Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Cintaku : Awal Masuk Sekolah SMP

Gambar ruang kelas

Bab 2 : Awal Masuk Sekolah SMP

Bel berbunyi, tandanya kelas pertamaku di sekolah SMP akan dimulai. Aku sangat senang karena bisa bertemu teman baru, guru baru, dan suasana baru. Aku mendapatkan banyak teman di masa SMP ini.

Teman-teman sekelasku sangat baik dan ramah. Kami langsung bisa akrab walau baru pertama kali bertemu. Di antara mereka semua, aku paling senang dengan Rida dan Sofi. Keduanya adalah teman yang pertama kali aku kenal di kelas.

Awalnya aku sangat canggung dan tidak berani berbicara dengan siapa pun, bahkan hampir tidak ada yang mau mengajakku berteman. Tapi, Rida dan Sofi mengulurkan tangannya kepadaku.
“Hai, kok diam saja, sih. Perkenalkan namaku Rida dan ini temanku Sofi. Nama kamu siapa?,” Rida dan Sofi datang ke tempat dudukku karena tidak tega melihat diriku duduk termenung seorang diri.
“Namaku Indri.”
“Kamu dari sekolah mana?,” tanya Sofi.
“Aku dari Sekolah Dasar Tunas Bangsa,” jawabku pelan.
“Kalau kami berdua dari Sekolah Dasar 03 Muhamadiyah,” sahut Rida.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu diam saja?. Cobalah membaur seperti yang lain. Tenang saja, mereka tidak akan menggigitmu. Ayo, ikut aku!” Sofi menarik tanganku dan mengajakku berkenalan dengan teman-teman yang lain.
“Sofi, jangan, aku malu, nanti saja ya aku temui mereka,” kataku yang mencoba melepaskan tanganku dari cengkeraman Sofi.
“Sudah, jangan malu-malu, sama teman satu kelas sendiri kenapa harus malu. Kalau kamu diam saja, bagaimana kamu bisa punya teman. Nggak ada kata tapi, dan ikut aku sekarang,” kata Rida dengan kesalnya.

Berkat Sofi, aku bisa punya banyak teman. Dia adalah seorang teman yang selalu membantuku dalam keadaan sulit, walaupun aku sendiri tidak pernah meminta bantuan kepadanya.

Pernah, suatu hari aku lupa membawa cat air waktu pelajaran seni, pak guru memarahiku habis-habisan karena itu, tapi tiba-tiba Sofi menghampiriku dan memberikan cat airnya kepadaku. Ia tidak mengatakan apa pun dan langsung duduk kembali ke tempatnya. Dia juga pernah melindungiku dari tindak bullying kakak kelas. Dia benar-benar teman terbaikku, aku bersyukur mempunyai teman seperti dia.

Jam pelajaran pertama telah usai, waktunya istirahat. Rida dan Sofi mengajakku untuk pergi ke kantin bersama.
“Indri, yuk ke kantin!. Aku sudah lapar dari tadi, pelajaran matematikanya Pak Zaid membuat energi yang ada di seluruh tubuhku terkuras habis,” keluh Rida kepadaku.
“Lebay kamu, Rida!” ejek Sofi.
“Sudah kalian berdua, jangan bertengkar. Lebih baik kita ke kantin sekarang, keburu jam istirahat habis,” ajakku kepada kedua temanku.

BACA JUGA :   Puisi : Cinta yang Menimbulkan Luka

Sesampainya di kantin, kami bertiga begitu takjub melihat desain kantinnya kayak cafe-cafe di luar sana, sangat instagrammeble dan kekinian. Banyak spot-spot menarik buat foto, bahkan temanku Rida yang tadinya lapar, mendadak selera makannya hilang.
“Wah, kantin di sekolah ini benar-benar bagus. Kalau kayak gini aku juga betah berlama-lama di sini. Kalian berdua makan saja ya, aku nggak jadi makan, nafsu makanku tiba-tiba hilang. Aku mau foto Selfi aja, buat dipamerin di medsosku,” Seru Rida dengan senangnya.
“Aduh, anak ini. Kalau sudah lihat tempat yang bagus bawaannya ingin foto melulu. Indri, kamu harus sabar punya temen suka narsis kayak gini. Lebih baik kita makan aja yuk, biarkan Rida sibuk foto selfi,” sahut Sofi.
Akhirnya hanya aku dan Sofi saja yang makan, sementara Rida lagi asyik foto selfi sama salah satu ibu kantin. Aku dan Sofi dibuat heran dengan tingkahnya.
“Ya ampun Rida, ibu kantin sampai diajak selfi. Benar-benar deh ni anak. Bikin malu aku aja,” ujar Sofi.
“Sudah, biarkan saja. Sebaiknya, kamu cepat habiskan makananmu, jam istirahat udah mau berakhir. Aku pergi cari westafel dulu ya buat cuci tangan,” ujarku kepada Sofi.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya, keburu bel bunyi,” ujar Sofi.

Setiap sudut kantin sudah aku telusuri, tapi aku belum juga menemukan westafelnya. Waktu jam istirahat tinggal lima menit lagi, aku jadi bingung harus mencari ke mana lagi, ditambah aku tersesat entah di mana.
“Ya Allah, aku ada di mana ini?. Kayaknya aku tersesat. Duh, jam istirahat tinggal lima menit. Kalau sampai terlambat masuk kelas bisa kena marah nanti. Lebih baik, aku cari westafel dulu, cari kelasnya nanti saja,” gumamku dalam hati.

Setelah berjalan sekian menit, akhirnya aku menemukan westafelnya. Aku pun langsung mencuci tanganku ala kadarnya. Karena terburu-buru, aku sampai lupa melap tanganku yang basah. Agar cepat kering, aku pun mengibaskan tanganku ke udara. Namun, secara tidak sengaja air cipratannya mengenai wajah seorang pria yang tengah lewat di sampingku.
“Aduh, siapa sih ini seenaknya cipratin air,” kata pria itu sambil melap wajahnya dengan tangan kanannya.
“Maaf, maafkan aku, aku tidak sengaja. Sungguh, aku tidak sengaja. Ini ada tisu, lap wajahmu dengan ini,” kuberikan tisu kepadanya sebagai permohonan maaf.
“Iya tidak apa-apa.”
Tiba-tiba saja bel berbunyi, aku pun langsung lari meninggalkan pria itu.
“Hei kamu, terima kasih tisunya!” teriak pria itu kepadaku.
“Iya sama-sama,” kataku sambil terus berlari tanpa menoleh ke arahnya.

BACA JUGA :   Cerpen Penyesalanku Kenanganku

Untung saja aku berpapasan dengan Rida dan Sofi, jadi aku bisa datang ke kelas tepat waktu. Coba saja kalau itu tidak terjadi, sudah pasti aku akan mendapatkan hukuman di hari pertama.
“Kamu dari mana aja sih, kok lama?” tanya Rida.
“Aku dari westafel sebelah sana,” kataku sambil menunjukkan tempatnya kepada Rida.
“Ya ampun, jauh amat Indri. Di kantin kan ada,” sahut Sofi.
“Tadi aku nggak nemu, jadi aku cari keluar. Sudah, sebaiknya kita segera masuk saja keburu Bu guru datang.”

Saat jam pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba Bu Ani menyuruh kami meletakkan alat tulis dan menutup buku. Beliau mengambil tongkatnya, kemudian memukulkannya di atas mejaku. Aku sampai ketakutan di buatnya, hingga membuat bulu kuduku merinding.
“Anak-anak, agar kedisiplinan tetap terjaga di kelas kita. Ibu ingin memberikan amanah kepada salah satu murid yang ada di sini untuk menjadi ketua kelas. Nantinya, ketua kelas harus melaporkan setiap tindakan pelanggaran kepada ibu selaku wali kelas kalian. Kira-kira siapa yang cocok mengemban amanah ini, adakah nama yang mau kalian usulkan anak-anak?” tanya Bu Ani.
Setiap orang saling meneriaki beberapa nama hingga membuat kegaduhan di dalam kelas. Bu Ani sampai harus memukulkan tongkatnya beberapa kali agar mereka semua diam.
“Diam, ibu bilang diam!” teriak Bu Ani begitu kencangnya sampai menggetarkan gendang telingaku.
Walaupun Bu Ani sudah berteriak sangat kencang, tapi tetap saja hal itu tidak membuat mereka diam.

Bu Ani sampai kesal dan melemparkan spidol ke arah papan tulis. Aku sangat kasihan kepada Bu Ani karena teman-teman tidak menghiraukannya sama sekali. Aku pun memberanikan diri maju ke depan dan berteriak sangat keras kepada teman-temanku.
“Diammmmm!” teriakku.

BACA JUGA :   Belajar Memelihara Optimisme dari Laga Liverpool vs AC Milan

Bukannya diam, mereka malah memberiku tepuk tangan. Mukaku menjadi merah padam sangking malunya. Aku pun kembali ke tempat duduk dan menundukkan wajahku. Seketika, suasana gaduh itu tiba-tiba jadi hening karena suara ketukan pintu.
“Tok,tok,tok,” suara orang mengetuk pintu.
“Masuklah!” kata Bu Ani.
Keluarlah dari arah pintu seorang anak laki-laki yang sedang mencari Bu Ani.
“Maaf Bu Ani, saya disuruh memberikan ini kepada ibu,” kata anak laki-laki itu.
“Oh iya, terima kasih sudah membawakannya kemari.”
“Sama-sama ibu.”

Seusai menemui Bu Ani, tiba-tiba saja ia menghentikan langkah kakinya dan mengarahkan pandangan matanya kepadaku. Ia tersenyum sebentar setelah itu pergi keluar kelas. Waktu dia sudah keluar, teman-temanku mulai menggoda diriku karena kejadian tadi.
“Cie, cie, Indri, ada yang suka sama kamu tuh,” kata salah satu temanku.
“Ada yang lagi kasmaran nih ye. Oh iya, bagaimana kalau Indri saja yang jadi ketua kelas, Bu?. Aku rasa dia orang yang tepat. Bagaimana teman-teman yang lain, setuju nggak sama pendapatku?” usul Rida.
“Apa, tidak Bu Ani, aku tidak mau menjadi ketua kelas. Yang lain saja, aku tidak mau,” ujarku sambil menggelengkan kepala.
“Sudah, kamu saja yang jadi ketua kelas, Indri!” sela Sofi.
“Sofi, kamu juga. Pokoknya aku tidak mau Bu Ani. Aku tidak mau menjadi ketua kelas, pilih yang lain saja.”
“Anak-anak yang lain, bagaimana usul Rida?. Kalian setuju Indri menjadi ketua kelas?” tanya Bu Ani kepada teman-teman yang lain.
“Setuju!” teriak mereka secara bersama.
“Baiklah, Indri ibu angkat kamu menjadi ketua kelas. Kamu harus menerimanya karena ini permintaan dari teman-temanmu. Jangan coba membantah, oke!. Sekian untuk pelajaran hari pertama ini, sampai ketemu besok.”
“Baik, Bu!” jawab kami bersama.
Mau tidak mau aku terpaksa menerima jabatan sebagai ketua kelas.

Sejujurnya, aku merasa takut mengemban amanah ini. Kira-kira masalah apa ya yang siap menantiku?. Semoga teman-temanku tidak menyulitkan diriku.

Bab 1 :

Cerbung: Cerita Cintaku

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: