Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Dia ( Chapter 2 )

Tidak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaanku itu, termasuk mama.
Aku langsung lari ke atas menuju kamar kakak, berharap ini hanya mimpi.
Yang aku temui hanya kamar kosong yang sudah kakk rapikan dan baju di lemarinya hanya tinggal sedikit.
Aku menangis sejadi jadinya di sana, kakak kemana, dan aku menyalahkan diriku sendiri.
Coba aja tadi aku gak pergi pasti kakak masih ada di rumah, kataku sambil terus menangis.
Aku coba telpon ke nomor kakak tapi sama sekali tidak terhubung. Aku juga mencoba mengirim pesan ke semua social mediannya.
Tapi semuanya tidak di responnya. Yang selalu menjadi pertanyaanku apa yang terjadi.
Aku berusaha menenangkan diri dan turun kebawah menghampiri semua keluarga besarku yang ada di ruang keluarga.
Aku kembali bertanya ke papa dan mama apa yang terjadi, gak mungkin kakk bakalan ninggalin rumah kalau tidak ada sesuatu.
Mereka hanya diam. Emosiku campur aduk saat itu.
Aku yang tidak mendapatkan jawaban dari tadi langsung pergi ke luar menuju mobil ku.
Tiba tiba abang sepupuku mengejar dan menghentikan langkahku.
“Kamu mau ke mana?” Tanya dia
“Mau cari kakak, udah tau kan kalau kakak pergi dari rumah tapi kenapa gak ada satupun yang nyari” kataku dengan emosi.
Aku langsung masuk dan melajukan mobilku. Aku mencoba menghubungi beberapa teman kakakku.
Dan mereka tidak ada yang mengetahuinya.
Aku menuju ke tempat yang biasa aku datangi dengan kakak berharap dia ada di sana.
Sesampainya di tempat itu aku berusaha mencari ternyata dia tidak ada di sana.
Aku terus berjalan dengan badan yang sudah lemas dan air mata yang terus mengalir.
Dan dari arah berlawanan ada cahaya motor yang membuat mataku silau melaju ke arahku.
Motor itu pun berhenti tepat di depanku.
“Zara kamu kenapa nangis? , bukannya tadi mau pulang” kata laki laki yang memakai motor itu.
Dia ternyata rafan.
Aku lagi nyari kakakku, kataku yang masih menangis.
“Kakak? Emangnya kakak kamu ke mana?
“Gak tau, dia pergi” kataku.
Dia berusaha untuk menenangkanku yang saat itu masih sedih dan nangis.
Karna sudah larut malam, sudah sekitar jam setengah 1 pagi, rafan menyuruhku untuk pulang.
Tapi aku masih mau mencari kakakku, dan gak pengen pulang.
Dia memaksaku untuk pulang bahkan dia sempat mengiring mobilku sampai rumah.
Untuk memastikan kalau aku memang pulang ke rumah.
Kepergian kakakku saat itu membuatku benar benar terpukul.
Sehingga seminggu itu aku tidak masuk kerja dan kondisi kesehatanku juga tidak baik.
10 hari setelah kakak ku pergi bahkan semua keluarga sudah mengupayakan untuk mencarinya.
Dan kami tidak tau dia ada di mana. 5 hari setelah dia pergi. Dia sempat menghubungi abang sepupuku.
Dia mengatakan kalau dia dalam ke adaan baik baik aja, jangan khawatir.
Kalau impian, cita cita dan dia bisa membuktikan ke keluarga kalau dia bisa berhasil baru dia akan pulang..
Setelah aku tau kalau kakakku baik baik aja, aku sedikit lega walaupun kecewa kenapa dia gak menghubungiku.
Tapi mengetahui kabarnya lumayan cukup untuk membuatku sedikit tenang.
Keesokannya aku mulai masuk kerja, bahkan selama aku tidak masuk kerja rafan adalah orang yang selalu ada untukku.
Dia minta nomorku ke salah satu teman di tempat kerjaku karna dia khawatir dengan keadaanku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Akhir Cinta 2 (Lanjutan)
%d blogger menyukai ini: