Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Masih Perlukah Guru?

Masyarakat hanya tahu kalau tanggal 5 Oktober diperingati sebagai hari TNI (Tentara Nasional Indonesia). Dahulu dikenal dengan hari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Maka tidak aneh kalau kemudian banyak anggota masyarakat. Baik pejabat maupun rakyat biasa. Memasang twibbon Dirgahayu TNI di profil atau memposting di akun sosial medianya.
Semua itu menunjukkan betapa bangga dan cintanya masyarakat terhadap Tentara Nasional Indonesia. TNI yang terdiri dari Angkatan Darat, Laut dan Angkatan Udara. Telah menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebetulnya tanggal 5 Oktober bukan hanya diperingati sebagai hari TNI. Akan tetapi juga diperingati sebagai Hari Guru Sedunia.
Barangkali karena levelnya peringatan sedunia sehingga tidak ada yang ‘ngeh’ dengan peringatan Hari Guru Sedunia ini.
Terlebih saat ini kegiatan pembelajaran di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, dilaksanakan dari rumah. Istilhnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR).
Semua gegara adanya pandemi covid-19. Dalam upaya mencegah penularan covid-19 yang cepat dan ganas. Maka setiap orang harus saling menjaga jarak dan tidak berkerumun. Maka semua aktivitas masyarakat dilakukan dari rumah (Work from Home atau WFH).
Sistem pembelajaran ini memungkinkan guru yang sedang mengajar tidak berada di depan kelas. Demikian pula para murid. Mereka tidak berada di ruangan kelas. Guru dan murid bisa berada di mana saja.

Kemajuan Teknologi Informasi
PJJ dapat terlaksana berkat dukungan oleh teknologi informasi (IT). Dengan kemajuan teknologi informasi memungkinkan orang di suatu wilayah berbeda, bahkan di belahan dunia manapun, dapat terhubung. Bukan hanya dalam berkomunikasi tetapi juga bertatap muka secara virtual.
Bukan hanya dunia pendidikan yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Lembaga pemerintah dan badan usaha pun memakai perangkat yang berbasis IT.
Rapat koordinasi kepala daerah atau rapat bisnis dilakukan secara online. Surat keputusan atau dokumen bisnis secara elektronik pun sah adanya.
Sementara di dunia pendidikan buku-buku pelajaran fisik sudah tidak terlalu penting lagi. Di dunia maya tersedia jutaan buku elektronik (e-book) yang dengan mudah dapat diakses oleh guru dan siswa.
Maka tidak aneh kalau kemudian muncul pertanyaan dari sebagian masyarakat. Masih perlukah guru di jaman milenial?
Tentu tidak mudah menjawabnya. Ada banyak aspek yang melingkupinya. Bukan sekedar dari sudut pandang tersedia sarana teknologi yang dapat menggantikan peran seorang guru.
Falsafah pendidikan menggarisbawahi bahwanya guru tidak sekedar mengajar dalam menjalankan profesinya. Akan tetapi juga mendidik.
Mengajar berarti sekedar mentransfer ilmu dari guru kepada murid. Sementara mendidik itu menularkan sikap dan perilaku.
Tidaklah aneh kalau semasa PJJ di mana murid belajar dari rumah dengan pengawasan orang tua. Banyak orang tua yang angkat tangan.
Menyadari bahwasanya peran guru sebagai pendidik tidak bisa digantikan. Banyak orang tua murid yang bergelar sarjana dan pintar. Tapi mengalami kesulitan untuk sekedar mendisiplinkan anaknya mengerjakan tugas sekolah saja.
Jadi tidaklah berlebihan kalau peran seorang guru masih diperlukan di era yang seba digital ini. Ada aspek yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi informasi.
Bukankah begitu?

BACA JUGA :   Legenda Sangkuriang:asal usul gunung Tangkuban perahu

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: