Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Iran Dan Gerakan-gerakan Destruktif Di Dalamnya

Iran, sebuah negara yang menandingi Romawi dalam menguasai dunia beradab. Juga merupakan gelanggang lama bagi gembong-gembong perusak yang di kenal dunia.

Sejak zaman dahulu, asas budi pekerti di negeri itu senantiasa goyah dan goncang. Ketika itu, perkawinan dengan anak atau keturunan sendiri yang di negeri lain sangat terlarang dan tercela. Sedangkan di Iran masih tetap menjadi persoalan yang di perdebatkan.

Hingga Yazdegird ke-II kawin dengan anak perempuannya sendiri, yang kemudian di bunuhnya. Di sebutkan pula bahwa Bahram Gobyan, raja yang memerintah Iran pada abad ke-enam Masehi, kawin dengan saudara perempuannya sendiri.

Profesor Arthur Crustin Sein, mahaguru bahasa-bahasa Timur pada Universitas Kopenhagen (Denmark) dan seorang ahli sejarah Iran. Mengatakan di dalam bukunya yang berjudul “Iran pada zaman sassanid” :

“Para sejarawan yang hidup pada zaman sassanid, seperti Gatyas dan lainnya. Benar-benar mempercayai adanya kebiasaan di kalangan orang-orang Iran, kawin dengan wanita-wanita yang sebenarnya tidak boleh di nikah.”

Dalam sejarah zaman sassanid terdapat bukti-bukti tentang perkawinan seperti itu. Misalnya Bahram Gobyan melakukan perkawinan seperti itu, demikian juga Gustap sebelum ia memeluk agama Nasrani.

Perkawinan seperti itu di kalangan orang-orang Iran tidak di pandang sebagai kejahatan. Bahkan di anggapnya sebagai perbuatan baik untuk mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Tuhan. Barangkali perkawinan seperti itulah yang di maksud oleh pernyataan seorang pengembara Cina, Huan Shuang. Ketika ia mengatakan : “Orang-orang Iran melakukan perkawinan tanpa pengecualian”.

Pada abad ke-tiga Masehi, muncul seorang bernama Mani. Dengan ajarannya yang terkenal dengan ” Mani-isme”. Kemunculannya merupakan reaksi luar biasa dan tidak wajar, serta merupakan tantangan terhadap merajalelanya nafsu syahwat di negeri itu. Juga sebagai akibat dari persaingan khayal antara cahaya dan kegelapan. Yakni antara khayalan tentang kebenaran dan khayalan tentang kebatilan.

BACA JUGA :   Awas, Kebiasaan Minum Kopi Dapat Menyebabkan Cepat Gemuk lho!

Mani berseru kepada manusia supaya hidup membujang (tanpa keluarga) guna meniadakan sumber-sumber kerusakan dan kejahatan dari kehidupan dunia. Ia juga mengumumkan ajarannya, bahwa mencampuradukkan cahaya dengan kegelapan adalah suatu kejahatan yang harus di hindari.

Berdasarkan prinsip ajaran tersebut ia melarang perkawinan agar manusia cepat musnah dan dengan memutuskan keturunan berarti memenangkan cahaya atas kegelapan.

Akhirnya ia di bunuh oleh Bahram pada tahun 276 Masehi sambil mengatakan : Kalau ia muncul dengan seruan menghancurkan manusia, maka ia harus mulai dengan menghancurkan dirinya sendiri sebelum ia mencapai sesuatu yang di inginkannya.

Akan tetapi ajaran-ajaran Mani tidak turut mati, bahkan masih tetap hidup hingga zaman setelah masuknya islam ke Persia. Jiwa dan watak Persia bangkit memberontak terhadap ajaran-ajaran Mani-isme yang melampaui batas. Dan muncullah ajaran Mazdak pada tahun 487 Masehi. Ia mengumumkan bahwa semua manusia di lahirkan dalam keadaan sama tanpa perbedaan apa pun juga.

Oleh karena itu, manusia harus hidup secara sama dan tidak boleh ada perbedaan. Mengingat bahwa kekayaan dan wanita membuat manusia mengutamakan diri sendiri dan menjadi sumber perbedaan sosial. Menurut Mazdak dua hal itu merupakan persoalan terpenting yang harus di persamakan dan di kolektifkan.

Asyharustaniy dalam bukunya yang berjudul “Al-Milal Wan-Nihal” mengatakan : “Mazdak membolehkan menggauli semua wanita, mengambil harta milik setiap orang seperti kekolektifan manusia dalam memanfaatkan air, api dan padang penggembalaan”.

Seruan tersebut mendapat sambutan dan persetujuan dari kalangan pemuda, kaum hartawan dan golongan-golongan yang hidup berfoya-foya, karena sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka. Ajaran Mazdak ini beruntung juga karena mendapat perlindungan dari istana.

Qubads, raja Persia ketika itu, turut memperkuat, mendukung dan aktif menyebarluaskannya. Sehingga akibat pengaruh ajaran tersebut, Iran tenggelam dalam kebiadaban nafsu syahwat dan kekacauan akhlak.

BACA JUGA :   Antara Orang-orang Yahudi dan Orang-orang Nasrani

Mengenai hal itu, Ath-Thabariy mengatakan : “Sebelum itu, Qubads sebenarnya termasuk raja Persia yang terbaik. Tetapi setelah melibatkan diri dalam kerjasama dengan Mazdak, kekacauan merajalela dan ketentraman menjadi rusak”.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: