Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Kenapa sih? Selalu Ada Pengganggu Antara Aku dan Dia

https://pixabay.com/id/photos/papan-sosok-putih-orang-rakyat-175433/

Bab 5 : Kenapa sih? Selalu Ada Pengganggu Antara Aku dan Dia

Kembalinya aku dari kamar mandi, aku melihat temanku Dani sedang asyik makan sembunyi-sembunyi di balik pohon mangga dekat lapangan. Aku tidak sengaja memergoki dirinya di sana, ia tengah mengeluarkan kulit pisang dari dalam saku celananya.

“Dani, kok kamu udah makan? Aku laporkan Pak Ahmad biar nanti kamu dihukum ya.”

“Jangan Rori, ini aku ada satu buat kamu. Bagaimana kalau kita makan bersama?.”

“Kamu mencoba menyuapku ya? Kulaporkan KPK Lo nanti kamu.”
“Siapa yang mau menyuap? Aku cuma mau berbagi pisang ini denganmu. Ya masa Cuma ngasih pisang ditangkap KPK.”

“Aduh ini anak gak bisa di ajak bercanda. Aku hanya bercanda Dani. Mana mungkin KPK mau menangkapmu hanya karena masalah satu buah pisang. Kamu itu polosnya kebangetan, ya! Yang aku maksud, kamu memberiku pisang ini agar aku tidak melaporkanmu ke Pak Ahmad, iya kan?.”

“heheh, iya. Jangan laporkan aku ya Rori!.”

“Iya, nggak akan aku laporkan kamu, tapi untuk sementara ini pisangnya aku amanku dulu darimu. Nanti setelah masuk jam istirahat, kamu bisa mengambilnya dariku. Mengerti anak pintar?.”

Dani menganggukkan kepalanya sambil memasang muka cemberut kepadaku. Ia pun setuju dengan ucapanku dan tidak jadi memakan pisangnya. Aku menyuruh Dani untuk kembali ke lapangan lebih dulu, sementara aku kembali ke kelas untuk menaruh makanannya ke dalam tasnya. Ketika aku hendak berjalan menuju ruang kelas, tiba-tiba telingaku mendengar suara pantulan bola basket dan gelak tawa perempuan yang sepertinya tidak asing bagiku.

“Aku seperti mendengar suara perempuan itu,” Aku pun mulai melihat ke sekeliling untuk mencari asal suaranya.

Ternyata, sumber suara itu berasal dari lapangan basket di belakang kelasku. Lapangan basket di sekolahku itu ada dua, yaitu indoor dan outdoor. Yang outdoor ada di sebelah lapangan sepak bola, sementara yang indoor bersebelahan dengan ruang kelasku dan kantor guru.
Senang rasanya aku bisa melihat Indri lagi.

BACA JUGA :   Laporan Tentang Luka Dan Masa Lalu

Baru tahu aku kalau dia pandai sekali bermain basket. Dia selalu berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring berkali-kali. Aku begitu terpukau melihat kemampuannya itu, ingin sekali aku mengajaknya bermain basket bersama, pasti seru kalau bisa bermain dengannya.

“Wah, dia hebat sekali. Coba saja aku bisa bermain dengannya. Tunggu dulu, dia sedang sendirian sekarang, Ini kesempatanku untuk dekat dengannya. Baiklah, ayo beranikan dirimu. Jangan gagal lagi,” seruku dalam hati.

Saat aku mulai melangkahkan kaki kananku, tiba-tiba saja ada gerombolan perempuan datang dari arah ruang guru. Betapa terkejutnya aku melihat mereka, aku pun langsung pergi dari sana dan mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Indri. Sedih rasanya tidak bisa menemuinya, padahal dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku kesal, kenapa setiap kali aku punya kesempatan, selalu saja ada pengganggu yang datang, entah itu temanku atau temannya.

Tak bisakah mereka memberiku sedikit waktu untuk bicara berdua saja dengan Indri?, walau itu hanya satu menit saja. Tak apalah aku mengalah hari ini, mungkin di lain hari aku akan dapatkan kesempatan itu lagi.

Saat aku membalikkan badan, aku terkejut melihat temanku Dani berdiri di hadapanku. Raut mukanya seperti menunjukkan rasa kecurigaan besar kepadaku.

“Hayo Rori, kamu lihat apa tadi?” tanya Dani curiga.

“Kenapa sih? Aku nggak lihat apa-apa kok. Kamu sendiri sedang apa di sini?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraannya agar Dani tidak bertanya hal-hal aneh kepadaku.

“Aku ke sini untuk meminta pisangku kembali. Katamu kalau sudah masuk jam istirahat aku boleh memakan pisangnya. Sekarang, Mana pisangku, Rori?”

“Kalau soal makanan saja kamu ingat. Nih, pisangmu.”

BACA JUGA :   Terhanyut di Kegelapan

“Terima kasih sahabatku. Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Sedang apa kamu di lapangan basket ini? Aku perhatikan dari tadi kau sepertinya sedang melihat sesuatu. Apa yang kau lihat tadi? Tunjukkan kepadaku Rori! Aku sungguh penasaran.”

“Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Ayo pergi!”

“Aku mengerti sekarang, kamu pasti sedang memperhatikan salah satu perempuan yang ada di sana, iya kan? Jawab. Wah, sahabatku ini sepertinya sedang masuk masa puber nih ye. Siapa yang lagi kamu taksir, katakan padaku Rori, barangkali aku bisa membantumu berkenalan dengannya.”

“Aku sedang tidak naksir siapa-siapa. Jangan ngaco kamu, Dan! Udahlah, aku mau ganti baju.”
Aku berpikir mungkin Dani sudah melihat semuanya tadi.

Sepertinya ia tahu siapa perempuan yang aku lihat, tapi aku tahu dia berpura-pura tidak melihat apa pun. Aku sangat mengenal sahabat karibku ini. Kalau dia sudah mendapat satu rahasia, dia pasti akan membocorkannya kepada siapa pun, itulah makanya aku mencoba merahasiakannya dari Dani.

Dia itu tipe orang yang tidak bisa menjaga rahasia sama sekali.

Bayangan Indri selalu terbayang di benakku. Aku selalu mengingat kemarahannya kepadaku sewaktu di toilet tadi. Memikirkannya, aku sampai senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Apalagi waktu itu pas pelajaran matematika dari ayahku sendiri, aku tidak bisa fokus menerima pelajaran darinya karena melamun memikirkan kejadian itu.

Melihat tingkahku yang aneh, ayahku langsung menghampiri tempat duduku dan menjewer telingaku sekencang mungkin.

“Anak bandel, bukannya memperhatikan pelajaran malah sibuk melamun,” kata ayahku sambil menjewer telingaku.

“Aduh sakit ayah, lepaskan! Nanti telingaku bisa copot. Ayah, lepaskan, sakit tahu.”

“Kalau nggak mau dijewer sebaiknya kamu perhatikan pelajaran dengan baik.”

“Dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, Pak!” Sela Dani mengejekku.

“Apa benar itu Rori?” tanya ayahku menatapku dengan mata tajamnya

BACA JUGA :   Belajar Bahasa Inggris: Little Star From Paper

“E e e enggak, Dani cuma bercanda. Jangan percaya perkataannya, Yah! Dia berbohong, aku nggak suka sama siapa-siapa, kok.”

“Bohong dia Pak Zaid. Lihat saja wajahnya memerah gitu, aku sudah mengenal Rori dari kecil. Aku hafal sekali kalau dia sedang menyukai seseorang pasti wajahnya memerah.”

“Kamu itu ngomong apaan sih, Dan,” kataku kesal sambil melemparkan kertas ke arah Dani.

“Kalian berdua hentikan! Dani, maju ke depan dan kerjakan nomor terakhir,” ujar ayahku yang melerai pertikaian antara diriku dengan Dani.
Ayahku kemudian melepaskan jewerannya dan mulai membisikkan sesuatu ke telingaku.

“Jatuh cintanya nanti saja ya kalau kamu sudah benar-benar dewasa. Sekarang, fokus pada pelajaranmu. Sekarang, kerjakan soal yang ayah berikan. Kalau sampai ayah melihatmu melamun lagi waktu jam pelajaran, ayah akan bilang kepada ibumu nanti di rumah. Mengerti?”

“I i I iya ayah,” jawabku terbata-bata.

Ibuku jauh lebih menakutkan dibandingkan ayahku kalau soal hukum menghukum. Dia tidak segan-segan akan memukuliku jika tahu aku melamun pada saat jam pelajaran tengah berlangsung.

Kesalahan kecil mungkin bisa dimaafkan olehnya, tapi jika anaknya sampai bermasalah di sekolah, jangan harap bisa mendapatkan ampunan darinya. Makanya aku sangat takut ketika ayah akan memberitahu Ibu mengenai masalah ini.

Siapa pun orang yang melihat ibuku pasti akan terkecoh, dari luar memang terlihat seperti wanita lemah lembut, tapi kalau sudah mengenalnya lebih lama, sifat galaknya akan lebih sering muncul. Ayahku saja sampai takut kepada ibuku, apalagi aku yang anaknya.

Sifat ibuku itu sama persis seperti Indri, itulah yang membuatku sangat menyukai dirinya. Indri selalu mengingatkan diriku akan kasih sayang ibuku.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/photos/papan-sosok-putih-orang-rakyat-175433/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Perasaan yang Tak Tersampaikan

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: