Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sejarah Singkat Tragedi G30S-PKI, Penculikan Jenderal TNI AD

Bagi bangsa Indonesia, sejarah merupakan catatan penting atas peristiwa yang terjadi di negara Indonesia.

Catatan sejarah paling kelam yang pernah terjadi adalah G30S-PKI yang hingga saat ini simpang siur dalang dari gerakan tersebut.

Namun sejarah lainnya tidak bisa dihilangkan dan akan menjadi sebuah pembelajaran penting bagi bangsa ini.

Gerakan 30 September ini dimulai ketika sekelompok gabungan pasukan pimpinan Letkol Untung memanggil paksa para jenderal-jenderal TNI AD.

Para tokoh jenderal TNI AD yang diculik ini diduga oleh Partai Komunis Indonesia sebagai tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam Dewan Jenderal yang akan merebut kekuasaan pemerintah yang sah dari presiden Soekarno.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan-pasukan ini mulai bergerak menuju kediaman:
1. Men/Pangad Letjen A. Yani,
2. Deputi II/Pangad Mayjen TNI Suprapto,
3. Asisten I/Pangad Mayjen TNI S. Parman,
4. Deputi III Men/Pangad Mayjen TNI M.T. Hartono,
5. Oditur Jenderal Militer/Inspektur Kehakiman AD Brigjen TNI Sutoyo,
6. Asisten II/Pangad Brigjen TNI D.I. Panjaitan,
7. Menko Hankam/Kasab TNI A.H. Nasution.

Dari tujuh target, pasukan pimpinan Letkol Untung hanya berhasil mendapatkan enam jenderal. Satu targetnya, yaitu Menko Hankam/Kasab TNI A.H. Nasution berhasil meloloskan diri.

Sayangnya, ajudan Menko Hankam/Kasab TNI A.H. Nasution yaitu Lettu Piere Tendean ikut dibawa oleh pasukan Letkol Untung dan putri Jenderal A.H. Nasution tertembak dan meninggal dunia.

Selain itu, turut gugur Aipda Karel Satsuit Tubun, pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena yang rumahnya berdekatan dengan rumah Jenderal A.H. Nasution.

Keenam jenderal dan 1 orang kapten tersebut dibawa menuju ke Lubang Buaya yang merupakan markas komando Gerakan 30 September 1965.

BACA JUGA :   Tiga Pilar Tak Bosan Gencarkan Operasi Yustisi Pendisiplinan Protokol Kesehatan

Di Lubang Buaya, tiga orang jenderal yang masih hidup kemudian dibunuh. Keenam jenazah perwira tinggi TNI AD itu bersama dengan jenazah Lettu Piere Tendean kemudian dibuang ke dalam sumur tua agar bisa menghilangkan jejak.

Areal sumur yang digunakan sebagai tempat pembuangan mayat enam jenazah perwira tinggi TNI AD dan satu kapten ini, merupakan daerah yang sebelumnya adalah perkebunan karet yang berbatasan dengan lapangan udara Halim Perdana Kusuma.

Berkat informasi dari seorang polisi bernama Sukitman yang ikut diculik dan dibawa ke Lubang Buaya namun berhasil melarikan diri. Sumur tua tersebut akhirnya berhasil ditemukan tepat pada tanggal 3 Oktober 1965.

Sumur kemudian digali dan jenazah ketujuh anggota TNI AD itu ditemukan untuk kemudian diangkat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: