Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Ada 3 Kepercayaan di Majapahit saat Hayam Wuruk Memimpin

SAAT Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit, ada tiga macam kepercayaan. Ketiga kepercayaan ini yakni agama Siwa, Buddha, dan Brahma yang disebut tripaksa.

Dikisahkan dalam buku “Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit” karya Slamet Muljana, Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara ini memiliki komitmen besar kepada tegaknya tripaksa.

Maksudnya adalah ketiga aliran kepercayaan ini bisa hidup rukun dalam negara. Aliran itu diurus oleh masing-masing pembesar, pendeta Siwa, Buddha dan Brahma, diserahi menjaga tempat ziarah dan segala asrama dan biara Buddha.

Masing-masing aliran agama dan pembesarnya melindungi dan menjaga umatnya. Raja meminta agar aliran agama ini tidak saling bertengkar. Menyiasati hal itu Rajasanagara mengadakan pembagian daerah, agama Siwa dianjurkan di mana pun, agama Buddha hanya boleh disiarkan di kerajaan bagian timur.

Kedua aliran ini mendapat sambutan baik dari rakyat dan dapat hidup subur serta damai. Sedangkan untuk aliran Buddha oleh Hayam Wuruk dikisahkan Prapanca sedikit ada pengekangan kebebasan. Hal ini disebabkan adanya aturan perundang-undangan dari Kerajaan Majapahit sendiri.

Tapi kebebasan untuk menyiarkan ajaran Buddha secara leluasa tidak diizinkan. Jawa sebelah barat adalah larangan, sebab konon kata orang di daerah tersebut tidak ada pemeluk agama Buddha. Tetapi daerah kerajaan timur, Gurun, Bali, dan sebagainya boleh dikunjungi oleh para pendeta Buddha. Pendeta Buddha yang berjasa besar di daerah timur ini adalah Empu Barada dan Kuturan.

Pendeta-pendeta Buddha ini dibawa oleh seorang kepala urusan agama yang konon bernama Prapanca. Meski diketahui bukan nama sebenarnya akibat ia dipecat dan diusir dari istana. Prapanca dikisahkan kerap menaruh perhatian besar kepada perbaikan segala bangunan Buddha yang telah rusak.

BACA JUGA :   Mengagumkan, Mengenal Budaya Suku Jawa

Diceritakan pada masa pemerintahan Raja Rajasanagara, banyak bangunan candi Buddha yang mengalami kerusakan dan kurang terpelihara. Alhasil Prapanca sering kali membandingkan candi Makam Kagenengan yang sangat indah, yang merupakan bangunan Siwa, dengan bangunan – bangunan Buddha lainnya. Perbedaan ini bahkan digambarkan Prapanca, bagai siang dan malam.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: