Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Antara Orang-orang Yahudi dan Orang-orang Nasrani

Di Eropa, Asia dan Afrika bertebaran suatu bangsa yang paling kaya dengan bahan pemikiran tentang agama. Juga merupakan suatu bangsa yang paling mudah memahami peristilahan-peristilahan agama dan maknanya. Mereka itu ialah orang-orang Yahudi.

Akan tetapi mereka tidak menjadi faktor peradaban, politik atau agama yang berpengaruh terhadap bangsa lain. Bahkan berabad-abad lamanya mereka di takdirkan bernasib buruk. Di kuasai oleh bangsa-bangsa lain, menjadi sasaran pengejaran dan penindasan, pembuangan dan pengusiran, siksa dan bencana.

Mereka mewarisi sejarah khusus nenek-moyang, yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa terhadap bangsa-bangsa lain. Seperti politik perbudakan selama kurun waktu yang panjang, pengejaran-pengejaran sangat bengis, kecongkakan rasial, mengagung-agungkan silsilah keturunan dan serakah mengejar kekayaan.

Semuanya itu mewariskan mental yang aneh, yang tidak terdapat di kalangan bangsa mana pun di luar mereka. Mereka mempunyai ciri-ciri moral yang khas, yang oleh mereka di bangga-banggakan sepanjang zaman dan turun-temurun.

Antara lain : Rendah diri di saat lemah, bengis dan berlaku kasar di saat jaya, gemar menipu dan bersikap munafik dalam keadaan-keadaan biasa, kejam, egois, suka makan harta orang lain dan suka menghalang-halangi jalan Allah.

Pada permulaan abad ke-tujuh terjadi berbagai peristiwa yang membuat orang-orang Yahudi lebih membenci orang-orang Nasrani begitupun sebaliknya. Dalam tahun terakhir kekuasaan Phucas (610 M), orang-orang Yahudi di Antakia melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Nasrani.

Panglima Abnosus di kirim oleh maharaja Romawi ke daerah tersebut untuk menghancurkan pemberontakan orang-orang Yahudi. Dalam melaksanakan tugas penumpasan, Abnosus melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa kejamnya. Semua orang Yahudi di bunuh dengan pedang, di gantung, di tenggelamkan ke dasar laut. Dan melalui penyiksaan-penyiksaan lain seperti di lempar ke dalam kandang singa sebagai umpan.

BACA JUGA :   TRAGEDI KAPAL 17845

Keadaan seperti itulah yang terjadi berulang-kali antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dalam bukunya “Al-Khuthath”, Al-Muqriziy mengatakan : ” Pada zaman kekuasaan Phucas (maharaja Romawi), Raja Persia, Kisra, mengerahkan bala-tentara ke Syam dan Mesir. Mereka menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem dan Palestina serta semua gereja di Syam.

Di syam, mereka membunuh semua orang Nasrani. Kemudian menuju ke Mesir untuk melakukan tindakan yang sama. Kaum Nasrani di Mesir banyak sekali yang di bunuh dan tidak terhitung banyaknya rakyat Mesir yang di jadikan budak. Dalam menumpas orang-orang Nasrani dan menghancurkan gereja-gereja mereka, bala-tentara Persia di bantu oleh orang-orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi yang bergabung dengan bala-tentara Persia banyak yang datang dari Thebria, Galilea, Nazareth dan Yerusalem. Mereka turut menumpas orang-orang Nasrani, melakukan pembantaian, membakari rumah-rumah, merusak kayu-kayu salib dan menahan Uskup Yerusalem bersama rekan-rekannya yang tidak sedikit jumlahnya.

Setelah menguraikan proses penaklukan Persia terhadap Mesir, Al-Muqriziy lebih jauh mengatakan : “Dalam keadaan seperti itu, orang-orang Yahudi di kota Shour memberontak. Mereka mengerahkan orang-orang yang tinggal di kota tersebut untuk menumpas dan membunuh orang-orang Nasrani. Terjadilah perang antara dua belah pihak. Kekuatan Yahudi yang terdiri dari 20.000 orang meruntuhkan gereja-gereja Nasrani di kota Shour.

Tetapi kaum Nasrani ternyata berhasil mengerahkan kekuatan lebih besar sehingga orang-orang Yahudi dapat di kalahkan dan banyak yang mati terbunuh. Ketika itu Heraclus telah menempati singgasana kerajaan di Constantinopel. Dan dengan berbagai akal-muslihat yang di lancarkan terhadap Kisra, Raja Persia, Heraclus dapat mengalahkan Persia dan memaksa mereka mundur.

Heraclus kemudian pergi meninggalkan istana Constantinopel. Untuk memulihkan kembali kekuasaannya atas Syam dan Mesir serta merehabilitasi apa yang telah di rusak oleh orang-orang Persia.

BACA JUGA :   Sejarah Nasi Jamblang yang Melegenda, Berawal dari Sedekah untuk Para Pekerja hingga Jadi Ikon Kuliner Cirebon

Mendengar berita tentang keluarnya Heraclus dari Constantinopel, orang-orang Yahudi di Thebria dan kota-kota lain berbondong-bondong menghadap Raja Romawi untuk menyampaikan hadiah-hadiah berharga sambil mohon kepadanya agar raja akan menjamin keamanan mereka. Permohonan tersebut di terima oleh raja, kemudian ia masuk ke kota Yerusalem.

Kedatangannya di sambut oleh orang-orang Nasrani dengan membawa kitab-kitab Injil, salib-salib, dupa-dupa dan lilin-lilin menyala. Kota itu di jumpai oleh raja dalam keadaan gereja-gereja dan menara-menara serba rusak. Ia sedih menyaksikan pemandangan seperti itu. Kesempatan ini di pergunakan oleh kaum Nasrani untuk memberitahu kepada raja mengenai pemberontakan yang telah di lakukan oleh orang-orang Yahudi bersama-sama orang Persia.

Dan semua perbuatan mereka terhadap kaum Nasrani serta penghancuran yang mereka lakukan terhadap gereja-gereja. Di laporkan juga bahwa orang-orang Yahudi lebih buas di banding dengan orang-orang Persia. Dan mereka banyak sekali membunuh tiap orang yang tidak bersedia membantu mereka.

Orang-orang Nasrani itu kemudian mendesak Heraclus supaya mengambil tindakan kekerasan terhadap orang-orang Yahudi. Terhadap desakan itu, Heraclus mengatakan bahwa ia telah memberi jaminan keamanan yang telah di janjikan kepada orang-orang Yahudi.

Menanggapi alasan Heraclus itu, para rahib, uskup dan orang-orang suci Nasrani yang hadir menyatakan fatwa bahwa tindakan membasmi orang-orang Yahudi bukan perbuatan dosa. Karena mereka telah menggunakan tipu-muslihat untuk memperoleh jaminan keamanan dalam keadaan raja tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah di lakukan oleh mereka.

Lebih jauh para pemuka Nasrani itu juga menyatakan kesediaan mereka untuk menebus dosa atas di ciderainya janji raja yang di nyatakan dengan sumpah. Yaitu dengan berpuasa tiap hari Jum’at setiap tahun dan mewajibkan semua orang Nasrani agar melakukan puasa seperti itu sepanjang zaman.

BACA JUGA :   Pemujaan Kepada Raja-raja Persia

Ternyata raja tertarik kepada pernyataan mereka, lalu melancarkan tindakan pembasmian dan pemusnahan total terhadap orang-orang Yahudi. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang di biarkan hidup dan tinggal di dalam wilayah kekuasaan Romawi, Mesir dan Syam”.

Dengan adanya kenyataan sejarah tersebut, terbuktilah sejauh mana kekejaman-kekejaman yang terjadi antara dua golongan. Yahudi dan Nasrani telah menumpahkan darah manusia di saat-saat adanya kesempatan untuk melancarkan pembasmian terhadap musuh, yaitu kekejaman-kekejaman yang tidak kenal batas.

Dengan kemerosotan akhlak dan penghinaan terhadap kehidupan manusia, tidak mungkin satu golongan atau bangsa dapat menunaikan missi kebenaran, keadilan dan perdamaian. Agar manusia dapat menikmati hidup bahagia di bawah naungan kekuasaannya.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: