Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Aku Takut

Ketika matahari tenggelam, ketakutan mulai menghampiri benak Bimbin. Apa lagi tadi sore beberapa temannya telah di jemput paksa oleh polisi.

Semua teman telah diamankan, dan kini tinggil dia yang masih menjadi target berikutnya.

Niat Polisi baik, untuk mengamankan setiap pelaku anak. Apalagi ada kabar buruk bahwa dari keluarga korban masih menyimpan dendam. Hal ini menjadi beban pikiran buat bapak Bimbin, jika anaknya itu masih berada di rumah, bisa saja tindakan main hakim dari keluarga korban memuncak dan mengarah ke rumah mereka.

Di dalam kamar tidur, mata Bimbin melongo dalam kebingungan menatap satu arah pandangan. Lampu kamar di matikan, sesekali dia membuka kain horden jendela untuk menengok dan memastikan situasi diluar sana. Wajah kian kusam, rasa takut, bimbang, ragu dan bersalah menghimpit raganya, tak terpikirkan suasana akan berubah kian menjadi buruk.

Memang benar, semua itu kembali ke dalam pendidikan keluarga. Saya melihat kurang optimalnya peran dan tanggung jawab orang tua dalam membimbing buah hati mereka di lingkungan sosial menjadi pintu masuk segala tindakan kejahatan.

Di daerah Entrop, Polimak dan Hamadi, Jayapura Selatan di juluki daerah zona merah (Danger Area). Polisi sering kewalahan menghadapi para penjahat kelas teri yang sering memanfaatkan anak-anak untuk bertindak melawan hukum.

Bimbin adalah anak yang baik, pintar, murah senyum, jiwa humoris dan muda bergaul. Dia di rumah rajin membantu orang tua. Saya adalah temannya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri, dan bersama melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri hingga kini kami sekelas di bangku kelas VIII (8) pelajar SMP.

Minuman beralkohol menjadi kompor atas segala tindakan negatif yang membahayakan orang lain. Muak membaca surat kabar soal tindakan perkelahian, pembunuhan, pencurian, penjambretan, Seks Bebas hingga peredaran Narkoba yang rata-rata dilakukan oleh generasi muda.

Di dalam keseharian, anak-anak ini menghabiskan waktu yang ada dengan berkumpul bercerita dan asik mengakses wifi, bekerja di bengkel dan bermain bola.

Selain itu, berbagai tindakan tidak terpuji lainnya membuat orang tua menjadi risau karena kurang berkenang. Wilyam mengakui dia sering merokok, makan buah pinang dan menunggak minuman beralkohol dan melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Hal itu menggambarkan bahwa mereka hidup di lingkungan sosial yang buruk penuh dengan kejahatan.

Cara pergaulan anak-anak membuat orang tua menjadi cemas dan takut, jangan sampai mereka terjerumus mengikuti lingkungan sosial yang buruk dan berhadapan dengan hukum. Cemas dan takut kini telah berbuah pahit. Salah satu tindakan noda merah atas kejadian pengeroyokan pada pagi subu itu membuat korban harus meninggal dunia.

TOK TOK…, pintu di ketok, Bimbin ayo buka pintu nak. Beberapa menit pun berlalu, dia masih saja tidak menggubrik ucapan bapa. Tanpa basa-basi, bapa membuka pintu pakai kunci cadangan dan menyalahkan lampu kamar serta mempersilahkan pak polisi masuk ke dalam kamar. Sentak Bimbin tak berkutik dan raut wajahnya memerah ingin meneteskan air mata.

BACA JUGA :   Cerpen Masa Depan Bangsa Digenggaman Kita

Pak polisi malam ini mengunjungi rumah Bimbin dan orang tua mempersilakan membawahnya. Dalam ketakutan malam itu, dia pasrah di jemput. “Ayo ade ikut ke kantor polisi, nanti bapakmu juga akan mendampingi,” ungkap komandan berpakaian preman bermuka tebal dan berambut ikal itu.

Dalam perjalanan ke kantor polisi, Bimbin kembali teringat akan tindakan pengeroyokan bersama teman-temannya itu. Dia tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca di dalam kendaraan mobil patroli.

Kini sudah empat hari, Bimbin, Wilyam, Enok, Luter, dan si badan halus Wim pun di ringkus untuk di amankan pihak berwajib. Ini adalah pengalaman baru bagi mereka harus berhadapan dengan hukum.

Setiap orang tua ketika berada di kantor polisi pasti di tanya soal peran dan tanggung jawab dalam mendidik anak-anak.

Tentu jawaban orang tua sederhana saja ; “ anak-anak sudah di arahkan dengan baik, namun dalam pergaulan terkadang melupakan nasehat orang tua sehingga pergaulan di lingkungan sosial semakin bebas.” Pada umummya, setiap jawaban orang tua hampir sama. Kadang orang tua menunjukan mereka telah berbuat yang terbaik dalam mendidik buah hati mereka.

Di hadapan penyidik, Bapak Absalom memberikan keterangan. “Anaknya telah di arahkan dengan baik dan benar, tapi Bimbin terkadang tak mengindahkan nasehat orang tua. Lebih parahnya lagi, mereka sering berbaur dengan orang dewasa dan orang dewasa memanfaatkan anak-anak ini. Sebagai orang tua sudah berulang kali memberikan nasehat dan teguran bahkan sampai memukul, namun mereka terkadang acu tak acu.”

Bimbi harus di tahan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, terlihat wajah Bimbi dan teman lainnya bersalah dan sedih dengan setiap tindakan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Sekitar Jam 4.00 WIT, di depan kediaman keondoafian, Entrop, Jayapura Selatan. Saat itu, korban dalam keadaan mabuk dan melakukan tindakan kekerasan terhadap Wilyam. Sentak Luter dan Bimbin mengajak teman lainnya untuk melakukan pengeroyokan terhadap korban. Mereka memukul korban memakai tangan, kayu, batu hingga menggunakan alat tajam menyebabkan korban mengalami luka memar di bagian muka, kepala dan punggung hingga luka robek di bagian paha sebelah kiri.

Awalnya, Wilyam, Bimbin, Luter, Alex dan Mos, dari rumah duka hendak pergi menonton layar tancap pertandingan bola kaki berhadapan Inggris Versus Dermark, Liga EURO di sebuah rumah. Tapi pertandingan belum mulai, jadi mereka putuskan untuk menunggu sambil bermain ke warung untuk membeli rokok dan sambil bercanda gurau dengan berteriak dan tertawa bebas. Namun cara mereka itu membuat orang lain tidak nyaman sehingga pemilik warung dan korban mengusir anak-anak ini.

Korban di pengaruhi minuman beralkohol merasa tersinggung mendatangi Willyam, dan tanpa di sadari pukulan pertama mendekap di kepala belakang, dan Wilyam mendorong korban serta mencoba melarikan diri. Tidak sampai disitu, korban pun mengejar anak-anak ini.

Berselang agak lama, Wilyam merasa masalah itu sudah berakhir, dan anggap biasa saja ketika korban memanggil dia lagi, tanpa rasa takut anak ini menghampiri korban dan tak di sangkah, tangan kiri korban menjepit leher hingga kembali memukul kepala belakang Wilyam, sempat kaka Wilyam menyaksikan dan mencoba melerahi perkelahian ini, tapi korban tidak menghindakan. Akhirnya terbebas juga, ketika Wilyam merontak dan melarikan diri dari korban.

BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 6 Terlalu Dramatis

Anak badan halus bernama Wim melontarkan bahasa provokatif. “Ayo kita kembali pukul dia (korban) kh?” dan tanpa berpikir panjang anak-anak ini pun ingin kembali melakukan tindakan balas dendam.

Wilyam, Alex, Bimbin dan teman lainnya melihat korban memegang kayu bambu sedang memalang jalan dan pada saat bersamaan, James melintasi jalan dengan motor dan korban mencegatnya. Kondisi cek-cokan tak terhelakkan. Saling adu mulut mulai memanas, korban mengayungkan kayu bambo ke arah James. Emosi mulai Pecah, Bimbin dan teman lainnya mengejar korban sampai terjadi pengeroyokan.

Wilyam memukul korban sebanyak tiga kali dari tulang belakang. Mos melakukan pelemparan batu. Alex mengakui tiga kali memukul pipi, tangan dan menginjak korban dari tulang belakang. Wim, ikut terlibat dengan menuturkan bahasa provokatif yang memancing amarah teman-teman. Sedangkan yang melakukan tindakan penikaman adalah James, dia yang kini di tahan terpisah dari kami karena sudah dewasa.

Wilyam dan teman-temannya tidak memiliki riwayat kasus hukum sebelumnya, namun mereka melakukan tindakan tersebut karena perna melihat kaka senior melakukan kekerasan di kompleks. Hal ini menjadi pemicu sehingga Wilyam dan temannya nekad melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma positif. Kini kasus pengeroyokan menjerat mereka semua karena betul Bimbin, Wilyam dan teman lainnya turut melakukan penganiyaan terhadap korban.

Di ruangan seram itu Penyidik menyampaikan anak-anak perlu ekstra pengawasan dan nasehat serta pendidikan budi pengerti tanpa henti-hentinya. Dan diikuti juga komunikasi orang tua perlu di tingkatkan sehingga anak-anak akan merasakan peran orang tua itu ada.

Bapak Absalom dan ibu Ester harus memastikan bahwa anak bapak ibu itu bergaul kepada orang yang baik saja. Iya pak. Saya sebagai orangtua sering kali tegur. Apa lagi dia perna mendapatkan teguran dan bahkan saya pukul karena sering kali pulang di malam hari.

Anak ini, terkadang acu tak acu dengan nasehat yang diberikan oleh orang tua. Terbukti tidak menghindakan nasehat orang tua dan melakukan perlakukan yang menimbulkan susah pada dirinya sendiri.

Bimbin dengan lugas dan jelas menjawab apa adanya, tanpa beban yang membebani hati dan pikirannya. Dia ingin pulang ke rumah dan tinggal bersama keluarga,

Nampak wajahnya mulai pucat, letih dan lesu, sering dia menguap dan menundukan kepala. Anak ini merasakan kesedihan yang mendalam. Semua ini adalah pengalaman pahit ketika tidur berdesakan, tentu jauh berbeda dengan kondisi di rumah yang nyaman. Dia merindukan rumah dan orang tua serta sanak saudara. Dia berkali-kali menyadari perbuatan dan menyesal atas tindakannya dan telah membuat orang tua merasa malu.

BACA JUGA :   Deklarasi MWC NU Se Kota Medan Setelah Enam Hari Mencabut Mosi Tidak Percaya Kepada PC NU kota Medan

Saya melihat persoalan yang di hadapi dan tekad yang kuat menunjukan harapan ingin sekali berubah menjadi anak yang baik dan tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Rata-rata mereka masih ingin bersekolah dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan negatif.

Bimbin bercita-cita ingin menjadi seorang polisi. Mendengarkan hal tersebut, penyidik terdiam dan kembali menasehatinya. “Kalau mau jadi polisi harus banyak mendengarkan nasehat orang tua dan rajin beribadah”.

Kepala Bimbin terasa pusing, jenuh, dan tidak enak badan. Dia berjanji akan berubah menjadi anak yang baik dan menyenangkan hati orang tua. Kini dia menyadari nasehat orang tua selama ini benar adanya.

Secara intelektual, anak ini pintar, tapi emosional, regilius dan kejiwaan masih labil. Kemungkinan karena sifat kurang kontrol dari dalam keluarga yang masih kurang, pada perkembangannya hidup sebagai anak membutuhkan perhatian penuh dari dalam keluarga, dengan demilikian anak akan memahami mana yang baik dan mana yang tidak baik, ketika berada di lingkungan sosial. Anak Bimbin dan teman lainnya membutuhkan bimbingan dan arahan yang tepat dari orang tua, pendeta.

Melihat Bimbin dan teman lainya bergaul bebas kepada siapa saja, termaksud kepada orang dewasa, dan tentu mereka saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Bimbin benar menyesal dan bersalah atas perbuatannya, dia ingat secepatnya keluar dari tahanan Polsek. Dia hanya menyampaikan kepada orang tua, kapan bisa di bebaskan. Bimbin belum perna melakukan tindakan kekerasan, dan tindakan ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya.

Kondisi tubuh mereka mulai drop, badan mulai demam dan sempat mengigil serta mengalami kepala pusing. Bimbin menyadari mereka kurang istirahat karena suasana yang berbeda, jika di rumah, dia dapat tidur dengan nyenyak. Tapi saat di tahanan Polsek, dia tidak dapat tidur dengan nyenyak, dan terkadang kaget dari tidurnya.

Apalagi suasana di dalam tahanan yang lembab, berdesakan dan berdebu serta bauh busuk yang keluar dari dalam Pot WC membuat mereka mengalami sakit, trauma dan mendapatkan pengalaman yang pahit.

Mereka merasa bosan, merasa bersalah atas perbuatannya, dan berharap orang tua dapat menyelesaikan kasus ini. Selain itu, mereka ingin kembali bersekolah.

Dia suka ikut-ikutan melakukan apa saja dan tidak mempunyai pendiri yang tetap. Terbukti bersama temannyaq mereka memukul korban. Atas kejadian itu, dia merasa bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Memang benar penjara bukanlah tempat terbaik bagi anak, di khawatirkan perilaku menjadi semakin buruk dan bisa ahli dalam kasus tindakan perkelahian. Apalagi di dalam penjara mereka akan bertemu dengan para tahanan lainnya yang memiliki pengaruh buruk.

Tak terasa sudah seminggu lamanya Bimbin dan teman lainnya bermukim di tahanan Polsek. Dari wajah bapak Bimbin nampak pasrah dan kejadian ini kiranya menjadi proses pembelajaran yang berharga dan setimpal dengan perbuatan mereka.

Paskalis (47)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: