Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perang Saudara Seagama Dalam Negeri Di Kerajaan Romawi

Sebelum kelahiran islam, agama-agama besar ternyata menjadi mangsa manusia-manusia yang mempermainkan agama. Agama di jadikan barang mainan oleh tukang-tukang revisi agama dan kaum munafik. Sehingga agama itu kehilangan jiwa dan bentuknya semula. Pada masa itu agama-agama besar hanya menjadi gelanggang permainan peradaban, kebudayaan, kekuasaan, politik.

Agama-agama tidak lagi dapat melaksanakan missinya terhadap dunia dan tidak pula dapat menyampaikan da’wah apapun kepada bangsa-bangsa. Bangkrutlah sudah semua segi moralitasnya dan tidak menentu lagi arah hidupnya.

Terjadilah perdebatan mulut mengenai soal agama dan mengenai ajarannya yang terpokok. Perdebatan-perdebatan tajam yang tidak berujung-pangkal dan menyesatkan itu sangat mengacaukan fikiran umat Nasrani. Sehingga menelan habis kemampuan akal mereka dan kesanggupan kerja mereka. Bahkan sering mengakibatkan timbulnya pertumpahan darah, pembunuhan, penghancuran, penyiksaan, penyekapan di bawah tanah dan perampasan.

Perguruan-perguruan, gereja-gereja dan istana-istana berubah menjadi kubu-kubu keagamaan yang saling bersaing dan bertanding. Dan akhirnya menjerumuskan negeri ke dalam perang saudara. Bentuk pertikaian keagamaan yang paling dahsyat ketika itu ialah yang terjadi antara kaum Nasrani di Syam. Dan negara Romawi di satu pihak dengan kaum Nasrani di Mesir.

Pada abad-abad keenam dan ketujuh pertentangan antara dua golongan itu menghebat sedemikian rupa tajamnya. Hingga seakan-akan sudah merupakan peperangan yang tiada henti-hentinya antara dua agama yang saling bersaing dan bertanding. Seolah-olah sudah merupakan pertikaian antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, dimana masing-masing pihak saling mengatakan : Agamamu tidak benar sama sekali.

Mengenai hal itu doktor Alfred G. Butler menulis : “Yang memalukan dalam dua abad tersebut, ialah terjadinya peperangan yang terus-menerus antara orang-orang Mesir dan orang-orang Romawi. Peperangan yang di cetuskan oleh pertikaian tentang ras dan agama. Namun pertikaian tentang agama jauh lebih hebat daripada pertikaian tentang ras.

BACA JUGA :   Bertani Adalah Warisan Leluhur

Jika pada waktu itu yang menjadi salah satu penyebab tercetusnya peperangan adalah permusuhan antara Malkanisme dan Monovesisme. Maka golongan pertama tersebut merupakan golongan penganut madzhab resmi negeri Imperium. Golongan pendukung raja dan negara yaitu kaum penganut keyakinan bahwa Al-Masih mempunyai sifat kembar.

Sedangkan golongan yang lain selalu menjelek-jelekkan keyakinan golongan pertama. Dan terus-menerus mencelanya serta memeranginya dengan keras dan semangat yang sangat berkobar-kobar. Sukar sekali bagi kita untuk dapat membayangkan atau memberikan pengertian kepada orang-orang yang berakal-budi tentang bagaimana sesungguhnya peperangan itu berlangsung. Sekalipun orang-orang itu percaya kepada Injil.

Maharaja Heraclus, setelah kemenangannya dalam peperangan melawan Persia pada tahun 638 M. Menghimpun semua madzhab yang saling baku hantam di dalam negeri untuk di persatukan dan di usahakan persesuaiannya. Persesuaian itu di wujudkan dalam bentuk melarang adanya pembicaraan untuk mendalami masalah sifat Al-Masih. Yakni apakah Al-Masih mempunyai sifat tunggal ataukah kembar.

Penduduk di perintahkan supaya meyakini bahwa Tuhan hanya mempunyai satu kehendak dan satu takdir (qadha). Dan monotheisme menjadi madzhab resmi negara dan mendapat dukungan dari para pendukung gereja.

Kemudian Heraclus berniat hendak melahirkan madzhab baru yang berlainan dengan madzhab-madzhab yang saling berbeda. Untuk itu ia berusaha menempuh berbagai cara. Ia puas bila penduduk sudah mau mengakui bahwa Tuhan hanya mempunyai satu kehendak. Sedangkan masalah-masalah lainnya, seperti pembicaraan mengenai pelaksanaan kehendak Tuhan dalam bentuk perbuatan. Dan semua penduduk di larang memperbincangkan atau memperdebatkan masalah tersebut.

Larangan itu di tuangkan dalam bentuk surat resmi yang di kirimkan ke segenap wilayah Timur Imperium Romawi. Akan tetapi menurut kenyataannya, surat tersebut tidak dapat menenangkan angin ribut di Mesir.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: