Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Hancurnya Baker

Namaku Baker, boleh dibilang aku adalah salah satu preman terkenal di sepanjang jalan utama yang membentang di kota ini. Setiap menyebut namaku, maka yang terlintas hanya kengerian dan ketakutan. Beberapa orang yang pernah melihat kebengisan dan kekejamanku dalam beraksi akan bercerita siapa aku sebenarnya.
Suatu hari, seperti biasa aku berjalan ke tempat biasa aku mangkal. Di tempat ini aku biasa memberikan perintah ke para anak buahku untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang.
“Sudah dapat berapa hari ini?.” Tanyaku ke salah satu anak buahku yang masih berdiri memandangi lalu lalang kendaraan.
“Baru segini, Bang!.” Jawabnya sambil menyerahkan uang tersebut.
Aku kemudian menghitung uang itu, senyumku mengembang saat mengetahui jumlah uang tersebut.
“Oke aku suka hasil yang kau dapatkan saat ini.” Pujiku sambil memasukkan uang itu ke dalam kantong baju.
“Terus kami dapat apa kalau semua uang itu Abang ambil?.” Anak buahku itu protes.
“Jadi kamu mau melawan?.” Tanpa aku bisa kontrol lagi, tangan kiriku langsung mencengkeram kerah bajunya sementara tangan kananku menampar pipinya kiri-kanan bergantian.
Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit teramat sangat di perut, refleks aku menatap ke arah sumber rasa sakit itu. Mataku tercengang saat melihat sebilah pisau kecil tertancap tepat, cairan merah kental mulai keluar membasahi.
Aku jatuh terduduk, terkulai, dan hanya bisa menatap pasrah saat anak buah yang kuintimidasi tadi mengayunkan batu ke arah kepalaku.
“Matilah kau Baker, sekarang giliran ku memimpin!.”
Bukkk…
Pandanganku gelap disertai kepala yang teramat sakit.

Ram Tadangjapi (7)

Seorang pria yang terjebak dalam kata, terpenjara rindu dalam pelukan dosa.
Silahkan interpretasi sendiri!.

BACA JUGA :   Orang Lain Ribut, Messi dan Ronaldo Cetak Rekor Baru
Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: