Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Nikah Siri, Hamil dan Di Tinggal Suami

SAYA pernah membaca dari laman NU Online, Prof. Chuzaemah selaku Komisi Fatwa MUI Pusat mengatakan bahwa praktik nikah siri dapat menyebabkan maraknya praktik poligami. Dia juga menceritakan kisah terkait nikah siri yang pernah ditemui.

Sebenarnya praktik nikah siri punya cerita yang cukup panjang di berbagai negara. Nikah siri punya jenis dan sebutan lain di Irak, yakni mut’ah dan misyar.

Mut’ah merupakan pernikahan yang dijalankan selama periode tertentu atau bisa disebut kawin kontrak, sedangkan misyar merupakan pernikahan yang umumnya dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan seksual jadi suami dan istri bisa tinggal terpisah lalu bertemu pada waktu tertentu.

Sedangkan pernikahan misyar, pihak perempuan berpeluang sangat besar mengalami kerugiaan. Ia seolah dipaksa rela jika hak-haknya tak dipenuhi karena suami biasanya mementingkan istri yang sah.

Saya juga ingin berbagi kisah nikah siri yang terjadi di kota Jayapura. Dalam kasus yang saya temukan termaksud pernikahan Misyar.

Di Masa pademi Covid-19, memang mengguncang setiap orang. Apalagi ibu berinisial “ID” yang tinggal di rumah kontrakan dengan mengasuh empat orang anak tanpa suami, dan pemasukan jualan pun berkurang, tentu tambah beban hidup lagi dengan kehamilannya itu.

“Saya dinikahi sirih, dan sejak bulan Januari sudah tidak ada kabar sama sekali dari suami. Saya coba menghubunginya berkali-kali tapi Handphone tidak aktif. Kemungkinan dia sudah pergi meninggalkan kehidupan saya sendiri disini.

Nikah siri cenderung membuat salah satu pasangan, khususnya suami lebih leluasa untuk meninggalkan kewajibannya. Banyaknya perlakuan kekerasan terhadap istri. Dapat memengaruhi psikologis istri dan anak.

Dampak nikah sirih, pihak perempuan tidak bisa menuntut hak-haknya sebagai istri yang telah dilanggar oleh suami karena tidak adanya kekuatan hukum yang tetap terhadap legalitas perkawinan tersebut.

BACA JUGA :   Manfaat Buah dan Sayuran

“Malam ini, saya sudah tidak tahan lagi ingin mau melahirkan dengan di tandai dengan rasa mual dan perut sakit kian menusuk. Memang dari buku bersalin, bulan September genap sembilan bulan usia kandungan ini dan seharus saya sudah di rumah sakit untuk melahirkan.

Saya jadi bingung. Masalahnya, tidak tahu harus menitipkan empat orang anak ini ke siapa, dan tidak ada uang untuk bersalin, serta tidak ada surat jaminan kesehatan. Apalagi sekarang sudah malam menunjukan pukul 18.00 WIT.

Handphone Berdering dari nomor baru. Terdengar suara perempuan, setelah dia memperkenalkan diri dan masalah serta dari mana dia mendapatkan nomor handphon ku.

Jujur saya capek, setelah seharian beraktifitas di Jayapura kota dan baru sampai di rumah pada malam hari ini. Belum mandi atau makan, dan panggilan telepon masuk.

Hallo pak, ini dengan ibu ID. Saya mendapatkan nomor Handphone dari teman bapak. Ini saya punya Masalah mau melahirkan dan saya tinggalnya di Yotefa.

Iya. Ibu langsung saja ke rumah sakit, disana pelayanan bukan. Langsung saja ke UGD, suruh suami ibu untuk antar. Nanti pagi saya kunjungi ibu di rumah sakit. Ungkap ku sedikit kesal.

Iya. Tapi saya bingung, dengan empat orang anak saya masih kecil dan mereka tidak mempunyai bapak. Saya juga tidak punya biaya kesana. Jadi saya minta tolong antarkan ke rumah sakit. Saya tidak tahu lagi mau minta tolong sama siapa?

Ibu “ID” minta tolong karena kondisi ekonomi dan dia hidup dengan 3 anaknya yang masih kecil. Karena ini sebuah amanah, Sehingga saya melakukan home visit sekitar jam 18.00 WIT.

Saya menghubungi, ibu wakil walikota dan sampaikan kondisi ibu ini. Namun, ambulands lama datang untuk menjemput ibu ini. Sedangkan ibu sudah tidak bisa tahan lagi dan ingin mau melahirkan.

BACA JUGA :   Catatan Hati Seorang Ibu

Saya pun mengambil inisiatif untuk membawa sebuah mobil angkutan, langsung membawahnya ke RSUD Abepura. Setelah sampai tepat jam 21.09 WIT, ibu berada di UGD dan langsung melahirkan.

Berhati mulia, itulah yang dilakukan seorang pekerja sosial dalam merespon sebuah masalah sosial yang menggelitik hati seorang ibu singel parent beranak empat orang ini.

Tak terpikirkan olehnya, ada orang baik seperti seorang pekerja sosial yang turut membantu dalam mengantarkannya dalam kondisi hamil, tidak berdaya dan tidak punya biaya bersalin. Malaikat tanpa sayap dan bekerja untuk kemanusiaan. Itulah ungkapan bahagia yang keluar dari seorang ibu berinisial ID.

Puji Tuhan, jawab Ku. Setelah tiba di UGD baru sang bayi lahir. Yah, saya tidak apa yang penting ibu dan bayi selamat.

Ibu juga sudah mendapatkan jaminan kesehatan setelah pekerja Sosial berkoordinasi dengan dinas sosial dan mereka menyediakan jaminan kesehatan ini.

Nah, itulah sepenggal kisah tentang nikah siri hingga dampak negatif. Semoga bisa menjadi pertimbangan untuk kalian yang berniat melangsungkan pernikahan secara Siri.

Paskalis (49)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: