Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Filosofi Ngeteh

Tradisi minum teh sudah lama berlangsung. Dalam suatu komunitas, masyarakat atau bahkan negara.
Jepang dan Inggris adalah contoh dua negara yang mempunyai tradisi minum teh yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Di Jepang tradisi menyuguhkan teh atau disebut sado bahkan melalui suatu ritual khusus. Sementara di Inggris sekalipun merupakan acara yang resmi. Akan tetapi berlangsung secara lebih santai.
Teh sendiri diyakini oleh banyak orang mempunyai efek yang menenangkan. Maka tradisi minum teh dianggap dapat membawa ketenangan dalam kehidupan.
Berbeda dengan kopi yang diyakini bisa meningkatkan semangat. Maka harus diperhatikan dalam mengkonsumsi kopi bagi orang yang mempunyai penyakit jantung. Kopi membawa efek untuk mempercepat degup jantung.

Sejarah Penemuan Teh
Konon teh ditemukan secara tidak sengaja. Tersebutlah seorang kaisar di China sedang incognito ke wilayah pedesaan. Karena kelelahan kaisar dan pengawalnya beristirahat di bawah pohon. Sambil istirahat kaisar disuguhi minuman air putih. Karena masih panas maka dibiarkan saja beberapa saat biar tidak terlalu panas.
Tiba-tiba bertiup angin yang merontokkan beberapa lembar daun kering. Tanpa sengaja daun tersebut nyemplung ke tempat minum kaisar.
Setelah diperhatikan, lama-lama air dalam cangkir berubah warna. Merah kecoklatan. Sang kaisar pun mencoba mencicipi minumannya yang sudah berubah warna. Ternyata enak. Rasanya sepet-sepet manis.
Sejak saat itulah sang kaisar setiap hari minta dibuatkan minuman teh. Dalam perkembangannya kemudian dipadukan dengan gula dalam penyajiannya.

Filosofi Teh Orang Jawa
Oleh orang Belanda teh dibawa ke Indonesia. Ternyata iklim Indonesia cocok untuk menanam pohon teh. Maka kemudia pemerintah Belanda mengusahakan perkebunan teh.
Pabrik-pabrik pengolahan daun teh pun didirikan oleh Belanda. Dalam waktu singkat masyarakat Indonesia suka menikmati teh. Tidak terkecuali masyarakat Jawa.
Masyarakat Jawa lebih menyukai jenis teh hitam. Bukan teh hijau atau teh lembut seperti dalam teh celup.
Untuk menyuguhkan teh biasanya dipergunakan teko dari tanah liat yang disebut poci. Sehingga terkenal dengan sebutan teh poci.
Cara membuatnya sederhana. Tidak rumit seperti dalam tradisi minum teh di Jepang misalnya.
Untuk membuat teh. Cukup masukkan beberapa sendok teh hitam ke dalam poci. Selanjutnya tuang air panas yang baru mendidih ke dalam teko. Diamkan beberpa saat sampai keluar aroma teh. Selanjutnya teh siap dinikmati.
Agar mendapatkan sensasi rasa dalam ngeteh. Sebagai pemanis dipergunakan gula batu. Bukan gula pasir. Sensasi rasa pahit asem manis yang dihasilkan berbeda jika menggunakan gula batu.
Uniknya penyajian teh dengan gula batu tidak diaduk. Akan tetapi dibiarkan larut sendiri gula batunya di dalam cangkir. Hal ini sesuai dengan filosofi orang Jawa dalam memaknai perjalanan hidup seseorang.
Orang Jawa rela merasakan hidup susah atau pahit terlebih dahulu sebelum merasakan manisnya kehidupan. Seperti halnya pahitnya sajian teh dengan gula batu pada cangkir pertama.
Begitu habis air teh dalam cangkir. Maka akan dituangkan lagi teh dari teko. Kali ini gula batu mulai pecahan yang lebih kecil. Rasa manis mulai terasa tapi masih bercampur dengan rasa sepet. Begitu seterusnya sampai gula batu lebur menyatu dengan air teh. Rasa manis menjadi dominan dalam setiap seruputan teh poci.
Filosofi ini sejalan dengan per6ibahasa berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Beda dengan generasi saat ini yang maunya hidup langsung enak. Tanpa mau melewati proses pahit getirnya kehidupan. Inilah yang turut melahirkan sikap menggampangkan. Suka menerabas. Tidak jarang dengan menempuh cara-cara tidak baik. Bahkan melanggar norma di masyarakat dan hukum negara.
Untuk menghindari sikap serba instan. Tidak ada salahnya belajar dari filosofi ngeteh orang Jawa.

BACA JUGA :   Menghargai Pasangan

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: