Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerbung: Cerita Cintaku

Bab 1: Cinta Semasa Remaja
Siang-siang membersihkan ruang kelas membuatku muak. Semua temanku pergi meninggalkanku seorang diri. Mereka benar-benar keterlaluan membiarkanku membersihkannya sendirian, padahal yang membuat kotor itu kan mereka bukan aku. Seragamku sampai lusuh terkena debu sewaktu melap kaca jendela. Nodanya sungguh susah untuk dihilangkan, kucoba melapnya dengan sangat keras tetap saja tidak mau hilang. Aku mulai putus asa untuk membersihkan jendela payah ini. Karena kesal, kulempar saja lapnya ke lantai dan kubiarkan saja jendelanya kotor. Tanganku sampai terasa pegal setelah mencoba menghilangkan noda membandel di jendela itu. Aku mulai kesal dan muak dengan semua ini. Mereka enak-enaknya makan di kantin, sementara aku harus berjibaku dengan debu dan kotoran di ruang kelas tak berpenghuni. Sungguh, malang nasibku ini, tidak ada satu pun teman yang peduli dengan diriku.
Kuistirahatkan sejenak badanku ini sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Biarkan mereka yang membersihkan jendela, aku sudah lelah dan tidak kuat lagi. Terasa sangat nyaman duduk meluruskan kaki dan menyandarkan punggung ke tembok, serasa penat ditubuhku menghilang dalam sekejap.
“Ahhhh, beginilah hidup!. Biarkan saja mereka yang membersihkan jendela itu, aku sudah capek. Benar-benar mereka tega sekali padaku. Padahal, rencana ke kantin waktu jam pelajaran adalah ide mereka. Seharusnya mereka saja yang dihukum, kenapa aku juga ikutan dihukum, ya?. Nasib jadi ketua kelas ya begini. Kenapa dulu aku menerima jabatan ini, ya?. Kalau jadinya seperti ini, lebih baik aku mundur saja. Tidak salah apa-apa, kenapa ikut dihukum,” gumamku dalam hati.
Saat mata ini mau menutup, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki memandangku dari balik jendela. Ia berdiri tepat di atas tangga yang bersebelahan dengan ruang kelas kosong. Aku sampai heran kepadanya, kenapa anak laki-laki itu melihat diriku begitu serius sekali?. Firasatku pun mulai aneh, dan pikiranku juga lari ke mana-mana. Inginku menyapa, tapi takut nantinya dianggap sok kenal. Aku benar-benar bingung harus bersikap seperti apa kepadanya. Ia tidak mau berbicara atau pergi dari tempat itu. Ia hanya terpaku melihat diriku. Namun, beberapa detik kemudian, mulutnya terbuka menganga seperti ingin mengatakan sesuatu hal.
“Indri!,” sapa anak laki-laki itu kepadaku.
Mendengar ia menyebut namaku, mendadak jantungku berdegup sangat kencang. Getarannya itu tidak seperti biasanya, serasa berdetak cepat seperti orang habis lari maraton sejauh 100 km. Suhu tubuhku juga mulai terasa panas dan membuatku berkeringat sangat banyak. Aku gugup menghadapi dirinya hingga tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam mematung sambil melihatnya berjalan menuju ke arahku. Perlahan, pintu kelas itu terbuka dan anak laki-laki itu berjalan selangkah demi selangkah. Rasanya aku ingin lari, tapi entah kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku.
“Ada apa ini?. Kenapa kakiku tidak bisa bergerak. Ayo Indri, pergi dari sini, anak ini pasti mau berbuat jahat padaku. Aku harus pergi, Ayolah kaki, bekerja samalah dengan diriku. Kumohon, ayo bergerak, bergeraklah, dia hampir menuju kesini. Oh tidak, dia sekarang ada di hadapanku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Ya Allah, aku memohon perlindunganmu,” aku pun menutup mata dan memalingkan wajahku saat dia sedang mengarahkan wajahnya kepadaku.
“Kenapa kau di sini sendirian?,” tanya anak laki-laki itu sembari melihat wajahku.
Aku pun mulai membuka mataku dan mencoba menjawab pertanyaannya walaupun masih ada rasa takut hinggap di batinku.
“A..a..aku sedang dihukum oleh Bu guru,” jawabku terbata-bata.
“Memangnya apa yang kamu perbuat sampai dihukum membersihkan ruang kelas ini. Ngomong-ngomong, kamu berani sekali berada di ruangan ini sendirian. Aku salut sama kamu.”
“Kenapa tidak berani, di sini kan tidak ada apa-apa. Oh ya, sebenarnya kamu siapa dan bagaimana kamu bisa tahu namaku?. Terus, kenapa tadi kamu melihatku dengan tatapan aneh?, ayo jawab,” kataku dengan kesal.
“Lupa, kita belum berkenalan, ya?. Namaku Rori, aku dari kelas 9 A. Aku anaknya Pak Zaid, guru matematika yang mengajar di kelasmu. Aku tadi datang ke kelas 9 H untuk mencarimu, tapi kata teman-temanmu kamu lagi dihukum membersihkan ruang kelas kosong di bawah tangga. Jadi, aku kemari untuk menyusulmu.”
“Ada perlu apa kamu mencariku?.”
Sejenak, anak laki-laki itu diam dan mulai menatap aneh kepadaku. Dia terus menatap, menatap, dan menatap. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya terus melihat wajahku sambil tersenyum lebar.
“Kenapa kamu senyum-senyum?. Ada yang aneh dengan wajahku?,” bentakku kepadanya.
“Indri, aku suka sama kamu!.” Setelah mengatakan hal itu dia langsung lari meninggalkan diriku.
Aku benar-benar terkejut mendengar dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku tidak habis pikir pada dia, apa yang dilihatnya dariku sampai dia merasa suka kepadaku. Padahal penampilanku tidak menarik, wajahku biasa saja, kulitku tidak putih, dan sikapku juga kasar. Yang aku tahu, bukankah banyak anak perempuan di kelasnya itu yang suka padanya, tapi kenapa dia malah menyukaiku. Kalau aku coba ingat kembali, sepertinya kami berdua pernah bertemu di suatu tempat.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya teman-temanku datang juga. Mereka menghampiriku dengan membawa berbagai macam makanan kesukaanku. Ternyata mereka baik sekali, aku sudah salah sangka terhadap mereka.
“Ini, buat kamu Indri. Kamu kembali ke kelas saja sana!. Biar kami yang menyelesaikan sisanya. Maaf, ya, gara-gara kami semua, kamun jadi kena hukum. Lain kali kami akan mendengarkan nasehatmu. Kami janji tidak akan mengulangi kesalahan kami. Maafkan kami ya, indri!,” kata salah satu temanku.
“Iya, aku maafkan. Ya sudah, aku balik ke kelas dulu ya!,” seruku.
“Eh, tunggu Indri. Aku mau tanya sesuatu sama kamu?,” tiba-tiba saja Rida temanku menghadang diriku di depan pintu.
“Ada apa Rida?. Aku capek, aku mau kembali ke kelas!,” balasku dengan nada agak kesal.
“Waktu aku mau ke sini, tadi aku melihat anaknya Pak Zaid keluar dari ruangan ini. Sedang apa dia di sini, apa yang kalian berdua lakukan?. Hayo, aku mencium bau aneh darimu.”
Rida adalah sahabat terbaikku di kelas, kami berdua selalu berbagi keluh kesah satu sama lain. Intinya, persahabatan kami bagai kepompong. Kayak judul lagu, ya?. Kembali ke Rida. Dia mulai penasaran dengan apa yang dilihatnya. Aku bingung harus menjawab apa kepadanya. Teman-teman yang lain pun mulai mengarahkan pandangannya kepadaku, aku berpikir bahwa mereka sedang membayangkan hal-hal aneh tentang diriku. Sejujurnya, aku tidak mau mengatakan ini dihadapan teman-teman yang lain, tapi agar tidak membuat penasaran, kuputuskan untuk menjawab pertanyaan Rida di hadapan mereka semua.
“Tidak ada apa-apa, Kok!. Jangan berpikiran negatif, dia menemuiku hanya heran saja melihat ada di ruangan ini sendirian. Begitu?.”
“Benar, seperti itu?,” tanya Sofi yang curiga kepadaku. Sofi juga salah satu sahabatku. Dia adalah anak yang paling tidak mudah percaya pada sesuatu yang didengarnya sebelum mencari tahu kebenarannya sendiri. Sepertinya Sofi tahu kalau aku sedang berbohong, untuk menghindarinya, aku pun langsung lari menuju ruang kelas.
“Iya, tidak ada apa-apa, hanya itu saja. Sudah ya, aku mau ke kelas dulu. Kalian, bersihkan ini sampai bersih, ya!,” Balasku sambil melangkahkan kaki pergi meninggalkan mereka.
Untung saja, aku bisa lolos dari Sofi, kalau aku masih meladeninya, dia pasti akan mulai bertanya hal yang aneh-aneh kepadaku. Saat aku tiba di depan kelasku, ternyata Rori sedang duduk-duduk di samping pintu bersama teman-temannya.
“Indri, temanku yang pendiam ini suka sama kamu, Loh!,” seru salah satu teman Rori.
Aku melihat Rori seperti tersipu malu, wajahnya tertunduk, dan kemudian langsung pergi begitu saja tanpa melihat diriku.
“Rori!,” kupanggil namanya, dia malah tidak balik menoleh kepadaku.
“Dia malu sama kamu. Sebenarnya, dia sudah lama memperhatikanmu dari awal masuk sekolah. Aku sudah bisa menebaknya sewaktu dia melamun sendirian di lapangan. Ia terus saja melihatmu ketika kamu sedang asyik bermain basket dengan teman-temanmu. Sebenarnya, waktu itu, dia mau mengajakmu bicara, tapi karena banyak teman-temanmu di sana, dia tidak jadi melakukannya. Begitu tahu kamu dihukum oleh Bu Ani, dia langsung pergi ke kelasmu. Memastikan bahwa kau tidak apa-apa. Sepertinya, dia benar-benar menyukaimu. Kalau aku bilang, ini bukan cinta monyet, tapi benar-benar cinta dari dalam hati,” ungkap Dani sahabatnya Rori.
Setelah mendengarkan pernyataan Dani, aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa kepada Rori yang punya perasaan kepadaku. Pikiranku campur aduk hingga tak bisa fokus dalam menerima pelajaran. Sampai nilaiku pun ikut jeblok karena masalah ini. Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau hanya karena memikirkan seseorang prestasiku turun. Akhirnya, aku putuskan untuk mengajak Rori bicara empat mata saja di perpustakaan sekolah. Semalam, aku telah mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya supaya menemuiku di perpustakaan sewaktu jam istirahat pertama. Dan dia membalas pesanku dengan menjawab ‘iya’.
Keesokan paginya di sekolah, aku tidak sengaja berpapasan dengannya sewaktu memasuki gerbang. Dia hanya memberikan senyuman manis kepadaku, tapi aku membalasnya dengan ekspresi cemberut. Bel berbunyi, waktunya jam istirahat pertama, aku sudah berada di perpustakaan lebih dulu untuk menunggunya. Lima menit kemudian, dia pun datang. Dia menghampiriku dengan wajah tersenyum bahagia seperti baru saja mendapatkan hadiah besar. Tanpa mengulur banyak waktu, aku pun langsung saja mengatakan maksud dan tujuanku mengajaknya bertemu.
“Rori, Aku berterima kasih kepadamu karena kau telah menyukaiku. Tapi, maafkan aku. Aku hanya ingin fokus belajar. Setelah kau mengungkapkan perasaanmu kepadaku, aku mulai memikirkannya dan itu mengaburkan konsentrasi belajarku. Jadi, aku mohon padamu, bersikaplah sewajarnya saja kepadaku. Lupakan saja perasaanmu itu, suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Tapi, maaf, orangnya itu bukan aku. Aku, pergi dulu, sampai jumpa!.”
Aku tahu hal ini akan membuatnya sedih, tapi aku juga tidak mau membuang masa remajaku hanya untuk perasaan sesaat. Di masa muda ini, aku ingin menggapai prestasi sebanyak mungkin, bukan memikirkan cinta yang belum pasti menjadi milikku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Bermuka Dua
%d blogger menyukai ini: