Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Steve, Si Pemabuk

Waktu beranjak tak mampu ditahan, kini matahari telah naik sangat tinggi dan menghadirkan rasa panas yang menyengat bersama sinarnya.
Steve berjalan tertatih-tatih menyusuri jalanan hari itu, ia sudah tidak ingat apa yang ia lakukan tadi malam. Yang saat ini ada dipikirannya adalah tiba di rumahnya secepat mungkin agar bisa langsung tidur. Pengaruh minuman keras yang ia tenggak semalam ternyata masih terasa sampai saat ini.
“Kenapa terasa jauh sekali jarak ke rumah?.” Gerutu Steve.
Ia tak bisa berpikir jernih, padahal ia bisa saja menghentikan beberapa angkutan umum yang lalu lalang didekatnya.
“Jauh banget sih!.” Steve terus menggerutu, saat ini bukan hanya rasa capek yang menghinggapi raganya, namun haus pun mulai mencekik lehernya.
Saat ia masuk ke gang pertama menuju ke rumahnya, matanya terasa semakin berat bahkan penglihatannya semakin gelap. Steve tak mampu lagi mengontrol tubuhnya yang langsung limbung dan jatuh tengkurap di tanah.
“Dasar pemabuk bodoh!.” Dua orang pejalan kaki memaki Steve yang posisi tubuhnya kini menghalangi jalan.
“Eh coba periksa celananya, siapa tau ada duit disitu!.” Salah pejalan kaki itu kemudian memberikan ide jahat.
“Ah cuma ada dua puluh ribu!.” Setelah menggeledah tubuh Steve yang tak berdaya, ternyata mereka cuma menemukan uang dua puluh ribu rupiah.
“Sudah bodoh, miskin lagi!.” Maki salah satu dari mereka sambil menendang tubuh Steve.
Mereka berdua meninggalkan tubuh Steve yang masih tergeletak di tengah jalan.

Ram Tadangjapi (7)

Seorang pria yang terjebak dalam kata, terpenjara rindu dalam pelukan dosa.
Silahkan interpretasi sendiri!.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Masa Depan Bangsa Digenggaman Kita
%d blogger menyukai ini: