Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

APAP Mendorong Mama-mama Perajut Noken Berjualan Di Pesta PON XX Papua

Jika semua lancar, Asosiasi pengusaha Asli Papua (APAP) akan membawah rajutan mama-mama di wilayah adat Meepago untuk di jual di Jayapura. Hal ini di sampaikan Roberta Muyapa saat di hubungi.

Lanjutnya, Sebanyak 725 Noken asli Meewodide dan pernak-pernik akan di pasarkan dalam Rangkah meningkatkan nilai ekonomi mama-mama asli Papua.

Sebelumnya, Titus Pekei, penggagas Noken sebagai warisan budaya di UNISCO memberikan masukan kepada PB PON XX dengan tidak mendatangkan hasil rajutan tas Noken dari luar Papua untuk di jual murah di Event Nasional PON Papua Nantinya.

Memang Tas Noken mempunyai nilai filosofi, di ibaratkan sebagai sebuah Kehidupan. Kalau ko (Kau) tidak Hargai Noken dengan Baik, sama saja anda tidak hargai Sebuah Kehidupan.

Tas Noken wilayah Adat Meepago, memang Mahal karena rajutannya dan bahannya alami dan motif yang khusus menyesuaikan dengan wilayah adat di kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai Paniai dan Intan Jaya.

Tidak heran harganya juga berpariatif, antara Rp. 50 Ribu sampai 1 juta rupiah. Tergantung dari motif mulai dari anyaman kayu biasa hingga memakai kulit anggrek berwarna kuning.

Perlu di ketahui bahwa dulu paradikma Tas Noken sebagai cindera mata saja bagi kunjungan para pejabat, atau orang yang penting saat mengunjungi daerah Meepago.

Tapi kini dengan perkembangan jaman, Tas Noken sering di buat untuk di pasarkan demi membantu perekonomian Masyarakat.

Cuma, yang menjadi masalah mungkin saat memasarkan nantinya, perlu Pemerintah menyediakan tempat khusus untuk pemasaran sehingga salah satu sukses PON itu bisa tercapai dengan pemasukan nilai ekonomi orang asli Papua.

Pemerintah harus menghargai dan Menghormati Mama Papua (Para Perajut Noken) dengan memberi Ruang menjual hasil jerih payahnya sesuai keinginan mereka. Jika tidak di tata baik , nantinya mama-mama menjual serba sembraut.

BACA JUGA :   "Rumah Tua"

Tidak jauh berbedah dengan Ibu Yohance Magai, yang sudah dua hari berjualan Tas Noken dan aksesoris serta minuman dingin.

Menurutnya, “Harga Noken yang kami jual kalah harga sama yang di jual sama Pedagang lainnya. Mereka datangkan Noken dari pasar Hamadi yang di kirim dari pulau Jawa.

Alasan, harga Tas Noken mahal karena bahan baku yang kami beli di pasar mahal dan jika kami mau bikin risleting sama puring kami harus bayar lagi jadi jelaslah kami jual mahal.

Di sisi lain, Panitia sudah mengundang dan membuat pelatihan serta sediakan kami stand jualan, tapi ternyata Noken buatan dari luar yang sering laku terjual.

Sedangkan Noken yang kami sediakan di stand mau jual ke siapa?

“Kemarin saya bawah hanya bawah aksesoris dan noken dan yang terjual hanya 1 cincin lucu. Jadi di stand hanya minuman dingin dan makanan ringan yang sering masyarakat beli. Sehingga kami terpaksa jualan yang cepat laku, biar ada ongkos pulang, ungkapnya”.

Paskalis (49)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: