar dari toilet. Dia pun masuk dan kemudian menutup pintunya dengan cara membantingnya ke mukaku.

“Nggak perlu dibanting kali nutupnya,” teriaku kepadanya.

“Bodoh amat, pergi sana!” dia menyuruhku pergi dengan kasarnya.

Mumpung di sekitar toilet sedang tidak ada orang, ini kesempatanku untuk bertanya siapa namanya. Walaupun dia sedang kesal, aku tidak peduli, kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Pertama-tama aku tarik nafas untuk menenangkan pikiran. Setelah merasa tenang, aku pun memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Maaf, aku boleh tanya sesuatu kepadamu?” teriaku kencang.

“Aduh, apaan sih? Ganggu aja, pergi sana,” jawabnya dari dalam toilet.

“Aku mohon, ada sesuatu yang ingin sekali aku tanyakan kepadamu, aku mohon.”

“Ya sudah, apaan?”

“Namamu siapa?” tanyaku pelan.

“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak dengar apa pun.”

“Aku bilang siapa na…,” Aku tidak melanjutkan kalimatku dan pergi bersembunyi karena tiba-tiba saja ada seseorang yang datang. Aku tadi panik setengah mati karena bingung mencari tempat persembunyian yang aman.
Saat orang itu datang, untungnya aku bisa menemukan tempat persembunyian. Aku bersembunyi di balik tiang sebelah toilet. Aku melihat seorang anak perempuan lain yang datang, dia berdiri di depan pintu toilet dan kemudian berteriak kepada anak perempuan itu.

“Sudah selesai belum? Cepatlah Indri, Bu Ani memanggilmu,” teriak anak perempuan di depan pintu toilet.

“Siapa di sana?” tanya anak perempuan di dalam toilet.

“Ini aku Sofi, Indri. Siapa lagi?”

Akhirnya, anak perempuan yang ada di dalam toilet itu keluar. Dia terkejut melihat temannya yang ada di sana dan bukannya aku.

“Loh, kenapa kamu yang ada di sini?” tanyanya heran.

“Memang tadi siapa yang ada di sini?” sahut temannya yang merasa bingung.

“Sudahlah, bukan siapa-siapa, lagian nggak penting juga. Ayo, kita kembali ke kelas.”
Mereka berdua pun akhirnya pergi dari toilet.

Gagal lagi deh kesempatanku untuk berbicara kepadanya. Tapi, setidaknya aku telah mengetahui bahwa nama anak perempuan itu adalah Indri.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/tic-tac-toe-jantung-permainan-kapur-1777859/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kue Ini Sebagai Petanda

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: