Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Kue Ini Sebagai Petanda

https://pixabay.com/id/photos/hari-ulang-tahun-kue-lilin-2338813/

Bab 3 : Kue Ini Sebagai Pertanda?
Aku sangat kesal dengan semua temanku, teganya mereka menunjukku sebagai ketua kelas. Ini tugas yang berat bagiku, tapi tidak apa-apalah, mungkin sudah takdirnya.

Tugas pertamaku hari ini adalah memastikan kelas bersih sebelum pelajaran dimulai. Saat aku tiba di kelas, banyak sampah berserakan, meja guru berantakan, kursi-kursi tidak tertata dengan rapi, dan jendela kelas kotor.

Aku pun melihat ke papan mading untuk mengecek jadwal piket hari ini.

“Ayo kita lihat siapa yang piket hari ini. Ah, ternyata Rida, Sofi, Jalu, dan Abi. Aku akan telepon mereka dan menyuruh mereka membersihkan kelas. Di mana Handphoneku, ya?. Ini dia. Mari kita telepon mereka berempat,” Seruku sambil mencari nomor mereka di daftar kontakku.

Supaya lebih cepat tersambung, aku memilih panggilan video call lewat WhatsApp. Yang pertama kali muncul adalah Sofi. Dia yang paling mudah untuk dihubungi dibandingkan yang lainnya.

“Halo Sofi, Sofi cepat datang ke kelas, di sini berantakan. Hari ini jadwal kamu piket sama Rida, Abi, dan Jalu. Oh ya, kenapa mereka bertiga nggak jawab panggilan video call aku, ya?.”

“Kalo Rida pasti jam segini masih tidur, tapi kalau Abi sama Jalu nggak tahu aku. Aku nggak begitu dekat dengan mereka berdua,” jawab Sofi.

“Eh, ini Rida udah muncul. Rida, cepat datang ke sekolah. Hari ini kamu piket kelas,” ujarku kepada Rida yang terlihat masih ngantuk.

“Iya Bu ketua, siap meluncur, 86,” jawab Rida sambil menguap.

“Akhirnya Abi dan Jalu muncul juga. Eh, kalian berdua, cepat datang ke sekolah. Kelas berantakan, Nih. Kalian semua harus sampai sebelum pukul 07.00, oke. Nggak pakai lama, sekarang semuanya cepat mandi!” teriakku kepada mereka semua.

“Iya Bu ketua,” ujar mereka bersama sama.

BACA JUGA :   Kebahagiaan Bukanlah Sebuah Benda

Kelas terasa sunyi, aku jadi bosan menunggu mereka berempat datang. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi ke kantin membeli sarapan. Aku sangat menikmati suasana sekolah yang masih sepi, penuh dengan ketenangan dan kedamaian.

Namun, tiba-tiba saja ketenanganku terusik oleh segerombolan perempuan yang lagi asyik ngrumpi di kantin.

“Duh, mereka ini pagi-pagi udah ngrumpi. Ganggu ketenangan orang aja,” gumamku dalam hati sembari memakan makananku.

Karena tempat duduku bersebelahan dengan para perempuan itu, tidak sengaja aku menguping pembicaraan mereka. Aku mendengar sepertinya mereka sedang membicarakan seseorang, tapi aku tidak tahu siapa. Sebab mereka tidak menyebutkan nama dan hanya menceritakan sosoknya saja.

“Kalian tahu nggak, aku lagi terpesona sama salah satu cowok di kelas kita,” ungkap salah satu dari gerombolan perempuan itu.

“Siapa cowok itu, Ira?,” tanya salah seorang temannya.

“Itu, cowok yang duduk sama Rayhan. Aku dengar, dia anak dari salah satu guru disini, tapi aku nggak tahu siapa?”

“Kenapa kamu nggak coba ajak ngobrol dia?,” tanya salah satu teman lainnya.

“Enggak ah, masak cewek yang pedekate duluan. Malu-maluin aja. Sumpah, dia itu selain ganteng, ternyata Sholeh juga, waktu itu aku nggak sengaja lihat dia sedang baca Alquran dan suaranya itu bikin merinding. Benar benar enak didenger. Semoga dia calon imamku di masa depan.”

“Ira, Ira, lihat dia datang kemari,” ujar salah satu temannya.

Panjang umur, orang yang sedang dibicarakan pun tiba. Dia datang sambil membawakan barang-barang milik ibu kantin. Sontak saja, segerombolan perempuan itu mulai menggodanya dengan memberikan senyuman.

Tapi, dia malah memasang ekspresi wajah datar dan tak menghiraukan sapaan mereka sama sekali.

“Hai, kita satu kelas, Loh!,” sapa mereka

Ketika Bu kantin melihat anak laki-laki itu hanya terdiam dan tidak membalas sapaan para perempuan itu, ia pun langsung menepuk pundaknya dan mulai menggodanya juga.

BACA JUGA :   Jaga Lingkungan Sumatera Utara (Jalin Sumut) Sukses laksanakan Mubes I Dan Deklarasi

“Eh, itu loh disapa sama fansnya, kok diam saja,” seru Bu kantin.

“Sudahlah, nggak penting. Aku ke kelas dulu ya, Bu!. Ini barangnya sudah aku taruh di etalase semua,” jawab anak laki-laki itu ketusnya.

“Iya, terima kasih. Ini ada kue buat kamu,” kata Bu kantin memberikan kue kepada anak laki-laki itu.

“Ndak usah, tadi saya sudah sarapan di rumah.”

“Udah bawa aja, berikan saja pada temanmu yang belum sarapan.”

Saat membalikkan badannya, anak laki-laki itu terkejut melihat gerombolan perempuan itu masih saja melihatinya. Karena terganggu akan kelakuan mereka, dia pun berjalan cepat menuju pintu keluar. Tapi, tiba-tiba saja ia menghentikan langkah kakinya dan kembali lagi ke dalam kantin.

“Ira lihat, dia kembali lagi dan sedang mengarah kesini. Sepertinya dia akan memberikan kue-Nya kepadamu,” seru salah seorang dari mereka.

“Oh tidak, kenapa jantungku berdegup kencang?, bagaimana ini?,” jawab Ira gugupnya.

“Ira, dia melihat ke arahmu. Wah, sepertinya dia suka sama kamu.”

“Ah, aku nervous, Nih!. Duh, dia kesini. Teman-teman, tutupi aku, aku malu ketemu dia langsung.”

“Kenapa harus malu, Sih?. Bukannya ini yang kamu mau. Sudah, santai saja. Lihat, tinggal sejengkal lagi. Ira, aku ucapkan selamat ya untukmu.”

Teman-teman Ira berpikir bahwa anak laki-laki itu kembali ke dalam kantin untuk memberikan kue kepada temannya, tapi yang sesungguhnya adalah dia sedang berjalan ke arah meja yang ada di sebelah, yaitu meja yang aku tempati. Aku kaget melihat dia duduk sambil tersenyum ke arahku. Sontak saja, para perempuan di sebelah menatapku dengan tajam.

“Kenapa mereka menatapku seperti itu?. Ini juga, kenapa dia tiba-tiba duduk di sini, Sih?. Ganggu orang makan aja,” gumamku kesal kepada anak laki-laki itu.

BACA JUGA :   Dulu Berbagi Kamar dengan 9 Orang, Mukesh Ambani Kini Punya Rumah Termahal di Dunia dan Paling Tajir se-Asia

“Ini, kue untukmu,” kata anak laki-laki itu.

“Benar, ini untukku?,” tanyaku yang tidak yakin.

“Iya, makanlah, sampai jumpa.”

Setelah dia memberikan kue itu kepadaku, dia langsung pergi begitu saja. Aku heran kepadanya, kenapa dia malah memberikannya kepadaku, bukan ke teman sekelasnya yang ada di sampingku. Ya sudahlah, daripada tidak ada yang makan, lebih baik aku makan saja kuenya. Aku juga masih belum merasa kenyang . Saat aku mau menyantap kuenya, tiba-tiba para perempuan itu mulai mencibir diriku.

“Kenapa dia malah memberikan kuenya kepada perempuan itu?,” kata salah seorang di antara mereka dengan sinisnya.

“Sudahlah, Memang itu rezekinya dia mungkin,” ujar Ira sedikit kesal.

“Kalau aku lihat, dia biasa aja ya,” sindir mereka kepadaku secara halus.

“Lagian itu cuma kue, udah yuk kita ke kelas. Pasti dia sekarang sedang di sana sendirian. Sebaiknya kita temani dia.”

“Yuk teman-teman, kita ke kelas,” ujar salah seorang dari mereka.

Para perempuan itu pergi dari kantin sembari menatapku dengan sinis.

“Hai, Indri, ternyata kamu disini. Dari tadi kami mencarimu. Indri, Indri, woi Indri!” Ujar Sofi sembari menyadarkanku dari lamunan panjang.

“Eh, apa?” jawabku kaget.

“Kamu lagi mikirin apa sih sampai melamun gitu?” tanya Rida.

“Nggak, nggak ada apa-apa, Kok.”

“Ngomong-ngomong, kamu dapat kue cantik ini dari siapa?” tanya Rida lagi.

“Entahlah, tadi ada anak laki-laki yang memberikan ini kepadaku. Tapi aku nggak kenal siapa dia. Kalau kalian mau, makanlah, tidak apa-apa.”

“Cie, pasti anak laki-laki itu….” goda Rida.

“Apaan sih, nggak ada apa-apa. Sudah, kita kembali ke kelas aja,” ajaku kepada Rida dan Sofi.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/hari-ulang-tahun-kue-lilin-2338813/

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: