Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerita Mini – Nino yang Menunggu Kepulangan Ayahnya

Nino yang Menunggu Kepulangan Ayahnya
Oleh: Tn. Typo

Usiaku 7 tahun saat ayah beranjak dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Usahanya untuk membuatku tidak terjaga sia-sia. Tetap saja telingaku mendengar bunyi ranjang kayu yang berderak saat ia beranjak. Namun, aku tetap memejam. Bahkan jemariku tak bergerak sedikit pun. Aku mengandalkan pendengaran untuk menebak apa yang sekiranya ia lakukan sepagi ini.

Tak lama setelah ayah keluar dari kamar, aku mendengar peralatan dapur beradu. Mungkin ayah menyiapkan sarapan sebelum ia pergi entah ke mana. Ya, entah ke mana. Karena aku sudah lama mendengar perbincangan ayah dengan Paman Santoyo. Tak banyak yang kudengar, tetapi cukup untuk menarik kesimpulan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat yang jauh dan ia bermaksud menitipkanku sementara pada Paman Santoyo.

Aku masih dengan posisi semula saat ayah kembali ke kamar. Aku bisa merasakannya tengah berdiri menatapku. Mungkin dia tersenyum. Mungkin juga menangis. Entahlah, yang pasti aku tak siap akan hari-hari yang kulalui setelah kepergiannya.

Aku merasakan ayah mendekat, tangannya yang kasar membelai kepalaku, kemudian mencium keningku. Aku mencium aroma yang khas, parfum yang sangat jarang ia pakai. Ayah membelinya beberapa bulan lalu dan masih tersisa banyak.

Jantungku berdetak kencang. Kurasa ayah mendengarnya. Baiklah, kuputuskan untuk membuka mata dan menangis. Ya, aku bukan aktor yang ahli dalam menyembunyikan ekspresi sebenarnya. Aku takut ditinggal, seperti ibu yang pergi entah ke mana saat aku berusia tiga tahun.

Sudut bibir ayah tertarik ke atas, membentuk senyum menawan yang terbingkai kumis tipis. Sekali lagi, ia mengecup keningku.

“Ayah mau pergi ke mana?”

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 22

Pria itu menarik napas. Namun, ia masih tersenyum, seolah-olah tak ingin membuatku khawatir. Mungkin ia akan berkata semua baik-baik saja bila aku mencoba melarangnya pergi.

“Ayah akan pergi berburu, Nak. Kamu tahu, kan, hanya itu yang bisa ayah lakukan untuk memenuhi kebutuhan kita.”

Aku termenung. Rasa kantuk membuat otakku bekerja lebih lambat. Aku menatap langit-langit, memikirkan apa yang seharusnya kukatakan. Aku ingin melarang ayah pergi. Entah untuk alasan apa. Seolah-olah ayah akan pergi untuk waktu yang tak bisa kupastikan.

“Nak, ayah sudah sering meninggalkanmu berburu, kan?”

Aku menoleh, menatap lurus pada kedua bola matanya.

“Kau ingat, Ayah pernah meninggalkanmu selama 3 hari bersama Paman Santoyo. Ayah kembali dengan hewan buruan.”

Aku mengangguk. Perkataan ayah semakin meminimalisir kata yang bisa kupikirkan. Setiap keraguanku perlahan ditepis. Apakah aku terlalu khawatir? Sekali lagi ayah mengecup keningku dan aroma parfumnya menyadarkanku.

“Ayah tidak pernah mengenakan parfum jika pergi berburu.”

Seperti terkena sengatan listrik, ayah mematung. Senyumnya hilang, tatapannya kosong. Entah apa yang ia pikirkan. Untuk waktu yang terasa sangat lama, ayah hanya menatap tembok. Aku tak menegurnya. Ayah pasti merencanakan sesuatu.

Ayah menarik napas panjang dan berat. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Nak, ayah akan pergi berburu ke luar kota. Tentu, Ayah harus mengenakan pakaian yang rapi dan pakai parfum, kan? Ayah bisa diusir dari bus jika bau badan.” Ayah tertawa setelahnya, dan bodohnya, aku ikut tertawa. Seolah-olah ini semua hanya lelucon.

Saat fajar mulai terlihat, saat itulah Paman Santoyo menjemputku. Ayah berangkat ke terminal bersama seorang pria yang jauh lebih tua. Seingatku, pria itu bukan pemburu. Namun, sudahlah. Mungkin mereka akan pergi ke kota yang sama dengan alasan berbeda.

BACA JUGA :   Cerpen Kanvas Dan Pensil Ajaib

Setelah ayah pergi, aku melalui hidupku seperti biasa. Pergi ke sekolah dan menceritakan pada teman-temanku tentang seorang pemburu yang sangat tangguh. Seorang pria yang bertarung dengan rasa takut, sendirian di tengah hutan, dan pulang dengan selamat. Tak lupa, aku mengatakan bahwa ayah pergi ke luar kota dan akan pulang membawa oleh-oleh yang banyak. Tentu, teman-temanku takjub mendengarnya. Mereka tampak gembira, karena apa pun yang akan dibawa oleh ayah, akan kutunjukkan kepada mereka.

Hari demi hari berlalu. Memasuki satu bulan pertama, aku mulai merindukan ayah. Aku berulangkali bertanya pada Paman Santoyo, tetapi tak ada jawaban. Aku mulai gelisah. Hingga pada suatu malam, aku tak sengaja mendengar pembicaraan Paman Santoyo dengan seseorang di telepon.

“Kau tak bisa terus seperti ini, Dino. Apakah kau tidak merindukan anakmu?”

“Tentu saja aku merindukannya. Tapi, bagaimana aku akan pulang membawa seorang wanita yang bukan ibu kandungnya?”

“Lalu kau akan bersembunyi sampai kapan? Sampai dia tahu yang sebenarnya?”

“Aku butuh waktu. Aku pasti akan menemuinya. Tenang saja.”

“Baiklah. Aku ak—”

“Paman?”

Paman menoleh sangat cepat saat aku memanggilnya. Ponsel di tangannya buru-buru disembunyikan. Wajahnya menegang, matanya menatapku bingung. Bibirnya membuka, lalu menutup tanpa ada suara. Panik. Ya, Paman pasti kebingungan sekarang. Namun, apa yang dipahami anak usia 7 tahun?

Sekarang usiaku menginjak 18 tahun. Usia yang cukup tepat untuk mengetahui semua rahasia yang selama ini disembunyikan. Saat usiaku 7 tahun, mungkin aku tidak paham apa pembicaraan mereka. Namun, ingatkanku cukup baik untuk menyimpan memori itu.

“Nak, maafkan Ayah. Ayah tidak bermaksud berbohong padamu. Ayah akan pulang menemuimu.”

Aku menarik napas. Berdiri di depan pintu yang dulu menjadi tempatku berdiri melepas kepergian ayah.

BACA JUGA :   Novel Takdir: Chapter 1

“Baiklah. Aku akan menunggu Ayah di sini, kapan pun Ayah kembali dengan hewan buruan. Karena saat usiaku 7 tahun, ayahku pergi untuk berburu.”

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: