Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Catatan Kecil dari Liga Champions: Semua Serba Mungkin

Ungkapan bola itu bulat. Benar adanya. Maknanya ketika bola ditendang maka segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Ambil contoh ketika terjadi adu tendangan penalti. Logikanya 99% pasti gol. Kenyataannya tidak demikian. Bola bisa melambung, mengenai mistar atau tiang gawang, menyamping bahkan dapat ditangkap kiper.
Jangankan pemain yang masih amatiran. Pemain top seperti Lional Messi, Christiano Ronaldo bahkan pemain terbaik Eropa 2021 Jorginho pun bisa gagal mengeksekusi tendangan penalti.
Dalam konteks yang lebih luas dapat kita lihat dari ajang Piala Liga Champions 2021/2022. Seharusnya klub-klub elit Eropa seperti Chelsea, Manchester City atau Manchester United dari Liga Primer Inggris; Juventus, AC Milan atau Inter Milan dari Liga Serie A Italia dan Real Madrid, Barcelona dan Atletico Madrid dari La Liga Spanyol atau Paris Saint Germain (PSG) dari Ligue 1 Perncis.
Jika klub-klub tersebut bermain seharusnya selalu menang. Pasalnya di klub-klub besar nan kaya raya tersebut berkumpul para pemain sepakbola top dunia. Kenyataannya tidak.

Fenomena Sheriff Tiraspol
Pada gelaran Liga Champions 2021/2022 terdapat 2 tim debutan. Mereka adalah Young Boys dari Swiss dan Sheriff Tiraspol dari Moldova. Kedua klub gurem tersebut baru pertama kalinya lolos ke babak 32 besar Liga Champions.
Akan tetapi mereka ternyata bukan sekedar tim ‘pupuk bawang’ alias pelengkap penderita. Justru keduanya memunculkan sebuah fenomena baru. Semuanya serba mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin.
Pada matchday 1 Young Boys dan Sheriff Tiraspol membuat kejutan. Kalau tidak boleh dibilang bikin gempa di Liga Champions. Young Boys mampu mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1. Sementara Sheriff Tiraspol dapat menundukkan Shakhtar Donets 2-0.
Bahkan Sheriff Tiraspol melanjutkan kejutannya. Pada matchday 2 anak asuh Yuriy Vernydub itu mempermalukan Real Madrid di hadapan pendukungnya sendiri. Bermain di stadion Santiago Bernabeu mereka pecundangi tim asuhan Carlo Anceloti dengan skor 1-2.

BACA JUGA :   Miliki Duo Time

Contoh Lain
Untuk meyakinkan tentang semua serba mungkin ini bisa kita lihat dari hasil pertandingan lain pada fase grup Liga Champions pekan kedua yang baru saja berakhir.
Chelsea yang notabene juara Liga Champions tahun lalu. Takluk 1-0 dari si Nyonya Tua Juventus. Padahal di Liga Serie A Juve masih berkutat di papan bawah klasemen sementara. Bahkan sampai pekan ke-4 pasukan Max Allegri itu sempat berada di zona degradasi.
Boleh juga tengok hasil laga antara PSG versus Manchester City. Bintang anyar PSG Lionel Messi dapat mengantarkan timnya menang 2-0 dari anak asuh Pep Guardiola (mantan pelatihnya di Barcelona). Padahal pada laga matchday 1 Manchester City tampil begitu perkasa. Menang 6-3 dari RB Leipzig.
Begitulah fenomena dari pepatah bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dalam konteks sepakbola siapa yang kerja keras, percaya diri dan optimis terbuka peluang untuk menang. Sekalipun lawannya adalah klub besar bertabur bintang-bintang top sepakbola.
Sebaliknya sikap jumawa, anggap remeh lawan atau merasa sebagai tim tak mungkin dikalahkan. Memungkinkan mendatangkan kekalahan, rasa malu dan penyesalan.
Sebuah pelajaran hidup yang bisa dijadikan pengingat: semua serba mungkin.

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: