Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Indahkan Bahasamu

Dunia maya dan nyata senantiasa diwarnai hiruk pikuk dinamika kehidupan tanpa jeda. Menampilkan begitu banyak warna dan mode. Kadang terlihat sangat baik dan jelas, tidak jarang tampil dengan warna buram, terindikasi mengandung hal yang tidak semestinya.

Berada di tengah dinamika itu, otomatis interaksi dan komunikasi dengan banyak pihak akan berlanjut terus. Tidak peduli apakah dua hal itu dibangun atas dasar kesadaran penuh diri sebagai makhluk sosial atau hanya sebatas kebutuhan saja. Pastinya, jika dilakukan tanpa batasan dan kesadaran atas ethic, maka bermuara ke hubungan yang tidak sehat. Memicu rasa stress.

Bisa direnungkan bersama salah satu contoh sederhana ini. Berapa kali dalam sehari kita membaca kata atau kalimat yang tidak layak (kasar atau tak senonoh) di media sosial? Berapa kali kita mendengarkan orang lain di sekitar kita mengucapkannya tanpa rasa bersalah, bahkan banyak yang menganggap olok-olok? Atau, bahkan kita sendiri yang lantang menulis atau mengucapkannya.

Apa hanya terjadi sebatas di ruang lebar dan luas tanpa batas itu? Tidak juga. Mari, tengok kondisi interaksi dan komunikasi kita di dalam tembok rumah tangga. Bagaimana suami berucap pada istri atau sebaliknya? Bagaimana orang tua kepada anak atau sebaliknya? Bagaimana kakak terhadap adik dan sebaliknya?

Sangat sering telinga “mengkonsumsi” hal yang tidak sehat. Mengidentikkan diri dan orang lain dengan binatang, sudah bukan hal yang luar biasa lagi. Dalam kondisi marah maupun bercanda, nama hewan tak jarang dipakai untuk mewakili nama orang lain/manusia. Banyak yang tanpa beban memanggil sahabat dan saudaranya dengan nama hewan. Tidak jarang juga memanggil dengan menyebut salah satu cacat atau kekurangan yang dimiliki.

BACA JUGA :   Dampak Lingkungan Kotor dan Polusi Sampah

Di Lombok, mereka yang terbiasa menggunakan tangan kiri, lambat laun nama aslinya dilupakan, berubah menjadi Si Kebot. Mereka yang kakinya tidak normal pun biasanya lebih tenar dipanggil Dempang. Penyandang tuna rungu akan dipanggil Tolek atau Gedok, penyandang bisu akan dioanggil Dakok dan selanjutnya. Faktanya, hal itu tidak hanya terjadi di Lombok, tapi di tempat lain juga mengikuti bahasa daerah masing-masing atau juga menggunakan Bahasa Indonesia. Tanpa sadar kita sudah mengakrabkan diri dengan body shaming. Sekaligus, menganggap remeh karunia-Nya.

Alias-alias ini akan berubah menjadi berbeda dan semakin kasar ketika seseorang sedang dalam kuasa emosi destruktif. Nama satwa penghuni atau nonpenghuni kebun binatang pun berbaris rapi dan keluar dengan lancar dari mulut. Diucap nyaris tanpa beban moril kepada lawan seteru, sahabat, sanak famili, bahkan terhadap anggota keluarga, anak dan istri oleh suami, anak dan suami oleh istri. Dalam banyak kasus, diucapkan juga oleh anak kepada orang tua. Naudzubillah min dzalik. 

Banyak yang khilaf terhadap ketetapan-Nya bahwa setiap kata adalah do’a. Hanya izin-Nya yang diiringi waktu saja yang harus dilewati manusia sampai do’a terkabul. Ketika menghardik anak sendiri dengan sebutan kasar, itu berarti orang tua sedang berdo’a kepada Allah agar anaknya menjadi seperti apa yang sedang disebutkan. Dan, bukankah dalam konteks interaksi dan komunikasi, hanya kucing yang mampu memahami kucing? So, ketika sedang meng-alias-kan orang lain dengan nama kucing, maka secara tidak langsung bahwa mereka yang berucap sedang mengatakan bahwa dirinya juga seekor kucing.

Rasulullah dari awal sudah mengingatkan agar umatnya dapat bergaul dan saling menyebut dengan nama yang pantas, bagus dan indah. Beliau pun memanggil istrinya dengan sebutan Khumaira. Allah Subhanahu Wata’ala pun sudah mengingatkan agar kita jangan terjebak menggunakan kata dan kalimat yang kasar dalam berkomunikasi.

BACA JUGA :   7 Kado Nikah Buat Temen Kamu yang Hobi Jalan-Jalan. Bakalan Bikin Happy dan Nggak Terlupakan!

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya :
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal (QS 3 : 159).

Subhanallah, sangat indah cara Allah mengingatkan hamba-Nya. Mengarahkan langkah dan sikap agar kehidupan berjalan selaras dan sehat. Agar jiwa tidak terpuruk dan menjadi budak emosi diri yang tidak mampu dikendalikan. Berupaya lebih keras mengenali diri, mendalami jiwa sendiri dan rajin berdialog dengan diri sangat diperlukan sebagai langkah awal agar kita dapat “selesai” dengan diri sendiri.

Andai pun terlanjur, mari kita saling maaf dan ikhlaskan untuk kemudian tidak melakukannya lagi. Seorang waliyullah memberikan resepnya agar kita senantiasa rajin membersihkan diri dengan istighfar. Al Imam Tirmidzi meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahws “sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.”
(IR)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: