Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Kerja Keras

Pupus sudah harapan tim bulutangkis Indonesia untuk membawa pulang Piala Sudirman.
Sejak digelar tahun 1989, artinya 32 tahun silam. Indonesia sebagai penggagas penyelenggaraan Piala Sudirman baru sekali mengangkat tropi. Tahun pertama ketika Piala Sudirman digelar di Jakarta.
Setelah itu Piala Sudirman yang diperebutkan dua tahun sekali itu. Terus melangkang buana. Maka tahun 2021 ini ada misi tim bulutangkis Indonesia untuk membawa pulang Piala Sudirman.
Berada di grup C bersama Denmark, Kanada dan Rusia (NFB). Timnas Indonesia akhirnya keluar sebagai juara grup dan Denmark sebagai runner up. Dengan demikian Indonesia dan Denmark berhak maju ke babak perempat final.

Hasil Drawing
Hasil undian menempatkan Indonesia bertemu Malaysia dan Denmark ketemu China.
Di atas kertas Indonesia berpeluang melaju ke babak semifinal. Pasalnya peringkat tim Indonesia berada di atas tim Malaysia. Bahkan diketahui Malaysia hanya menurunkan pemain lapis keduanya di gelaran Piala Sudirman 2021.
Akan tetapi semua tahu. Setiap ketemu saudara serumpun Malaysia. Ada hal-hal non teknis yang menyertainya, soal adu gengsi misalnya.
Entah kenapa, di cabang olahraga apapun, sepertinya timnas Indonesia sudah kalah duluan. Ada semacam perasaan inferior.
Begitulah kenyataannya. Pada babak perempat final Piala Sudirman yang digelar di Energia Stadium, Vantaa-Finlandia semalam. Tim Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia. Maka pupus sudah harapan untuk membawa pulang Piala Sudirman.
Pasangan ganda putra Markus Gideon/Kevin Sanjaya dikalahkan pasangan Aaron Chia/Soh Woi Yik dua set langsung (21-14; 21-17).
Indonesia menyamakan kedudukan lewat tunggal putri. Gregoria Mariska dengan susah payah taklukkan Kisona Selvaduray (22-20; 18-21 dan 18-21).
Sayang tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting kalah dari Lee Zii Jia dengan angka telak 11-21 dan 16-21.
Kedudukan kembali jadi imbang. Setelah ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu dengan heroik kandaskan pasangan Pearly Tan/Thianaah M. dengan rubber set (22-20; 17-21 dan 21-18).
Mala petaka datang ketika pasangan ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Oktavianti takluk kepada pasangan Hoo/Cheah (21-19; 9-21 dan 21-18).

BACA JUGA :   Tiga Tips untuk Tetap Konsisten Menulis

Petik Pelajaran
Statistik mencatat semua pemain Indonesia peringkatnya di atas pemain-pemain Malaysia. Maka sudah sewajarnya jika kita menggantungkan harapan besar kepada timnas Indonesia.
Sayangnya statistik tersebut hanyalah angka-angka di atas kertas belaka. Atau justru mereka jumawa dengan peringkat yang lebih tinggi?
Sudahlah. Apapun semuanya sudah terjadi. Faktanya tim bukutangkis Indonesia dihentikan lajunya oleh tim Malaysia. Seandainya lolos pun tim Jepang sudah menunggu di babak semifinal.
Sangatlah bijak kalau kita semua belajar dari kekalahan ini. Sekalipun sangat menyakitkan. Kita ambil hikmahnya saja.
Fakta tersuguhkan di depan mata. Pemain-pemain Malaysia mempunyai semangat pantang menyerah dan mau kerja keras.
Tidak nampak di wajah para pemain Malaysia rasa takut melawan pemain-pemain Indonesia yang peringkatnya lebih tinggi. Justru hal tersebut memacu mereka untuk kerja keras. Pertarungan Kisona lawan Gregoria Mariska dan pasanga Pearly Tan/Thinaah kontra Greysia Polii/Apriyani Rahayu menggambarkan dengan jelas akan makna kerja keras tersebut.
Bahkan ketika ganda campuran Hoo/Cheah sebenarnya mereka ketinggalan jauh di set kedua. Pada set ketiga bahkan Praveen/Melati sempat memimpin 11-10 sebelum pindah bidang lapangan. Pada set penentuan kentara sekali semangat pantang menyerah dan mau kerja keras. Sampai akhirnya membalikkan keadaan dan menang.
Benar adanya kata pepatah hasil tidak akan mengkhianati usaha. Usaha yang lebih keras akan memberikan hasil yang lebih membahagiakan.
Begitulah!

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: