Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Serakah vs Qonaah

Miris.
Semakin banyak saja orang yang dicokok oleh lembaga antirasuah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Dari para menteri sebagai pembantu presiden, anggota dewan yang terhormat, gubernur dan kepala daerah (bupati/walikota) sampai akademisi, praktisi dan profesional.
Kalau dipandang secara kasat mata. Apa yang kurang dalam kehidupan mereka? Bukankah mereka sudah mapan? Sudah tersedia apapun yang mereka inginkan.
Harta kekayaan yang melimpah. Rumah mewah, mobil mengkilap keluaran terbaru, jabatan yang prestisius bahkan istri atau suami yang cantik/tampan. Mau apalagi?
Tapi begitulah kehidupan. Tidak akan ada puasnya. Apalagi jika kehidupannya tidak dilambari dengan landasan agama. Hampa!
Sebagain menganggap semua terjadi karena ongkos politik yang mahal. Anggapan ini tentu bagi para politikus. Sebagian yang lain menduga karena sifat serakah yang melekat pada diri mereka.
Dari sudut politik. Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya untuk meraih jabatan politik (baca: publik) diperluka biaya yang mahal.
Sekedar gambaran. Jika sesorang ingin menjadi anggota dewan atau gubernur. Maka dia harus bisa merebut sekian ribu hati pemilih. Sudah barang tentu hal tersebut memerlukan biaya yang besar.
Biaya kampanye seperti untuk bikin kaos, bendera, baliho dan sebagainya. Belum lagi harus memberi ongkos jalan bagi tim suksesnya.
Tentu saja dalam lubuk hatinya jika menang maka dia mempunyai niat untuk mengembalikan modalnya. Sayangnya kadang jalannya salah. Ujung-ujungnya menyalahgunakan kewenangan dan kekuasaannya.
Tapi bisa jadi inisiatif bisa datang dari pihak luar yang mengiming-imingi sejumlah nominal. Apabila tidak kuat-kuat iman. Akhirnya akan tergoda rayuan fulus juga.

Sifat Serakah
Pandangan dari kaum agamawan. Semua bisa terjadi karena sifat serakah yang bersemayam dalam hatinya.
Serakah atau bahasa agamanya tamak adalah sifat yang ingin selalu mendapatkan lebih. Tidak ada kata cukup apalagi puas.
Penyakit hati yang satu ini memang tidak akan ada habisnya. Seperti dalam teori ekonomi bahwasanya kebutuhan manusia itu tidak terbatas. Satu macam kebutuhan terpenuhi maka akan muncul kebutihan yang lainnya.
Hal ini sejalan dengan bunyi sebuah hadits yang kira-kira maknanya apabila seseorang diberikan satu gunung emas maka dia pasti menginginkan gunung emas yang kedua dan seterusnya.
Solusinya kalau dari sudut ekonomi adalah dalam berbelanja harus berdasarkan kebutuhan. Bukan mengikuti keinginan.
Sedangkan penyelesaian berdasarkan agama adalah menumbuhkan sifat qonaah. Merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Yakin bahwasanya Tuhan memberikan rizki kepada umatNya sesuai dengan kadar kebutuhannya. Tentu saja Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh umatNya.
Menghilangkan sama sekali sifat serakah atau tamak tidak mungkin. Karena sifat serakah yang dapat dikelola dengan baik akan memberikan dampak yang baik pula. Misalnya serakah dalam hal beribadah atau bersedekah. Untuk sifat yang demikian tentu sangat dianjurkan. Terlebih dalam situasi ketika banyak anggota masyarakat yang kekurangan akibat pandemi covid-19.
Bukan malahan bantuan untuk masyarakat justru dikangkangi sendiri.
Semoga!

BACA JUGA :   Asal usul kota pati

Mas Sam

MasSam (61)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: