Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Rehabilitasi Sosial,Sebuah Kebutuhan Bagi ABH dan Keluarga

Sebut saja namanya Amor, bulan kemarin tanggal 30 baru genap 16 tahun. Kini dia harus berhadapan dengan polisi karena melanggar pasal 365 KUHP, tentang pencurian dengan kekerasan.

Anak kelahiran Jayapura itu bersama temannya terbukti bersalah melakukan tindakan penjambretan di kawasan Hamadi, Jayapura Selatan.

Ketika anak Amor berumur 9 tahun, ibu Clara seorang diri mengasuh dan merawat anak amor dan adiknya serly. Bapak dan Ibu sering kali terjadi konflik dalam keluarga hingga terjadi kekerasan dalam rumah tanggah (KDRT).

Hal itu menyebabkan mereka memilih untuk berpisah dan mulai saat itu bapak Amor tidak lagi peduli kepada anak-anaknya.

Kini, Anak Amor dan Sarly lebih dekat bersama ibu mereka dan keluarga besar lainnya di Kolofkam, Gurabesi. Sedangkan bapaknya sudah pindah tempat tinggal di Polimak, Ardipura.

Anak Amor berijazah Sekolah Dasar (SD) dan sempat melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, ia mulai bergaul bebas tanpa diketahui Ibu Clara dan akhirnya keluar sekolah.

Anak Amor mulai merokok, membuat Tatto di sekucur tubuhnya, belajar balap motor dan melakukan penjambretan, serta beragam tindakan pencurian hingga tindakan kriminal dilakukannya.

Selain itu, saat ada uang dan bila bersama teman saat
maka mereka sering menunggak minum minuman yang mengandung alcohol, serta memakai Narkoba jenis ganja.

Tindakan negatif bersama teman dilakukan, hingga ke sini sudah berulang kali dan menjadi kebiasaan.

Pada bulan September 2021, anak Amor bersama rekannya kembali melakukan tindakan penjambretan dan harus berhadapan dengan hukum. Dan warga masyarakat menyerahkan anak ini ke Polresta Jayapura untuk mempertanggung jawabkan atas percobaan tindakan penjambretan di kawasan Hamadi dekat lapangan.

Awalnya Amor meminjam motor merek Beat milik keluarganya, dengan alasan mau jalan-jalan ke arah Hamadi, Jayapura Selatan.

Anak Amor bersama temanya mengemudi motor jenis Beat melewati jalan Hamadi dan melihat korban sedang melintas dan menaruh Handphone merek ViVo di Dashboard motor.

Setelah melihat, mereka mengikuti korban dari belakang hingga sampai di depan lapangan Hamadi. Saat itu anak Amor membawah motor dengan kencang dan mencoba mendepetkan motor mereka ke motor korban dan teman amor langsung mengambil Handphone milik korban di dashboard motor Beat.

Namun peristiwa ini tidak sampai disitu, korban mengejar dua pelaku anak ini hingga jarak 100 meter kedepan dan menabrak pelaku dari belakang.

Anak Amor berhasil mengangkat motor dalam keadaan hidup dan melarikan diri dari kejaran warga yang ada di lokasi.

Dari situ dia langsung pulang ke rumahnya di Kolofkam.
Sedangkan teman Amor dapat di ringkus di lokasi kejadian.

Setelah ada laporan warga bahwa anak Amor terlibat dalam kasus penjambretan di depan lapangan Hamadi, warga pun membawahnya ke polresta Jayapura untuk mempertanggung jawabkan masalah yang dia bersama temannya lakukan.

Anak Amor keadaan fisik kurang sehat, dia memiliki beberapa luka di kaki dan tangan yang sudah membengkak dan infekasi, dan nampak dia memiliki fisik yang kurus, berambut besar tidak di urusi, serta jarang mandi. Dia berjalan agak sedikit pincang dikarenakan kakinya ada luka dan tumbuh biji kelir, di pergelangan kaki dan tangan.

BACA JUGA :   Mabuk, Anak Pelajar Merusak Mako Pos Polisi Angkasa

Luka-luka di tangan sebelah kiri, dan kaki lutut hingga tumit tersebut karena akibat jatuh dari motor saat melakukan percobaan penjambretan di daerah hamadi. .

Anak Amor memiliki kebiasaan buruk seperti bergadang, minum minuman keras, dan memakai Narkoba. Membuat dia mengalami sakit Malaria, sakit Lambung dan memiliki badan yang kurus.

Dan saat kejadian percobaan penjambretan di daerah Hamadi, menyebabkan luka-luka di sekujur tangan dan kaki bagian kiri dan kanan, setelah di tabrak korban dari belakang.

Anak Amor merasa menyesal atas perbuatanya yang sudah membuat Ibunya menjadi susah dengan tingkah laku anaknya itu. Namun, atas kejadian yang baru saja terjadi ia ingin berubah dan ingin kembali ke rumah orangtua dan dia juga ingin mengikuti pelatihan kerja.

Anak Amor masih trauma ketika kejadian yang membuat sekujur tubuhnya luka-luka terutama di tangan dan kaki bagian kiri dan kanan mengalami luka-luka dan ia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tidak terpuji yang membuat Ibunya merasa malu dan bersedih.

Agresif Anak Amor tidak terlalu menonjol akan tetapi anak semakin dewasa dan sesuai dengan umurnya. Dia juga agak pendiam dan mudah terpengaruh sama teman yang lebih besar darinya. Anak Amor dapat di ajak berkomunikasi dengan baik.

Ketika dia mempunyai uang maka akan berbagi kepada keluarga dan teman, walau pun uang tersebut apakah itu halal atau tidak halal.

Dia pun kooperatif bersama warga menyerakan diri untuk di tahan. Dia dapat bersosialisasi dengan teman seumuran dan bergaul dengan teman sebaya dan yang lebih kecil, bahkan yang lebih besar darinya.

Anak Amor tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tahanan, karena ada batasan-batasan khusus dalam tahanan Polsresta kota.

Anak Amos memiliki rasa percaya diri yang kurang terutama dalam menilai dirinya ,anak mengaggap tidak memiliki hal yang dibanggakan terhadap dirinya setelah kasus menimpa dirinya dan ia merasa telah mengecewakan harapan orang tua.

Selama di tahanan, anak menunjukkan ucapan tidak kasar ,hal ini terlihat ketika dia berbicara dengan teman maupun dengan pihak kepolisian.

Selama dalam proses layanan anak menunjukan sikap dan perilaku yang sopan yang sesuai dengan aturan tahanan, anak akan mendengar dan menatap dengan sesama jika teman atau petugas mengajak berbicara, anak selalu menujukkan perilaku yang baik.

Anak Amor perlu di bina agar memiliki tanggung jawab yang baik bagi dirinya, keluarga dan masyarakat dengan taat mengikuti norma-norma positif di masyarakat dan secara hukum.

Anak Amor telah mengakui dia bersalah beberapa kali melakukan tindakan yang merugikan orang lain menjadi korban dan meminta maaf serta tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Keluarga dan Anak Amor beragama Kristen Protestan. Orangtua tidak memberikan contoh yang baik sehingga anak Amos Mansawan tumbuh dan berkembang di luar gereja.

BACA JUGA :   Cerbung: Perempuan-Perempuan Metropolitan

Anak Amor merasa cemas dengan kasus yang dihadapinya sampai dia di tahan.
Dia merasa bersalah dan berdosa terhadap ibunya yang selama ini membesarkan dan menyanyangi dirinya.

Dia merasa cemas dengan masa depannya karena dirinya sudah banyak berbuat dosa sehingga dia membutuhkan pelayanan;
Pemeriksaan psikologis dan konseling dengan intensive.
Pendampingan Biopsikososial selama dalam proses layanan rehabilitasi.

Memberikan motivasi belajar agar Anak Amor mengikuti program pelatihan Life Skill.
Pemeriksaan kesehatan ,bimbingan kecerdasan dan pendidikan. Selain itu juga dia merlukan bimbingan fisik,mental dan disiplin,terapi individu dan kelompok.

Anak Amor menyadari kesalahannya dan akan berusaha untuk lebih hati–hati. Rasa penyesalan yang mendalam dan Keinginan dan motivasi yang kuat untuk memikuti pelatihan life skill. Rasa tanggung jawab dan cinta kepada ibunya dan adik Serly.

Kini orangtunya sudah mengetahui perbuatan anak mereka melakukan tindakan berhadapan dengan hukum.

Lantara karena perilaku anak ini yang sudah kelewatan batas membuat keluarga sudah tidak mau mengunjungi atau sudah tidak ada kepedulian sama sekali terhadap dirinya.

Namun, Saat pekerja sosial mengunjunginya, dia ingin sekali membahagiakan Ibunya dan Adik Sarly dengan cara ia ingin berubah menjadi anak yang baik dan tidak lagi melakukan tindakan negatif dan ingin mengikuti pelatihan life skill dari Dinas Sosial.

Tetangganya menyampaikan, kehidupan anak ini sangat memperihatinkan. Dia hidup sesukan hati dengan bergaul kepada siapa saja dan melakukan tindakan tidak terpuji.

Kebiasaan buruk di lingkungan sosial yang mereka lakukan adalah ; suka minum- minuman keras, memakai Narkoba, dan kegiatan negatif lainnya yang membuat orang lain menjadi susah.

Dia bergaul bebas dengan orang dewasa yang sering mempengaruhi adek-adek kompleks untuk melakukan tindakan yang negatif.

Penyebab terjadi beragam kasus karena kurang mendapatkan kasih sayang dari Orangtua yang telah broken home.

Saat anak Amor duduk di sekolah menengah pertama, kebutuhan dasar sekolah tidak di terpenuji dan dia sering mencari uang dengan cara-cara yang tidak halal seperti mencuri dan menjambret. Pergaulan Anak Amor yang begitu bebas, dia sering bolos sekolah dan bermain dengan orang yang lebih dewasa darinya.

Beberapa kejadian yang Anak Amor lakukan dengan penjambretan dan tindakan pencurian lainnya dan hasil jual barang curian di pakai untuk jajan, membeli makanan dan minuman keras serta Narkoba dan berbagi ke sesama teman dan senior di kompleks.

Menurutnya, dia sudah enam kali melakukan tindakan penjambretan dan baru pertama kali dia di tangkap oleh Kepolisian.

Selama Anak Amor di tahan di Polresta Kota Jayapura, hanya sekali saja Ibu kandung mengunjunginya.

Menurut tetangganya, Ibunya sedang sibuk kerja, dan dia sudah menghubungi bapak Amor untuk mengunjungi di Polrestas kota.

Namun ayah tidak datang, begitu juga dengan ibunya yang mengabaikan surat panggilan kepolisian, padahal kehadiran orangtua sangat di nantikan anak amor dan untuk melengkapi berita acara pemeriksaan serta untuk keringanan anak dan kepentingan terbaik bagi anak ke depan.

BACA JUGA :   Naldi, Anak baik itu harus Berhadapan dengan Hukum

Anak Amor mengharapkan kasus ini cepat selesai dan ia ingin berkumpul kembali dengan ibu dan adiknya Sarly.

Pekerjaan Ibu Amor serabutan, dia lakukan apa saja dengan membantu orang pendatang untuk berjualan pakaian cakar bongkar di pasar. Keluarga Ibu tergolong keluarga sederhana, mereka tinggal bersama keluarga besar.

Permasalahan yang terjadi dikarenakan anak Amor kurang control dari orang tua sehingga dia bebas memilih teman untuk bermain dan malas sekolah. Dan kurangnya kasih sayang dari orang tua yang seharusnya ia dapatkan sejak ia kecil hingga sekarang.

Makanya, untuk mengurangi rasa kecewa sehingga anak Amor mampu menghadapi proses hukum dengan baik, diperlukan dampingan selama dalam proses hukum.

Memberikan bimbingan dan motivasi dan konseling individu selama anak ini menjalani proses hukumnya. Serta perlu ada yang menjembatani antara anak Amor dan keluarga untuk berkomunikasi.

Anak Amor membutuhkan keluarga yang utuh dan mendapatkan bimbing life skill, makanya di perlukan Pemerintah dan Swasta untuk mengkafer setiap kebutuhan.

Anak ini juga perlu mendapatkan metode dan teknik dalam pemulihan psikis dengan konsep ; Konseling individu, terapi kognitif dan terapi Realitas.

Sesuai amanat Undang-undang, No. 11. Tahun 2012 Tentang Sistem Pradilan Pidana Anak (SPPA), maka anak Amor mendapatkan pendampingan dari PK BAPAS dan Pekerja Sosial, pengacara selama proses di tingkat Kepolisian hingga persidangan.

Anak Amor mengikuti proses layanan rehabilitasi sosial sehingga berkurangnya rasa cemas dan bersalah setelah bebas dari hukum yang menjeratnya.

Dia harus menerima realita kasus yang terjadi sehingga mampu untuk bangkit dan menyongsong masa depan yang lebih baik, bila perlu mengikuti pengembangan diri di balai Sosial.

Sudah seharusnya, semua anak yang bernasib buruk seperti anak Amor di perhatikan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, melakukan pemeriksaan kesehatan dan melakukan pemeriksa psikologis serta melakukan asesmen.

Selain itu juga, melakukan konseling dan terapi realitas dengan menulis seluruh apa yang menjadi beban di dalam dirinya.

Selanjutnya dilakukan relaksasi, melakukan terapi kongnitif dan memberikan wawsan pengetahuan mengenai sebab akibat serta bagaimana menyikapi setiap permasalahan yang terjadi.

Melakukan motivasi dan support bagi setiap permasalahan yang dihadapi dan dicarikan solusinya dengan berusaha apapun hasilnya, sehingga Persoalan ini menjadikan seseorang dapat mengambil pelajaran dan memaknainya untuk lebih baik.

Dalam menjalankan pelayanan kesejahteraan sosial anak di perlukan sistem sumber baik dari pemerintah maupun pihak swasta. Sehingga dalam proses intervensi, para pendamping (Peksos) tinggal menghubungi sistem sumber dalam memberikan intervensi akan kebutuhan anak Amor.

Dengan kejadian ini, anak mengalami trauma dan diperlukan pendampingan biopsikososial hingga pendampingan dalam menjalani proses hukum. Karena anak Amor masih usia anak dan tindakan serta pemikirannya belum matang. Mereka merupakan proses menjadi dewasa dan di dalam prosesnya itu selalu dipengaruhi lingkungan sekitarnya.

Tanpa bimbingan dan arahan yang tepat, maka akan berimplikasi buruk pada tumbuh kembang anak.

Paskalis (48)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: