Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Memerdekakan Pembelajaran Bangsa Merdeka

Memerdekakan Pembelajaran Bangsa Merdeka
Kalau Thomas Alva Edison melakukan eksperimen hingga melahirkan karya inovatifnya di dalam sebuah bekas gerbong kereta, apa yang dilakukan penumpang kereta zaman modern dengan fasilitas WiFi?
Ternyata banyak juga penumpang yang tidak memanfaatkannya. Mereka mempunyai alternatif lain untuk menikmati perjalanan yaitu dengan menghanyutkan diri dalam buku bacaan yang dibawanya.
Realita yang terframing dalam sebuah foto itu bisa dipersepsikan sebagai anomali di tengah pandemi gadgetisme yang juga melanda Indonesia. Tetapi ada catatan menarik tertulis dalam captionnya. Jelas disebutkan bahwa lokasi kereta pada foto yang beredar di instagram beberapa hari silam tersebut adalah Moskow, Rusia, bukan Indonesia.
Analisis terhadap foto yang beredar di media sosial itu menjadi semakin menarik jika dikorelasikan dengan gagasan Merdeka Belajar yang diwacanakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nabiel Makarim. Saat merdeka belajar malah disalah artikan dengan merdeka untuk tidak belajar, masyarakat Rusia malah sudah mampu memerdekakan belajar dari sekat ruang dan batasan waktu. Saat aktivitas membaca menjadi pemandangan langka di era gadgetisme, orang Rusia sudah menjadikannya budaya. Mereka sepertinya tidak tertarik mengikuti jejak netizen Indonesia untuk bersaing dalam daftar negara pengguna media sosial terbanyak sedunia. Menurut data The Next Web tahun 2018, Indonesia berada pada urutan ketiga pengguna facebook terbanyak dengan jumlah pengguna 140 juta. Untuk aplikasi instagram, Indonesia menempati urutan keempat dengan 56 juta pengguna. Sedangkan twitter, Indonesia menempatkan diri pada posisi ke 12 dengan 6,6 juta pengguna.
Kalau Indonesia unggul secara absolut dari Rusia dalam bermedia sosial, kondisi sebaliknya terjadi dalam hal kecakapan membaca para pelajarnya. Data hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada bulan Maret 2019 menunjukkan bahwa pelajar Rusia lebih literate daripada Indonesia. Untuk kecakapan membaca, skor pelajar Indonesia adalah 371 dan menempati peringkat ke 72 dari 77 negara yang disurvey. Sedangkan pelajar Rusia mencatatkan skor 479 dan menempati ranking ke 29 bersama Kroasia dan Latvia.
Fakta empiris yang disajikan oleh OECD itu menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia berjalan dengan menafikan literasi sebagai ruhnya. Target pembelajaran masih sebatas menjadikan sekolah meraih predikat 100% lulus dengan nilai siswanya di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Walau Indonesia 45 tahun lebih dulu memproklamasikan diri sebagai negara berdaulat daripada  Rusia, tidak ada salahnya menjadikan negaranya Vladimir Putin itu sebagai inspirasi dalam mengaplikasikan gagasan “Merdeka Belajar”. Konsep Merdeka Belajar sebenarnya bisa merevolusi cara belajar siswa agar tidak terjajah oleh sempitnya mindset tentang ruang dan durasinya.
Perjalanan zaman membuktikan bahwa proses transfer ilmu dan berpikir bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Archimedes berteriak “Eureka” saat menemukan sebuah fenomena tentang adanya hubungan hubungan gaya berat dan gaya ke atas pada suatu benda jika dimasukkan ke dalam air. Dari semua literatur bisa diketahui bahwa kelahiran hukum Archimedes ini bukan terjadi saat pembelajaran di dalam ruang kelas ataupun laboratorium, melainkan saat ilmuwan Yunani kuno itu berendam dalam sebuah bak.
Kemunculan hukum tersebut bukan hanya memberi pengaruh terhadap perkembangan ilmu fisika. Secara tidak langsung Archimedes memberi inspirasi tentang pengimplementasian gagasan yang sekarang dikenal sebagai Merdeka Belajar. Ilmuwan sepertinya tidak dilahirkan oleh pembelajaran yang dibatasi ruang dan waktu. Insan pembelajar yang merdeka bisa menerima transfer ilmu dan pemikiran dari bentangan alam maupun dinamika sosial di masyarakat. Kecerdasannya tidak lagi terlegitimasi hanya pada nilai angka, tetapi lebih dikonkritkan pada peningkatan kualitas spiritual, perilaku dan karya.
Agar level kecerdasan yang diharapkan bisa benar-benar terbangun, maka pengimplementasian gagasan merdeka belajar harus berbasis literasi. Aktivitas literasi yag mencakup kemampuan membaca baik yang tersurat ataupun tersirat, kemampuan berpikir dan menganalisis hingga menarik kesimpulan, harus kembali menjadi budaya bangsa. Tanpa kuatnya budaya literasi, gagasan merdeka belajar hanya menghasilkan output berupa generasi yang hanya menikmati kemerdekaan deklaratif tetapi terjajah secara ideologis.
Untuk mendukung gagasan Merdeka Belajar berbasis literasi tersebut, masyarakat perlu mendapat kemudahan untuk mengakses buku-buku bacaan, dimanapun mereka berada. Ruang-ruang baca seharusnya bisa juga dihadirkan di fasilitas publik, seperti tempat rekreasi, terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, ataupun taman kota. Diharapkan dengan memerdekakan belajar dari batasan ruang dan waktu berbasis kecakapan membaca, satu target kemerdekaan bisa tercapai yaitu cerdasnya kehidupan bangsa.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerbung: Perempuan-Perempuan Metropolitan
%d blogger menyukai ini: