Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Karena Aku Wanita

Aku selalu berpikir, bahwa hanya ada rasa sakit yang akan aku alami setiap waktu. Tidak adanya dukungan apapun dari orang orang terdekat dari kecil. Selalu menjadi sumber masalah di mata orang tua dan orang lain. Ya aku berpikir kalau dunia ini tidak berpihak padaku. Di dunia ini hanya ada yang menghasilkan lah yang berharga. Pikiran ku tentang itu terus berlanjut hingga aku beranjak remaja. Bagi mereka aku hanya seorang anak perempuan yang akan menyebabkan sebuah kegagalan untuk saudara saudara ku.

Aku yang lahir sebagai seorang anak perempuan, tidak pernah merasakan keadilan yang sama seperti anak perempuan lainnya. Apapun yang aku lakukan adalah kesalahan. Bahkan kelahiran ku mungkin juga sebuah kesalahan. Untuk orang tuaku, mereka selalu menganggap ku benalu, parasit. Sungguh sedih sekali hidupku. Aku yang tidak bisa memilih untuk di lahir kan sebagai wanita atau pria, harus menanggung semua derita yang sama sekali tidak aku inginkan. Jika saja.. Jika saja aku boleh memilih, maka aku memilih untuk dilahirkan.

Ya, itulah yang aku pilih. TIDAK DILAHIRKAN!!! Kalau boleh aku mengeluh, maka aku akan mengeluh pada Tuhan. Aku akan bertanya pada-Nya “Kenapa aku dilahirkan?? Kenapa aku di beri kehidupan? Kenapa??”, pertanyaan itu akan terus aku ulang dalan doaku.

Hingga di suatu waktu, aku mulai tidak lagi sanggup untuk menahan semua rasa sakit ini. Yang pada akhirnya aku luapkan semuanya. Aku luapkan semua pertanyaan itu dihadapan kedua orang tuaku dan orang orang di sana. Pada masa itu, aku baru saja pulang bekerja. Maksut hati ingin beranjak untuk sekedar melepas penatku, sebab seharian bekerja. Tapi belum lagi aku merebahkan tubuh lelahku, tiba tiba saja suara ibuku memanggil dengan nada yang sangat keras. Aku yang mendengarnya langsung terperanjat bangun dari dudukku dan berlari menuju suara itu.

BACA JUGA :   Jadi asing

Aku berlari secepatnya dan saat akh sampai di hadapan ibuku, satu tamparan keras mendarat di pipiku. Aku yang tidak tahu menahu dimana letak salahku, seketika menangis. Aku bertanya padanya “apa salahku? Kenapa aku di tampar setibanya aku di rumah?”, dengan ringannya ia menjawab “itu semua karena kamu yang tidak mau membantu adikmu belajar”, “membantu belajar? Bukankah sudah aku ajarkan semuanya, tidakkah ibu melihatnya kemarin?”, tanyaku yang menahan tangis. “memang benar, tetapi aku mau kau melakukannya dengan sungguh sungguh”, jawabnya. “Ibu, aku sudah mengajarkan mereka dengan sungguh sungguh, aku juga memantau mereka belajar”, ucapku. “Hanya kau pantau kan? Tidak kau yang mengerjakannya?” tanya nya padaku. “iya aku pantau mereka, tentu saja bukan aku yang mengerjakannya”, jawabku lagi.

Aku yang sudah bingung akibat tamparan tak berdasar itu, bertambah bingunglah aku dengan ucapan ibuku. “Hei kau, aku menyuruhmu untuk mengerjakan tugas bukan memantau nya”, celetuknya tiba tiba. “Ibu, kan mereka yang punya tugas sekolah, ya memang sudah semestinya mereka yang mengerjakannya”, jawabku. Bukannya meredah tapi sebaliknya menjadi semakin meluap luap amarah ibuku. Pukulan tangannya yang berkali kali mengenai badanku, membuatku kehilangan kesadaran.

Keesokannya pagi menjelang, aku yang sudah bersiap untuk pergi bekerja dan duduk di meja makan untuk sarapan, tiba tiba piring ku di tarik oleh ibuku. Aku bertanya padanya “kenapa di tarik piring aku bu?”, “kamu hari ini tidak usah ikut sarapan” ucapnya ketus. “Tapi kenapa? Kan aku juga butuh makan bu”, keluhku. “ya kamu cari saja makanan di luar sana, rumah ini tidak memberi makan pada anak yang tidak berguna sepertimu”, ucapnya lagi dengan wajah yang sinis. Betapa tersayatnya hatiku ini mendengar perkataan yang terlontar dari mulut ibuku sendiri. Aku merasa kasihan dengan diriku yang tidak memiliki tempat di rumah itu. Dengan hati yang patah dan mencoba menahan air mata, aku pergi meninggalkan ruang makan dan bergegas pergi.

BACA JUGA :   Catatan Kecil dari Nations League: Impian Roberto Mancini yang Ambyar

Di perjalanan, aku memikirkan apa sebenarnya yang sudah membuat mereka begitu membenciku. Dari dulu sampai detik ini, aku tidak pernah menyulitkan mereka tentang keuangan atau prestasi sekolah. Aku berpikir keras untuk menemukan jawabannya, sampai aku tidak fokus pada pekerjaanku. Tanpa aku sadari hari sudah mulai siang, karena kelelahan aku izin untuk pulang kerumah.

Ketika aku sampai di rumah, aku mendengar pembicaraan kedua orang tuaku. Mereka mendebarkan aku yang hanya seorang anak perempuan, dan membandingkan aku dengan saudara laki laki ku. Menurut mereka, hanya saudara laki laki ku itulah yang berguna di bandingkan denganku yang hanya seorang anak perempuan. Tubuh yang sudah mulai lelah, semakin lelah mendengar perkataan mereka. Aku menangis, berlari masuk ke kamar. Samar aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamarku, aku pejamkan mataku mencoba untuk tidak merespon apapun di sekitar ku. Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarku. Perlahan pintu kamar terbuka, “Oh sudah pulang rupanya kamu, kenapa tidak menyapa kami?” tanya ayah padaku. Aku diam saja berusaha untuk tidak peduli. “Hei anak tidak berguna!!” suaranya mengeras dan tangannya menarik selimutku. “bangun kau dari tempat tidurmu, anak pemalas!!”, bentak nya. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua itu.

Aku bangun dari tempat tidur ku dan berteriak. “AAAAAAAaaaaaaahhhh, tidak berguna, tidak berguna dan tidak berguna!! Terus saja lontarkan perkataan pedas itu padaku, iya aku tidak berguna! Kalian tahu aku tidak berguna!! Apa kalian puas?? Ha puas ?!”. “lancang kamu ya, sudah berani kamu melawan ayah!”. “Iya,, saya berani!! Sekarang saya berani melawan kalian! Saya akan terus melawan kalian!”, bentakku. Ini adalah kali pertama aku mengeraskan suaraku pada orang tuaku. “Memang ya anak perempuan itu cuma bisa melawan”, balasnya. “Iya aku anak perempuan, memang ada yang salah kalau aku perempuan?!Apa yang salah?!”, tanyaku yang menahan airmata.

BACA JUGA :   Lukisan Senja Buana

“Kalau anak laki laki tidak akan begini”, sambungnya. “Anak laki laki tidak begini, anak laki laki tidak begitu, apa tidak punya kata kata lain ?! Selain itu?! Ayah dengarkan ini! Dengar dengan mata terbuka dan telinga yang lebar! Dengar!!! Saya ini anak kalian, aku tidak minta kalian lahirkan! Aku tidak minta kalian besarkan! Mengert?! Dan kalian harus tahu, aku tidak bisa memilih ingin di lahir kan sebagai wanita atau pria, cacat atau sempurna! Jika saja aku bisa meminta itu pada tuhan sebelum aku di lahirkan, maka aku akan memintanya!! Kau tahu?! Kalau kalian tidak menginginkan aku, kenapa kalian lahirkan aku?! Kenapa tidak kali bunuh aku sebelum aku lahirkan?! Kenapa kalian rawat aku?! Kenapa tidak kalian bunuh saja aku sebelum aku tumbuh dewasa?! Kenapa?!” aku yang sudah puas meluapkan emosiku, aku pun pergi keluar dari rumah hingga larut malam. Aku akhirnya kembali ke rumah, dan langsung menuju ke kamarku. Saat aku membuka pintu kamar, aku terkejut melihat seseorang berbaring di tempat tidurku. Aku mencoba mendekatinya, dan yang aku lihat. “Tiiiiidddaaaakk! Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa begini?!”,. Aku bingung.

Ternyata yang berbaring di kasur itu, adalah diriku sendiri. Yang sudah terbujur kaku. Berarti tadi akh berteriak itu percuma, aku sudah tiada dari awal. Tak lama setelah itu aku mendengar tangisan dari ibuku yang memeluk tubuhku dan berucap maaf berulang kali.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: