Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Asmara Dua Kasih Di Tepi Sungai

https://pixabay.com/id/illustrations/fantasi-bulan-gadis-malam-5316369/

Saat Bus melaju kencang di tengah macetnya kendaraan, Ririn mencoba mengambil surat berharganya yang jatuh di jalan raya. Belum sampai tangannya menyentuh surat itu, Bus datang menghempaskan tubuhnya ke udara. Orang-orang histeris melihat kejadian itu.

Banyak darah tercecer di mana-mana, dan tubuh Ririn hilang tersapu banjir di sungai dekat jalan raya. Tim SAR dan beberapa orang sedang berusaha mencari jasadnya, tapi tak ada yang bisa menemukannya.

Pencarian sudah berlangsung selama satu minggu, namun tetap belum membuahkan hasil.
Tunangan Ririn bernama Adam, sampai marah kepada Tim SAR.

“Apa yang sudah kalian lakukan? Sudah hampir satu minggu aku bersabar menunggu kabar dari kalian, tapi apa yang kudapat, kosong, jasad kekasih tidak juga ditemukan. Apa kerja kalian selama ini?,” teriak Adam di depan Tim SAR sambil marah-marah

“Sabar Pak, kami sedang mengusahakan yang terbaik,” jawab salah satu anggota Tim SAR.

“Sabar, sabar, sabar, dari kemarin kalian hanya bisa bilang sabar. Aku tak tahan lagi. Rasakan ini.”

Adam memukul salah satu anggota Tim SAR yang berdiri tepat di depannya. Akibat pukulan kerasnya, wajah salah satu anggota Tim SAR yang dipukulnya itu mengeluarkan darah. Anggota yang lain hampir saja tersulut emosi untuk memukuli Adam, tapi untungnya ada polisi yang mencegahnya.

“Woi pak, berani sekali kau memukulnya. Teman-teman ayo kita hajar dia,” ujar anggota Tim SAR yang lain

“Jangan main hakim sendiri. Ini perbuatan melanggar hukum. Cepat bubar, bubar aku bilang,” Seru sang polisi.

“Ayo kita bubar kawan-kawan, tidak usah meladeni orang yang tidak bisa menghargai kerja keras kita.”

“Sudah, pergi sana, memangnya siapa yang butuh bantuan kalian. Aku bisa mencari jasad kekasihku sendiri. Aku tidak peduli. Pergi sana!” kata Adam marah.

“Bapak sebaiknya pulang, nanti kami akan mencoba membujuk Tim SAR agar mau melanjutkan proses pencarian,” kata sang polisi.

“Hah, tidak perlu. Aku tidak butuh bantuan mereka lagi. Pergi sana, aku bisa melakukannya sendiri.”

“Terserah Anda saja,” jawab polisi kesal sambil meninggalkan Adam seorang diri di tepi sungai.

Tiba-tiba cahaya matahari siang tertutup awan hitam, langit yang tadinya cerah sekarang berubah menjadi mendung. Titik-titik air mulai jatuh secara perlahan-lahan ke bumi, lama kelaman mereka datang secara bergerombol memenuhi seisi bumi. Di bawah derasnya air hujan, Adam tetap melanjutkan pencarian jasad kekasihnya.

“Turunkan saja hujan, aku tidak peduli. Aku hanya ingin kekasihku kembali. Cepat kembalikan dia kepadaku. Aku tidak akan menyerah sampai kutemukan jasadnya. Kau dengar aku Tuhan. Jika kau memang mencintai hambamu ini, maka tunjukan keajaibanmu sekarang.”
Adam berteriak kepada langit yang sedang mengeluarkan sambaran kilatnya.

Orang-orang yang lalu lalang di jalan raya sampai mencemooh dirinya karena tingkahnya yang aneh itu.

BACA JUGA :   AKU BERPIKIR MENGAPA AKU HARUS BERPIKIR

“Lihat orang itu, sepertinya dia sudah gila,” kata salah seorang yang lewat.

“Iya, ih ngeri. Sudah kita tinggalkan saja dia,” seru orang lainnya.

Adam tahu mereka semua tengah membicarakannya, namun ia tidak peduli dan terus melanjutkan pencarian sampai larut malam. Seluruh tubuhnya sudah dibasahi oleh air hujan, matanya mulai bengkak kehitaman, dan langkah kakinya mulai melemah karena sudah tidak kuat lagi berjalan di aliran arus sungai yang semakin deras.

“Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Ririiiiiiiiin, kamu di mana? Maafkan aku, maafkan aku, ini semua salahku. Seandainya saja aku tidak meninggalkanmu di sini, mungkin hal ini tidak terjadi. Aku bodoh, aku memang laki-laki bodoh. Adam bodoh, kau sudah menyakiti orang yang selama ini setia kepadamu. Kau memang bodoh, kau layak mendapatkan ini semua. Tuhan, kumohon padamu, berikan aku satu kesempatan lagi. Akan aku perbaiki semuanya. Tapi, aku mohon kepadamu, kembalikan kekasihku, kembalikan dia, jangan kau ambil dia dariku. Aku tak mau hidup seorang diri lagi. Aku mohon,” pinta Adam kepada Tuhan.

Tiga hari sebelum kejadian itu, Adam dan Ririn sedang berkunjung ke toko pakaian pengantin. Mereka berdua ingin membeli beberapa baju untuk pesta pernikahan yang akan diadakan enam minggu lagi. Ririn sangat senang, karena kali ini Adam punya waktu untuk menemaninya.

“Terima kasih untuk hari ini. Akhirnya kamu ada waktu juga menemaniku berbelanja,” ujar Ririn yang duduk bersebelahan dengan Adam di dalam mobil.

“Iya sama-sama. Untung saja kerjaan di kantor nggak terlalu banyak. Jadi, daripada nggak ngapa ngapain di sana, lebih baik aku menghabiskan waktu bersamamu. Lagian, pernikahan kita kan tinggal enam minggu lagi. Aku nggak tega kalau kamu harus menyiapkannya seorang diri,” kata Adam sambil menyetir mobil.

“Kamu memang calon suami yang baik. Tidak salah aku memilihmu. Pokoknya, kita berdua harus selalu bersama sampai kakek nenek. Kamu mengerti, Adam? Tidak akan kubiarkan kau pergi jauh dariku.” Ririn memeluk tangan kiri Adam kuat-kuat sebagai tanda bahwa ia tidak mau kekasihnya itu pergi meninggalkannya.

Di sela-sela pembicaraan mereka, mendadak handphone Adam berbunyi.

“Ririn, lepaskan tanganku. Sepertinya handphoneku bunyi,” kata Adam sambil meraih headset nya di bawah jok samping tempat duduknya.

Beberapa hari ini hati Ririn merasa tidak tenang, kenapa setiap kali ia menghabiskan waktu bersama Adam, pasti ada saja yang menelepon. Pernah sesekali ia mengecek handphone tunangannya itu, tapi sayangnya ia tidak berhasil karena Adam tiba-tiba saja merebutnya secara paksa dari tangannya.

Meskipun perlakuan Adam sangat buruk waktu itu, Ririn tak ambil pusing dan langsung melupakannya begitu saja.Ia tidak ingin hubungannya dengan Adam jadi rusak hanya karena masalah sepele. Kali ini pun Ririn tetap menyikapinya dengan santai.

BACA JUGA :   Cerpen Berbagi Bukan Tentang Harta

“Halo, ini siapa ya?” kata Adam.

“Ini aku Adam, Linda, dari kehidupan masa lalumu.” Linda adalah cinta pertama Adam di masa Kuliah. Waktu itu, Adam tergila-gila kepada Linda. Ia jatuh cinta setengah mati kepadanya. Pernah suatu ketika ia berani mencuri uang orang tuanya hanya untuk membelikan hadiah ulang tahun Linda.

Tapi karena status yang berbeda di antara mereka, Linda menolak cinta Adam mentah-mentah di hadapan banyak orang. Akibat kejadian itu, Adam bersedih cukup lama.
Semenjak kehadiran Ririn di dalam hidupnya, kesedihan dalam hatinya perlahan-lahan menghilang.

Mendengar suara Linda di telepon, Adam terkejut bukan main. Rasa cinta yang sudah dibuangnya dulu, kini kembali bergejolak di dalam hatinya. Tubuhnya mulai panas dingin mengingat kejadian lama terbayang kembali di benaknya.

“Adam, bisakah kita bertemu saat ini juga. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Bisakah kau menemuiku?” Linda mengajak Adam bertemu kembali setelah bertahun-tahun putus hubungan.

“Iya, aku akan menemuimu,” kata Adam pelan.

Melihat ekspresi wajah Adam yang tegang, Ririn mulai merasakan firasat buruk.

“Kenapa sikapnya aneh ya setelah menerima telepon itu?” gumam Ririn dalam hati.
Sangking bahagianya, Adam mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hubungan Adam dan Ririn yang tadinya baik-baik saja, sekarang mulai menunjukkan keretakannya.

“Adam, apa yang kamu lakukan? Kau hampir saja mau menabrak tadi. Sebenarnya siapa yang meneleponmu tadi sampai membuatmu seperti ini? Jelaskan kepadaku? Apa yang terjadi? Jangan diam saja. Adam, bicaralah!” kata Ririn yang mulai menangis.

Tiba-tiba saja Adam menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Ririn, turun dari mobil sekarang,” teriak Adam kepada Ririn.

“Kenapa kau berteriak seperti itu kepadaku? Apa salahku? Bukankan kita mau pergi melihat gaun pernikahanku. Lalu kenapa kau menyuruhku turun?.”

“Ririn, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Sebaiknya, kita batalkan saja pernikahan ini.”

“Adam, bagaimana kamu bisa bicara seperti itu? Tidak, aku tidak mau membatalkan pernikahan ini. Kita harus tetap menikah, titik.”

“Terserah. Pokoknya aku mau membatalkan pernikahan kita. Keluar kau!” Adam mendorong Ririn keluar secara kasar hingga menyebabkan kakinya terbentur aspal jalan.
Setelah meninggalkan Ririn seorang diri jalanan, Adam pun pergi menemui Linda di rumahnya.

Sesampainya di sana, Adam langsung memeluk Linda sangat erat. Semua rindu yang terpendam dalam hatinya selama ini, akhirnya bisa terlampiaskan juga.

“Kau tahu, aku sangat merindukanmu, benar-benar merindukanmu. Jangan pergi dariku lagi, mengerti!”

“Adam, kamu ini apa-apain sih. Lepaskan aku!” Linda memegang tangan Adam dan kemudian mendorongnya ke lantai.

BACA JUGA :   Miris, Wisata Kebon Kembang Cikampek Kumuh dan Terbengkalai

“Aku mengajakmu bertemu bukan untuk membahas masa lalu kita. Aku hanya ingin memberikan undangan pernikahan ini kepadamu.”

Saat Linda menyodorkan undangan pernikahannya, muka Adam mulai memerah padam.

“Kamu mengajakku bertemu hanya ingin menyerahkan ini?” jawab Adam.

“Iya, aku mau menikah bulan depan. Aku harap kamu datang ya ke pernikahanku.”

“Kamu tetap saja seperti dulu, tidak berubah. Dulu kau permalukan aku di depan umum, dan sekarang…” Adam langsung teringat Ririn dan pergi meninggalkan rumah Linda.

Sementara itu, Ririn sedang duduk termenung seorang diri di pinggir jalan. Hatinya benar-benar hancur setelah Adam memutuskan pernikahannya secara mendadak.

Air matanya tak henti hentinya mengalir deras membasahi wajahnya. Ia terus melihati foto-foto Adam di dalam handphonenya.

Mencoba mengingat kembali masa-masa indah bersama kekasihnya itu. Ririn ingat kalau Adam pernah menuliskan surat kepadanya, tapi ia lupa untuk membacanya. Ia pun mencarinya di dalam tas.

“Di mana surat yang ditulis oleh Adam untukku ya? Seingatku aku simpan di dalam tas ini. Ah, ini dia,” Seru Ririn sambil membuka amplop suratnya.

Belum lama ia memegang surat itu, tiba-tiba saja angin menerbangkannya dan menjatuhkannya di tengah jalan raya. Tanpa mempedulikan padatnya arus lalu lintas, Ririn langsung berlari ke tengah jalan. Mobil-mobil yang melintas terus membunyikan klakson kepadanya, namun ia tidak peduli sama sekali. Ketika tangannya hampir menyentuh ujung kertas surat itu, mendadak bus besar menabraknya dan menghempaskan tubuhnya ke sungai.

Setibanya Adam di lokasi kejadian, ia kaget melihat banyak orang berkerumun di tepi sungai. Ia pun langsung menghampiri kerumunan itu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Pak, kenapa semua orang berkerumun di sini, apa telah terjadi sesuatu?,” tanya Adam.

“Ada seorang wanita tertabrak bus dan tubuhnya terhempas masuk ke dalam sungai. Sekarang tim SAR sedang mencari jasadnya. Oh iya, tadi dia mencoba mengambil kertas ini,” jawab salah seorang pria sambil menyerahkan sebuah kertas kepada Adam.

“Ini kan, surat yang aku tulis untuk Ririn. Jadi, perempuan yang tertabrak itu, Ririn. Tidaakkkkkk, Ririn!” teriak Rudi yang mau masuk ke dalam sungai.

Mengingat semua kesalahan yang telah di perbuatnya itu, Adam mulai dihantui rasa penyesalan yang mendalam atas kematian Ririn. Kenangan akan kematian itu terus terbayang dalam pikirannya hingga usia senjanya.

Setiap hari ia selalu mengunjungi sungai itu guna mengenang kekasihnya yang telah tiada. Setelah kematian Ririn, Adam memutuskan tidak menikah dan memilih mengabdikan hidupnya untuk menjaga sungai tempat Ririn meninggal.

Sumber gambar :
https://pixabay.com/id/illustrations/fantasi-bulan-gadis-malam-5316369/

Baca juga :

Cerita Cintaku : Kenapa sih?, Selalu Ada Pengganggu Antara Aku dan Dia

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: