Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Jika Anak Dipukul Teman Mainnya

Bermain dengan teman sebaya pasti membuat anak senang. Namun, kadangkala anak pulang dalam keadaan menangis karena dipukul salah satu teman mainnya.

Saat mendapati kondisi yang seperti itu, apa yang harus kita lakukan?

Jika kita menyarankan anak untuk diam dan membiarkan perbuatan temannya itu, maka artinya kita mengajarkan anak kita untuk membenarkan kekerasan atau perilaku keliru orang lain terhadap dirinya.

Di kemudian hari anak kita akan menganggap bahwa perlakuan buruk orang lain terhadap dirinya adalah sesuatu yang wajar, atau merasa dirinya layak diperlakukan seperti itu.

Selain itu, ia dapat tumbuh sebagai pribadi yang terbiasa memendam rasa marahnya dan emosi negatifnya hanya untuk menyenangkan orang lain.

Namun, jika kita menyarankan anak untuk membalas pukulan temannya artinya kita mengajarkan pada anak untuk menggunakan kekerasan atau agresi untuk menyelesaikan persoalan untuk mencapai tujuan.

Di kemudian hari anak akan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk menghadapi persoalan atau untuk mencapai tujuannya.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?

  1. Latih anak untuk berani berkata pada siapapun yang berbuat buruk pada dirinya. “Stop, saya tidak suka.”
  2. Latih anak untuk segera pergi dari lokasi kejadian dengan tenang, dan segera melaporkan serta meminta bantuan orang dewasa yang bertanggung jawab di lingkungan tersebut. (Jika di sekolah laporkan pada guru, jika di rumah laporkan pada orang tua.)

Katakan pada anak pentingnya melaporkan situasi seperti apa adanya. TANPA DRAMA (tanpa dilebih-lebihkan). Tujuannya adalah meminta bantuan orang dewasa agar tidak terjadi hal serupa di kemudian hari.

  1. Ajak anak menenangkan diri, mengenali dan menghadapi emosinya. Jelaskan bahwa tidak mengapa anak merasa sedih, marah dan terluka. It’s okay
BACA JUGA :   Puisi : Mutiara yang Selamat

Ajak anak untuk mengekspresikan rasa marah dengan cara tidak menyakiti dirinya dan orang lain. Misalnya dengan menulis atau mencoret-coret kertas.

  1. Ajak anak untuk masuk dalam proses memaafkan (meski tidak dapat berlangsung segera, perlu proses).

Memaafkan bukan berarti membenarkan perilaku buruk orang lain, tetapi untuk mengelola rasa marah dan emosi negatif lainnya agar hal itu tidak lagi menyakiti hatinya.

  1. Latih kemampuan anak untuk menyelesaikan persoalan. Ketika anak mengadu tanggapi dengan tenang sesuai porsi. Jangan panik atau terburu-buru mengambil keputusan.

Pahami situasinya, ajak anak diskusi. “Menurutmu, kalau suatu saat kejadian seperti itu lagi, apa solusi yang bisa kamu lakukan?”.

  1. Hargai keberanian anak untuk menghadapi situasi yang menantang tersebut, dan hargai sikap tepat yang telah diambil anak (termasuk ketika anak memilih untuk langsung membalas perlakuan buruk orang lain dengan perlakukan buruk juga).

Semoga bermanfaat.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: