Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Pemujaan Kepada Raja-raja Persia

Raja-raja Persia yang terkenal dengan gelar “Kisra” menganggap di dalam tubuh mereka mengalir darah Tuhan. Orang-orang Persia memandang raja-raja mereka sebagai tuhan-tuhan. Mereka percaya bahwa dalam diri raja-raja mereka terdapat sesuatu yang agung dan suci.

Oleh karena itu, mereka memuja-muja, menyajikan korban-korban dan menyanyikan lagu-lagu yang mengagungkan sifat ketuhanan raja-raja mereka. Mereka memandangnya sebagai makhluk yang berada di atas hukum, tidak boleh di kritik atau di cela dan berada di atas semua manusia.

Nama raja-raja mereka tidak boleh di sebut-sebut dan tidak seorangpun dari rakyat boleh duduk dengan rajanya. Orang-orang Persia mempunyai keyakinan, bahwa raja-raja mereka mempunyai mempunyai hak atas tiap manusia dan manusia manapun tidak mempunyai hak apa-apa atas raja-raja mereka.

Kalau raja menghadiahkan sebagian hartanya atau sebagian dari sisa-sisa kenikmatannya kepada seseorang, itu bukan lain hanyalah suatu sedekah atau karena kedermawanan dan samasekali bukan karena untuk memenuhi kewajiban. Setiap orang tidak mempunyai hak apapun terhadap raja kecuali harus patuh dan taat.

Bangsawan-bangsawan Persia mengistimewakan keluarga tertentu, yakni keluarga kerajaan. Mereka berkeyakinan hanya anggota-anggota itu sajalah yang berhak mengenakan mahkota dan menetapkan pajak hasil bumi. Hak tersebut berlaku secara turun-temurun. Barangsiapa yang menyaingi mereka akan di pandang sebagai orang zhalim dan orang berbudi rendah.

Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada raja dan dengan keyakinan penuh mengakui hak waris di kalangan keluarganya. Mereka tidak menghendaki adanya orang dari keluarga lain yang menggantikan raja dan tidak pula menginginkan tergesernya hak itu dari keluarga raja.

Apabila raja mereka meninggal dunia dan tidak ada anggota keluarganya yang sudah dewasa, mereka mengangkat anak kecil dari keluarga raja itu sebagai penggantinya. Dan jika di kalangan keluarga raja tidak terdapat seorang lelaki, mereka mengangkat perempuan sebagai ratu.

BACA JUGA :   Iran Dan Gerakan-gerakan Destruktif Di Dalamnya

Demikian juga keyakinan orang-orang Persia terhadap keluarga-keluarga ahli kerohanian dan bangsawan-bangsawan tinggi dari kaumnya yang di pandang berada jauh di atas tingkatan mereka. Baik dalam hal susunan tubuh maupun mental dan kecerdasan akal.

Perbedaan yang ada di antara lapisan-lapisan masyarakat benar-benar merendahkan martabat manusia. Hal itu dapat kita saksikan dari kenyataan di saat rakyat biasa menghadap kaum bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan. Di hadapan mereka rakyat harus diam tidak boleh bergerak dan harus jongkok seperti anjing.

Abu ‘Utsman An-Nahdiy mengatakan : Ketika Al-Mughirah melintasi sebuah jembatan, ia di persilahkan duduk oleh orang-orang Persia yang sedang berkumpul. Mereka meminta izin kepada Rustam (Panglima Perang Persia) supaya Al-Mughirah di perbolehkan menghadap.

Akan tetapi pembesar-pembesar Persia yang sedang berkumpul itu tampaknya tidak menghiraukan kedatangan Al-Mughirah. Mereka terus bercakap-cakap seolah-olah sengaja hendak menunjukkan sikap mereka yang meremehkan orang lain.

Al-Mughirah maju menghadap Rustam dan ia melihat pembesar-pembesar Persia mengenakan mahkota di kepala dan memakai pakaian dari tenunan benang emas. Mereka enggan mempersilahkan Al-Mughirah. Tetapi ia terus berjalan mendekati Rustam dengan sikap gagah.

Ketika itu Al-Mughirah tiba di dekat Rustam, lalu duduk di atas kasur tempat Rustam duduk. Tiba-tiba ia di tarik, di sorong dan di turunkan dari atas kasur oleh para pengawal Rustam. Sebagai reaksi terhadap perlakuan mereka yang seperti itu, Al-Mughirah mengatakan :

“Ternyata apa yang kami dengar tentang kalian hanya impian belaka. Saya belum pernah melihat suatu bangsa yang lebih buruk daripada kalian. Kami orang-orang Arab mempunyai kedudukan yang sama. Tidak memperbudak satu sama lain kecuali terhadap orang yang memerangi temannya.

Saya kira kalian memperlakukan bangsa kalian sebaik perlakuan orang-orang Arab terhadap sesamanya. Dari pada berbuat seperti yang kalian lakukan terhadap diriku, lebih baik kalian dengan terus terang mengatakan bahwa kalian masing-masing menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi yang lain. Persoalan itu sangat tidak baik dan kami tidak berbuat seperti itu.

BACA JUGA :   Catatan Kecil dari Nations League: Impian Roberto Mancini yang Ambyar

Saya tidak akan datang kepada kalian kalau bukan karena kalian mengundang saya. Sekarang saya mengetahui bahwa keadaan kalian sebenarnya di ambang keruntuhan. Dan kalian pasti akan kalah dalam peperangan melawan kami. Karena kerajaan manapun tidak akan berdiri tegak, bilamana bertingkah-laku dan berfikir seperti kalian”.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: