Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mataharimu Sudah Pergi

Matahari Tak Lagi Dirindukan Bumi
“Ati-ati ya Ardha. Pelan-pelan naiknya,” seru Syams sambil memperhatikan dengan seksama anak kecil yang asyik menaiki tangga perosotan. Namun si anak yang ia awasi seperti tak menghiraukan kata-katanya tadi. Dengan cekatan dia menapaki setiap anak tangga dan meluncur dengan mulus.
“Aryo! Ayo pulang, sudah mau malam,” terdengar suara seorang pria memanggil. Anak yang bermain perosotan segera berjalan menemui pria itu..
Syams tersentak. Segera dia tersadar bersamaan dengan wajah anak tunggalnya yang lenyap seperti tertiup angin petang. Setelah itu tampak jelas paras bocah yang sama sekali tidak dikenalnya. Menurut taksiran Syams, Aryo seumuran dengan Ardha, tiga tahunan. Tapi tetap saja, wajah anak yang tampak di depan matanya itu bukan Ardha tetapi Aryo.
“Aryo? Jadi, anak itu namanya Aryo? Terus orang tadi itu bapaknya? Lalu anakku, Ardharaja?” tanya Syams pada dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena dia sebenarnya tahu dimana anaknya berada saat ini.
Syams menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tubuhnya lemah hingga terduduk di anak tangga perosotan. Pandangannya lurus ke depan menerawang hidupnya yang hampa.
“Semua masih sama seperti dulu. Lapangan, rumput, sampah berserakan, .warung-warung makan, .perosotan, ayunan. Semuanya nggak berubah.”
Sejenak Syams berhenti berujar. Matanya kemudian mengerjap-ngerjap berusaha menahan turunnya butir-butir air. Beberapa kali terdengar desahan nafas panjang. Lidahnya nyaris mati rasa. Tak ada lagi manis, asin, asam. Semua yang ditelannya tak lagi berasa.
Kembali Syams bergumam,”Gimana kabar kalian saat ini? Vi? Ardha?”
Tak ada yang menyahuti keluh kesah Syams karena memang tak ada yang ia ajak bicara selain dirinya sendiri. Kepalanya menunduk, berusaha memunculkan bayangan dua wajah yang kini telah terpisah darinya.
“Kasihan istri dan anakku. Mereka pantas kecewa dengan keadaanku yang belum bisa memenuhi semua kebutuhan. Penghasilan bulanan yang tak tentu besarnya cuma cukup untuk makan. Buat beli susu anakku juga nggak selalu ada.”
Syams menelan ludah. Getir, itulah yang ia rasa. Sungguh ia tidak menyangka kalau kemiskinan telah memasukkannya ke dalam labirin derita yang seakan tak berujung. Kali ini matanya terpejam lama sambil mengerutkan dahi. Air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya mengalir juga, setetes demi setetes.
Syams mendengus kesal. Namun akhirnya ia hanya bisa mengungkap kepasrahan, “Jika memang kerinduan ini tak bisa lagi menyentuh hati kalian, biarlah aku tenggelam saja bersamanya hingga ke dasar samudera cinta.”
Suara Syams bergetar seperti menahan himpitan sebongkah beban. Matanya berkaca-kaca saat menatap anak-anak yang sedang asyik bermain sepak bola atau berlarian sambil mengulur laying-layang. Sementara matahari sudah semakin tenggelam di garis batas cakrawala. Langit biru berganti hitam gelap. Namun bagi Syams kegelapan sudah tampak sejak sebulan silam. Bumi sepertinya sudah tidak lagi merindu matahari. Hari-harinya adalah malam, suram, muram.
Masih terbayang dan terngiang dengan sangat jelas di pelupuk mata dan telinga Syams apa yang terjadi tiga puluh hari lalu. Saat Prathivi dan Ardha, dua orang yang membuat Syams rela berletih-letih, pergi meninggalkannya sendirian.
“Kenapa Vi? Kenapa harus seperti ini?” tanya Syams.
“Kalau matahari sudah tak menyinari, untuk apa bumi menanti kehadirannya?” tukas Prathivi beranalogi.
“Bukankah aku masih di sini buat kalian dan tidak kemana-mana?” balas Syams.
“Adanya kamu tak beda dengan tidak adanya. Kamu seperti arca, ada tetapi tak berkata-kata,” jawab Prathivi.
Syams terdiam sejenak sebelum akhirnya melempar pertanyaan lagi,”Adakah gunanya aku berkata-kata?”
Namun pertanyaan itu malah dibalas dengan tanya pula oleh Prathivi,”Kamu tidak menganggapku ada?”
“Apalah gunanya berkata-kata kalau hanya memantik bencana. Apalah gunanya aku mengungkap pandangan kalau akan dikata mencari pembenaran,” jawab Syams.
“Itu asumsimu,” sahut Prathivi.
“Bukan asumsi. Itu realita yang selama ini terjadi. Setiap aku memberi penjelasan, saat itu juga tangan-tangan tergerak untuk menudingku sebagai penguasa tunggal segala kesalahan. Setiap aku berpendapat, pasti kamu mendebat dan selalu bermudah-mudah menyebut pengadilan,” panjang lebar Syams mengajukan bantahan.
“Bukankah kamu ingin keadilan?” tanya Prathivi bernada menyerang.
“Keadilan. Bukan pengadilan. Aku hanyalah api yang tak mungkin bisa menyala sendiri,” tangkis Syams.
“Jadi kamu ingin berkata kalau aku adalah pemantiknya?” respon Prathivi terkesan keberatan.
“Hukum aksi reaksi. Reaksi salah yang lahir setelah aksi yang salah,” terang Syams.
“Kamu angkuh, tidak mau disalahkan,” sergah Prathivi.
“Silakan. Timpakan saja semua kesalahan padaku. Lemparkan semua cap buruk ke wajahku,” sahut Syams.
“Akhiri saja,” cetus Prathivi singkat namun sangat jelas.
“Setelah bau keringatku merebak, lambungku sering berteriak, retina mataku retak, kamu ingin segala letihku sia-sia?” tanya Syams meminta ketegasan.
“Bila matahari masih bisa tiap hari membagi sinarnya, apa yang kamu berikan pada kami?” sahut Prathivi cepat.
“Perlukah aku sebut satu persatu apa yang sudah aku usahakan supaya pahala ikhlasku hangus terbakar?” tanya Syams.
“Sebut saja. Toh kenyataan berbicara. Hidup masih menumpang, uang pas-pasan, tumpukan hutang juga belum berkurang,” sahut Prathivi.
Syams terdiam. Kesedihan dan kegeraman berpadu dalam dirinya. Hingga kemudian ia hanya bisa berbisik,”Aku harus gimana?”
“Aku sudah menawarkan jalannya,” jawab Prathivi.
“Menanggalkan semua atributku? Kemudian menceburkan diri dalam jaringan? Hanya itukah jalannya?” Syams menunjukkan kebimbangan.
“Ah terserahlah. Toh kamu juga sudah tahu berapa jumlah hutang yang harus dilunasi, berapa jumlah kebutuhan tiap bulan. Kalau mau buang-buag waktu dan energi untuk bermain-main di duniamu, terserah,” cetus Prathivi ketus.
“Aaah! Selalu begini. Kalau tak sejalan denganku, pisah. Akhirnya kau sebut pula pengadilan. Kenapa? Karena sudah ada yang siap menggantikanku, yang lebih kaya, lebih nurut, lebih tunduk?” ucap Syams sambil merapatkan giginya.
“Aku akan kembali kalau sudah ada perbahan,” jawab Prathivi.
“Hanya aku yang harus berubah?” protes Syams.
Tak ada sahutan. Prathivi tetap nekad pergi dengan membawa Ardha meninggalkan kepedihan di hati Syams.
Terasa sesak setiap ingatan itu kembali menyeruak. Mendadak dadanya bergolak laksana kawah menggelegak. Cepat-cepat ia rapatkan mulutnya agar tidak berteriak. Kembali matanya dipejamkan. Semua urat-uratnya menegang berusaha sekuat tenaga memendam amarah.
Berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Untunglah Syams masih bisa menguasai kesadaran. Ia tidak mau penghuni semesta yang ada di ruang terbuka itu mendengar jeritannya.
Setelah hawa panas yang sempat ingin menguasainya sirna, Syams berdiri perlahan-lahan dengan sisa kekuatan. Berjalanlah ia selangkah demi selangkah menuju sisi utara lapangan. Mulutnya tampak berkomat kamit meyenandungkan sebuah kalimat.
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
Terus menerus ia senandungkan kalimat aneh itu. Hanya Syams seorang yang tahu apa maknanya. Yang jelas itu bukan sebuah mantra pemancar ilmu kesaktian.
Syams terus melangkahkan kakinya dengan pikiran yang bercabang kemana-mana. Setibanya di tepi jalan besar, ia berhenti sejenak. Kepalanya masih agak tertunduk. Sorot matanya entah kemana.
Tiba-tiba ia menyeberangi jalan tanpa menengok arus kendaraan dari arah kiri ataupun kanan. Saat bersamaan, datanglah sebuah mobil pengakut barang yang melaju cukup kencang.
Nyawa Syams di ujung tanduk. Anehnya, ia seperti tak peduli. Bukan karena merasa punya nyawa seribu lembar tetapi ia memang berharap ada kendaraan yang menyambar.
Namun begitulah hidup dan maut. Setinggi-tingginya harapan, Allah jua yang memiliki keputusan. Bila tak sejalan dengan kehendakNya, harapan tidak akan pernah berubah wujud menjadi kenyataan.
Itu pula yang terjadi pada Syams. Saat ia sendiri berharap ruas jalan itu bisa menjadi titik akhir kehidupannya, ternyata sopir mobil itu masih sempat menginjak pedal remnya dalam-dalam.
“Woy, cari mati ya? Kalau nyeberang lihat-lihat woy!” damprat pengemudi mobil setelah membuka kacanya.
Syams tak menggubris, seolah tak mendengar sumpah serapah orang di dalam mobil yang nyaris saja merenggut nyawa satu-satunya itu. Ia terus berjalan dengan wajah kusut menuju sebuah minimarket dekat rumah.
“Selamat datang di minimarket. Selamat belanja,” terdengar suara Mbak kasir. Mungkin sudah dua puluh kali dia mengucapkan kalimat itu sehari ini.
Lagi-lagi Syams bersikap dingin. Mungkin lebih dingin dari hembusan AC di dalam minimarket itu. Ia lantas berjalan menuju deretan kulkas yang ada di sana. Kulkas pertama berisi beberapa macam buah, seperti apel merah, apel hijau, jeruk sunkist, anggur. Kulkas kedua adalah tempat tersimpannya minuman beralkohol. Syams hanya menengok sebentar sekadar menunjukkan perasaan tidak berminat.
“Gila! Aku tidak mau menyerahkan nyawaku kepada alkohol. Aku masih waras,” ucap Syams lirih.
Syams kemudian melangkah ke kulkas berikutnya. Di dalamnya ada bermacam-macam susu cair. Syams tidak segera beranjak. Dia terus menatap lekat-lekat isi kulkas itu. Kembali ia menghalusinasikan sosok Ardha seolah-olah sedang ada di sampingnya saat ini.
“Kamu suka banget kan sama susu itu? Itu kan susu yang ada di film kartun kesayanganmu,” gumam Syams dalam hati sebagai pertanda masih adanya kesedihan yang sedang mencengkeram jiwanya.
Tujuh menit kemudian barulah ia menuju kulkas terakhir. Bergegas ia mengambil dua botol kopi latte favoritnya. Bukan rasa yang membuatnya tergila-gila, tetapi harganya yang paling murah dibanding kopi cair lainnya.
Kali ini rupanya Syams tidak ingin berlama-lama. Segera ia menuju kasir untuk melakkan pembayaran.
“Ada kartu member?” tanya Mbak kasir.
“Nggak ada,” sahut Syams cepat. Sepertinya ia sudah hafal benar dengan daftar pertanyaan para kasir.
“Sekalian isi pulsanya?” kali ini Mbak kasir menawarkan.
“Belum,” jawab Syams.
“Mau pakai kantong atau langsung dibawa?” tanya Mbak kasir berikutnya.
“Hmm…. Langsung bawa aja deh. Mau langsung diminum kok,” balas Syams sambil mengeluarkan selembar uang bertulis 10.000.
“Baik. Harganya enam ribu,” ucap Mbak kasir.
“Oke. Kembali empat ribu ya,” respon Syams seolah mengingatkan agar uang kelebihannya tidak didonasikan.
“Terima kasih telah berbelanja di minimarket. Sampai jumpa kembali,” inilah kalimat penutup yang wajib diucapkan para kasir setiap terjadi closing.
Syams melangkah keluar. Lalu ia menduduki sebuah kursi kosong yang ada di halaman toko. Segera tangannya membuka botol kopi cair di tangannya lantas meminumnya seteguk.
Dingin. Itulah sensasi yang dia rasa. Seakan-akan kopi itu dari mulut tidak langsung masuk kerongkongan melainkan mampir dulu ke otak.
Sayangnya, efek yang ia rasakan itu hanya sesaat. Sangat singkat bahkan. Setelah Syams menghabiskan sebotol hingga tetes penghabisan, kegundahan itu kembali menyergap. Dia tidak segera beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap langit malam tanpa menggantungkan harapan apapun di sana. Ada pertentangan antara suasana malam yang berteman bintang-bintang dengan hatinya yang terperangkap dalam kesendirian.
Syams terus menenggelamkan dirinya dalam lamunan. Ilusinya semakin liar. Telinganya seakan-akan mendengar sebuah instrumen kesedihan yang beberapa kali ia dengar sebelumnya. Nada-nada yang dimainkan tuts-tuts piano itu begitu menyayat hati kala dilanda depresi.
“Dimanakah akhir dari semua ini? Aku sudah sangat letih. Semua yang dekat kini sudah menjauh,” keluh Syams diiringi napasnya yang berat.
Dalam keadaan menyesakkan itulah adrenalinnya untuk menantang maut kembali membara. Syams menatap lekat-lekat kopi cair botol kedua yang masih utuh.
“Racun serangga. Ya, kopi dicampur racun serangga. Setelahnya pastilah….”

BACA JUGA :   Kumpulan Soal PKN Kelas 11 SMK Bagian 2

Menggugat Tuhan
Syams bergidik membayangkan tubuhnya berkelojotan karena lambung dan jantungnya dihajar racun mematikan. Namun nurani Syams masih bisa menolak untuk menemui kematian dengan cara menghinakan. “Tidak! Terlalu memalukan kalau aku harus menemui kematian dengan cara seburuk itu.”
Setengah jam terlalui sudah. Setelah menghabiskan kopi kedua, Syams akhirnya berdiri dan melangkah pulang meski ia tahu tak akan ada sambutan dari kepulangannya.
Setibanya di rumah, segera ia mandi sekadarnya, minum juga sekadarnya, lalu mengganti baju dan celananya. Setelahnya ia duduk di lantai kamar yang belum sempat ia sapu dan pel, tanpa tahu akan melakukan apa. Ia pun dengan sadar menjauhi Tuhan, tanpa memancarkan penyesalan.
“Allah. Semoga Engkau mau mengerti dan membuka ampunanMu. Hamba memang telah lama meninggalkanMu. Kalaupun hamba bermi’raj ke hadiratMu, itu semata untuk menggugurkan kewajiban. Bukan hamba tak butuh Engkau Yaa Allah. Tapi hamba merasa kedekatan hamba padaMu selama ini sia-sia saja,” gerutu Syams.
Dia mendengus. Kemudian ia telentangkan tubuhnya di atas lantai keramik. Matanya nanar menatap langit-langit rumah yang mulai kusam. Kemudian Syams kembali mengajukan gugatan,”Wahai Allah, jadi untuk apa hamba taat kalau hidup kami tak meningkat? Rezeki hanya menetes sesekali, tidak mengguyur setiap hari. Bahkan sekarang hamba kehilangan semuanya. Tega nian Engkau pada hamba yang sudah berusaha jadi orang baik ini Yaa Allah. Apakah hambamu ini lebih busuk dari Qarun dan Firaun?”
Hening sejenak. Syams yang sudah mengalami abrasi keyakinan masih belum bisa menerima episode kehidupan yang sedang ia lakoni. Bahkan dia mulai mempertanyakan Kemahaadilan Tuhan.
Ingatan Syams kemudian melayang-layang membuka rekaman peristiwa tiga tahun silam. Saat dia mengira hari itu menjadi hari terakhirnya merasakan kefanaan dunia.
“Porong-Malang-Porong-Malang!” teriak kondektur bus jurusan Surabaya Malang. Orang-orang menyebutnya bus gorila karena ada gambar gorila di semua armadanya.
Syams segera naik dan memilih kursi di deretan kiri nomor tiga dari depan. Dengan tenang dia duduk. Entah disengaja atau tidak, Syams melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya, Biasanya dia akan melepas tas punggungnya untuk dipindah ke pangkuan. Namun kali itu dia membiarkan tetap di punggung.
Suara mesin bus masih menggeram-geram. Semakin banyak penumpang yang naik bus itu di terminal keberangkatannya. Bahkan saat semua kursi sudah terduduki, bus itu masih menerima penumpang yang rela berdiri. Hingga akhirnya terdengar suara pintu bus bagian depan dan belakang ditutup, pertanda saat keberangkatan telah tiba.
Bus menggeram sekali lagi sebelum mulai bergerak merayap. Keluar dari pintu keluar terminal, barulah pedal gas diinjak lebih dalam dan semakin dalam. Di sinilah perasaan Syams mulai tidak nyaman dan dihantui firasat buruk. Namun ia coba menepisnya sambil terus berdoa.
Entah arwah pembalap mana yang menguasai raga sopir bus gorila itu. Caranya mengendalikan bus malam itu sangat ugal-ugalan. Mungkin dia sedang memburu gelar raja jalanan. Terkesan dia menempatkan keselamatan penumpangnya di urutan paling bawah dari daftar kepentingannya.
Semua penumpang sudah waswas dengan aksi sopir bus itu. Semua memasang wajah tegang. Tetapi sang pengemudi tak peduli. Dia terus tancap gas sehingga membuat bus melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Hingga musibah pun terjadilah.
Maksud hati menyalip kendaraan di depannya melalui lajur kiri tanpa mengurangi kecepatan sama sekali. Sontak penumpang berteriak histeris.“Awaaas!”.
Sebuah teriakan pemberian peringatan yang terlambat. Sepersekian detik berikutnya terdengar jelas suara kaca bus pecah setelah menghantam sebuah truk besar yang berhenti di depannya.
Di sinilah terjadi keajaiban menimpa Syams. Tidak seperti penumpang lainnya di lajur kiri yang terpelanting ke kiri, dia justru terlempar ke kanan, seolah ada sosok tak terlihat yang mendorong. Semua terjadi sangat cepat tanpa dia sadari. Yang pasti, Syams selamat tanpa ada darah yang keluar. Kepala belakangnya juga terselematkan dari benturan karena terlindungi tas yang masih ia kenakan di punggungnya. Syams hanya pingsan.
Saat siuman, Syams mengeluhkan nyeri di dada kirinya. Ia pun mencoba duduk sambil menengok ke sekelilingnya. Barulah ia menyadari kalau banyak kursi di lajur kiri yang hancur bersamaan dengan ringseknya badan bus di sisi yang sama. Semua penumpang sudah turun meninggalkan dia seorang di dalam. Bukan hanya merasa nyeri, dia juga ngeri setalah mendapat kabar adanya satu penumpang tewas dalam kondisi mengenaskan.
Syams menelan ludah, tercenung setiap kali ia teringat tragedi malam itu. Musibah yang selalu membuatnya bertanya makna hidup yang dijalaninya.
Lagi-lagi timbul pergolakan dalam diri Syams. Darahnya serasa mendidih. Sekujur badannya terasa panas membara. Matanya merah saga memancarkan amarah yang sulit ia kendalikan kali ini.
Syams bangkit berdiri dan kemudian berteriak kalap dalam kesendiriannya di rumah itu, “Allah. Kenapa bukan hamba yang tewas dalam tragedi malam itu? Kenapa bukan hamba yang Kau pilih wahai Allah? Kenapa Engkau selamatkan hidup hamba? Bukankah terlalu mudah untukMu mematikan hamba dalam bus itu? Kalau memang hidup hamba hanya untuk membuat orang terdekat tidak bahagia, mengapa tidak Kau percepat saja kematian hamba? Kenapa Kau berikan hamba hidup kalau hanya untuk menjadi pecundang yang terus tersakiti? Kenapa Yaa Allah? Kenapaaa?”
Syams menangis sejadi-jadinya. Sesekali ia pukul kepalanya sendiri beberapa kali dengan kepalan tangannya. Bahkan sesekali ia benturkan pelan ke tembok. Sepertinya ia ingin meluapkan segala kepedihan yang terpendam laksana Merapi yang memuntahkan isi kawahnya. Setelah mereda, ia kembali duduk, terdiam, menunduk. Mulutnya lalu berkomat-kamit.
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
“Ndang ndang ser, ndang ndang ndang.”
“Akulah sang pecundang, I am a looser.”
Kini dia lelah. Syams merasa sudah kalah. Tidak ada hal baik lagi yang bisa ia perjuangkan. Tidak ada keadilan yang ia temukan. Semuanya serba tersamar dan terselubungi kepalsuan.
Syams berusaha berdiri walau sempoyongan. Ia melangkah menuju ke sebuah meja. Diambilnya sebuah kotak berisi obat-obatan. Untuk beberapa saat lamanya ia mematung. Pergulatan sedang berkecamuk di dalam dadanya.
“Lakukan!” perintah nafsu jahatnya.
“Jangan! Kalau kamu melakukannya, sama saja kamu membenarkan statusmu sebagai pecundang,” tentang hati bersihnya.
“Kamu memang sudah menjadi pecundang. Tidak ada keraguan soal itu. Kamu lakukan atau tidak, sama saja. Kamu tetap pecundang. Jadi percuma saja kamu menghindar. Laukanlah!” hasut nafsu jahatnya.
“Jangan! Kalau kamu melakukannya, habis sudah kesempatanmu mendapat ampunanNya. Tamat sudah cita-citamu tentang masa depan, tentang kebahagiaan. Hidupmu hanya sampai di sini dan berakhir dengan tragis,” kata hati bersihnya berupaya meluruskan jalan pikiran Syams.
Syams menahan napas sejenak. Inilah saat buatnya menentukan pilihan antara bertahan hidup untuk membuka peluang menjadi pemenang atau mengakhiri hidup sebagai pecundang.
“To be or not to be,” desis Syams menyitir kata-kata Hamlet.
Setelah melepas napas yang tertahan, wajah Syams menjadi garang menyiratkan kebencian pada hidup yang ia jalani.
“Bah! Persetan dengan ampunan, kebahagiaan, masa depan, impian. Aku sudah banyak membuat orang-orang tercintaku menderita. Adanya aku tidak lebih baik daripada ketiadaanku. Bahkan mungkin tak adanya aku akan lebih baik untuk mereka.”
Akhirnya ia buka juga sebungkus obat demam yang biasa dibelinya tanpa resep medis. Syams mengambil empat butir dan menelannya sekaligus bersama  seteguk air mineral. Setelahnya ia melangkah gontai ke kamar menuju pembaringan. Sejenak ia menengok ke arah kereta dan mobil mainan milik Ardharaja. Lalu ia peluk boneka panda hadiah darinya untuk Prathivi.
“Selamat tinggal bumi, selamat berpisah semesta.” Itulah kalimat terakhir yang sempat dia ucap .Sampai kemudian matanya terpejam menunggu kemungkinan terburuk yang justru ia inginkan.

Tang Tang Dang Dang
“Tang tang dang dang. Tang tang dang dang. Selamat datang wahai sang pecundang,” suara beberapa orang terdengar jelas di telinga Syams. Jelas itu bukan sambutan menyenangkan untuk kehadirannya.
“Hei! Siapa kalian?” bentak Syams.
Namun justru mereka semakin keras menebar ejekannya, “Tang tang dang dang. Tang tang dang dang. Selamat datang wahai sang pecundang,”
“Setan alas! Hentikan! Kalian sungguh membuatku terhina,” teriak Syams menggelegar.
Kemarahan Syams itu justru mereka sambut dengan derai tawa kegirangan, ”Hahahahaha…!” Sepertinya mereka merasa menang.
Suasana setelahnya menjadi sunyi dan suram. Syams sama sekali tidak tahu sedang ada dimana. Hanya ada remang-remang cahaya yang sama sekali tidak membantunya untuk mengenali tempatnya berada saat ini.
Syams merinding ngeri. Dia sama sekali tidak berani melangkah sejengkalpun dari tempatnya berdiri. Bahkan seluruh aliran darahnya serasa terhenti.
Belum lagi ia bisa mencerna situasi yang dihadapi, telinganya mendengar suara rintihan memanggil namanya,”Syaaaams!”
Syams tidak berani menyahut. Walaupun takut, dia coba tajamkan pendengarannya untuk menemukan arah datangnya suara misterius tadi.
“Syaaaams! Kemarilah!” lagi-lagi suara itu terdengar. Sepertinya ia sangat butuh pertolongan.
“Siapa kamu?” tanya Syams setengah berteriak. Rasa penasarannya sudah mulai bisa mengimbangi ketakutannya.
“Kemarilah Syams! Aku sudah menunggumu,” jawab suara aneh tanpa menyebutkan identitasnya.
“Kemana aku harus melangkah? Aku tak melihat adanya dirimu,” tukas Syams makin kebingungan.
“Aku tidak terlalu jauh darimu. Berjalanlah tiga belas langkah ke kanan,” ucap suara itu memberi panduan.
Syams mencoba menuruti kata-kata suara misterius. Sambil menghitung langkah kakinya, dia mengendap-endap ke kanan sesuai permintaan.
“Aku sudah melangkah. Tapi aku tidak menemukanmu. Apa kau sedang bersembunyi? Tampakkanlah dirimu agar aku bisa mengenali dan bercengkerama denganmu,” cerocos Syams semakin berani. Rasa takut telah terkuasai oleh keingintahuannya.
“Tenanglah. Kau sangat mengenaliku. Hanya saja kau takkan bisa melihatku,” ujar suara itu dengan tenang.
Kening Syams mengkerut tanda berpikir keras sambil mencoba mengenali siapa sesungguhnya pemilik suara yang memanggilnya itu. Dalam hati ia mencoba menerka-nerka,”Aku mengenalinya? Tapi aku tak bisa melihatnya? Apakah dia …?”
“Syams! Dengarkan aku!” pinta suara misterius seperti tak memberi kesempatan kepada Syams untuk bisa mengungkap siapa dirinya.
“Tunggu! Apakah kau ini malaikat maut yang datang menjemputku setelah kuminum empat butir paracetamol tadi?” celetuk Syams mengajukan terkaannya.
“Kau keliru Syams. Aku bukan malaikat maut. Dan kaupun belum mati. Ini bukan alam kubur,” jawab suara gaib.
“Apa? Aku belum mati juga? Padahal aku sudah menelan empat butir obat keras. Bagaimana mungkin aku masih bisa bertahan?” sergah Syams tak percaya.
Mendadak suara gaib itu menjadi berang, “Goblok! Koplak! Kau ini benar-benar sudah tidak waras. Memangnya kau merasa berkuasa atas nyawamu sendiri hah? Kau pikir bisa menariknya dari jasadmu sendiri? Biarpun kau telan segelas besar kopi bercampur sianida ditambah arsenik dan racun serangga, kalau Allah masih memberimu hidup, misimu untuk mengakhirinya hanya sia-sia. Kenapa kau bisa jadi setolol ini Syams?”
“Tapi aku ingin mati,”balas Syams dengan cepat.
“Gemblung! Kamu mengira kematianmu akan membuat namamu dikenang bak pahlawan? Yang akan terjadi justru sebaliknya. Namamu akan dicap sebagai pecundang dan akhirnya dicampakkan dari ingatan,” kecam suara gaib itu.
“I don’t care,” sahut Syams.
“Tapi aku peduli. Aku peduli karena aku adalah kamu, Syams,” jawab suara gaib membuat lawan bicaranya semakin pening karena tak mampu menafsirkan apa yang tengah dihadapinya.
“What? Kamu adalah aku? Aku adalah kamu? Apa maksudnya? Kamu adalah hasil kloninganku? Duplikatku?” tukas Syams semakin dicekam ketidakpahaman.
“Aku bukan kloninganmu,” jawab suara gaib.
“Lalu? Siapa kau ini sesungguhnya?” tanya Syams terus mendesak.
Akhirnya suara gaib itu membuka jati dirinya,”Aku adalah keyakinanmu, prinsip hidupmu, idealismemu, yang selama ini bersemayam di kalbumu.”
Syams membisu seketika. Tak mampu lagi berkata-kata. Sulit baginya melupakan jejak-jejak peristiwa yang membekas. Saat ia harus berada pada posisi berseberangan dengan banyak pihak demi idealisme yang terhunjam di jiwanya.
“Syams. Ketahuilah. Aku sekarang terpenjara,” bisik suara gaib itu.
“Apa? Terpenjara? Bagaimana bisa? Siapa yang memenjarakanmu?” sahut Syams cepat. Tampaknya Syams cukup shock dengan kabar yang ia dengar.
“Bukan siapa-siapa. Aku sendirilah yang melakukannya. Kukurung diriku supaya tidak bisa mempengaruhi hidupmu lagi.
“Kenapa kamu lakukan itu? Tanpa kamu, aku akan terjerembab lalu terkubur dalam kubangan lumpur.”
“Tidak Syams. Tanpa aku, kamu bisa lebih leluasa menjalani hidup. Dan kamu akan bisa merengkuh segala kenikmatan mayapada,”
“Mana mungkin?”
“Sangat mungkin. Karena denganku, kamu hanya akan dipandang sebagai manusia naif.”
“Naif? Aku mengajarkan kejujuran kepada anak-anak didikku, apa itu naif? Aku menyuarakan kegelisahan banyak orang, apa itu naif? Aku memberi pencerahan lewat tulisanku, itu naif juga?” sanggah Syams.
“Tetapi apa yang kamu dapat dari semua itu? Uang ratusan juta? Jabatan tinggi? Popularitas? Tidak kan? Malah sekarang kamu terpuruk. Kamu tidak pernah menjadi siapa-siapa. Ekonomimu seret, kamu terperosok dalam jurang kemiskinan. Akhinya Prathivi dan Ardha ikut terseret menjadi korban dari sikapmu yang sok idealis, sok moralis, sok kritis. Sementara mereka yang selama ini tidak sepandangan denganmu, itulah yang tadi menertawakanmu habis-habisan, menyebutmu sebagai pecundang,” tukas suara gaib itu. Sepertinya dia mencoba mengajak Syams berpikir dan bersikap lebih realistis.
Syams tak menjawab. Tetapi sesungguhnya hatinya terbakar walau mengakui apa yang mereka rasakan adalah kenyataan yang dialaminya.
“Aku sudah jadi sampah. Nilai-nilai moral yang kamu ajarkan pada anak-anak didikmu, tidak mendapat apresiasi yang layak. Kamu tetaplah pengajar honorer bergaji kecil dan tidak pernah mendapat kepercayaan lebih dari sekadar mengajar,” keluh suara gaib itu seperti merasa bersalah.
“Hidup menjadi guru itu pekerjaan mulia. Ada kebahagiaan batin yang kudapat dengan membuat anak-anak didikku menjadi lebih semangat, lebih hebat, lebih beradab. I’m very happy,” ujar Syams mengungkap perasaanya.
“Tapi beras, minyak goreng, gula, sayur, lauk untuk makan sehari-hari, susu buat Ardha, semua keperluan istrimu, itu dibeli pakai uang. Bukan pakai batin,” debat suara gaib.
Syams tak segera menjawab. Perasaannya tersayat-sayat. Tapi ia tidak bisa menyalahkan pendapat itu. Syams menyadari betul inilah risiko menjadi guru di negeri yang masih belum menempatkan profesi itu dalam posisi terhormat.
“Kau benar. Guru memang sangat dibutuhkan dan dimuliakan. Tetapi itu di negaranya Hirohito, bukan di sini. Kalau di sini, guru bukan sosok yang paling dicari. Guru kalah pamor dengan investor,” ucap Syams lesu mengakui kenyataan.
“Lalu apa yang kau hasilkan selama menjadi demonstran? Nol besar. Suara para aktivis selalu terbentur tebalnya dinding-dinding elitis. Kau suarakan penderitaan banyak orang dengan aksi jalanan, apa manfaatnya? Yang menderita tetaplah menderita, termasuk mereka yang kini menjauh darimu,” sambung suara gaib mencoba semakin melucuti jati diri Syams yang melekat selama hampir lima pancawarsa.
“Ya,” sambar Syams cepat dan singkat.
“Lalu kamu menjadi penulis buku? Isi pikiranmu yang kau sebar ke banyak orang lewat tulisan-tulisan, terbukti gagal membuat orang-orang terdekatmu bahagia. Jadi apa yang kamu harapkan?” suara gaib itu melempar pertanyaan.
“Simple. Aku berharap tulisanku bisa menjadi matahari yang memancarkan kecerahan dan harapan. Itu saja,” ungkap Syams.
“Tapi kamu lupa. Kamu tidak sedang hidup di Rusia, Jepang, ataupun China yang orang-orangnya gandrung membaca sekalipun di dalam kereta. Di sini buku tidak lebih menggoda dibandingkan social media. Tidak lebih menggairahkan dibanding aplikasi permainan,” ungkap suara gaib membuka kenyataan secara blak-blakan.
Syams menghela napas. Pahit rasanya mengakui kenyataan. Semua yang gigih diperjuangkannya serasa tidak berarti apa-apa buat juga orang-orang terdekatnya.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanya Syams meminta petunjuk untuk bisa mengurai kekusutan ini.
“Keluarlah dari jeratan ketidakpastian,” jawab yang ditanya.
“Maksudmu?”
“Tinggalkan aku! Bangunlah dan putar haluanmu!”
“Jadi aku harus menanggalkan semua identitasku dan terlahir menjadi diriku yang baru?”
Tidak ada jawaban kali ini. Suara misterius itu sudah raib bersamaan dengan terbukanya mata Syams dari tidur malamnya. Matanya masih berkunang-kunang. Kemungkinan masih ada efek antihistamin dari eempat butir obat demam yang ditelannya.
“Aku masih bernyawa. Tapi sebagai apa?” ucap Syams lirih sembari memijit-mijit keningnya.
Beberapa kali Syams menghela napas. Ia serasa dipeluk kebimbangan. Bisakah ia menanggalkan cara hidup yang begitu lama membersamainya? Ada banyak kenangan yang tak akan mudah dimusnahkan.

BACA JUGA :   tetap bertahan:chapter 1

Meninggalkan Setengah Jiwa
Sang bagaskara kini sudah menguning, tidak lagi menyisakan warna jingga. Bagi sebagian manusia, inilah saat untuk bersiap-siap menyebar ke berbagai penjuru bumi untuk menjemput jatah rezekinya. Tapi kecerahan itu tidak berlaku untuk Syams. Ia tetap merasa dunianya tetap diselimuti gulita. Ada perasaan berat menjalani hari yang dihadapi.
Dia sudah ada di area parkir motor sekolah, tempatnya menjalani lima hari sebagai seorang pengajar. Syams tidak segera turun dari sepeda motor bututnya.
“Sulit rasanya keluar dari sini. Melepas status sebagai guru rasanya sama dengan merelakan lepasnya satu ginjalku. Biarpun gaji terbilang kecil tetapi inilah kebun amalku. Ada kebahagiaan yang tak bisa dirupiahkan. Ada banyak diorama kenangan terbangun di sini.”
Syams mengedarkan pandangannya ke anak putih abu-abu yang mulai berdatangan. Dia kemudian seperti melihat sebuah layar terbentang menayangkan kaleidoskop perjalanan karir Syams selama di SMA itu. Sebuah kisah yang sangat tidak mudah dilalui.
“Selamat pagi kawan. Selamat berjumpa dengan saya di pagi ini. Hari ini jumpa perdana ya dengan saya. Ada yang sudah tahu saya sebelumnya?”
Itulah gaya Syams saat pertama kalinya berhadapan dengan anak-anak. Dia tidak ingin anak-anak memandangnya sebagai hantu yang menyeramkan. Hubungan yang ia bangun dengan anak-anak didiknya adalah persahabatan dengan memegang prinsip saling menghormati, bukan menakut-nakuti.
“Jangan pernah mempertuhankan saya. Guru dan siswa sama saja, sama-sama manusia. Guru tidak selalu benar, tidak suci dari salah, belum tentu lebih tahu segalanya. Bisa jadi kalian yang sering berselancar di dunia maya ini justru lebih dulu dan lebih banyak tahu daripada saya. Jadi jangan ragu untuk lebih maju daripada saya. Mari kita saling berdiskusi dan berbagi dari apa yang kita tahu itu.”
Pembukaan yang meninggalkan kesan mendalam. Memang tidak semua anak didiknya bisa diajak aktif memburu ilmu. Tetapi setidaknya cosmo mereka untuk belajar telah menyala.
“Perjumpaan kita di kelas memang dibatasi waktu. Tapi sebagai manusia merdeka, kita jangan mau dijajah oleh waktu dan ruang. Merdekalah dalam belajar, bukan merdeka untuk tidak belajar. Di ruang manapun dan kapanpun kalian ada ketidakjelasan terkait pelajaran yang saya sampaikan, jangan siksa dirimu dengan kebingungan. Ruang guru, rumah saya maupun handphone saya selalu terbuka untuk kalian.”
Dengan cara inilah Syams membentuk kedekatan. Baginya, kenyamanan anak-anak adalah hal utama agar semangat mereka untuk sekian langkah lebih maju tidak terpatahkan. Dalam setiap interaksi, Syams tak lupa membakar motivasi.
“Sukses bukan cuma haknya anak-anak orang bergelimang harta, bukan hanya haknya keturunan penguasa. Kalian yang mungkin bukan siapa-siapa punya hak sama. Hak untuk bermetamorfosis from nobody to somebody. Hak untuk hebat, lebih sukses. Karena sukses adalah hak kita, hak siapapun yang mau sungguh-sungguh memperjuangkannya dengan doa dan menjalani setiap prosesnya.”
Syams juga dikenal sebagai guru yang tidak pernah mau membebani siswa dengan tumpukan tugas rumah. Di setiap akhir pertemuan, dia cuma memberikan satu tugas rumah yaitu mempelajari apa yang sudah teruraikan untuk diuji di awal pertemuan berikutnya. Dengan strategi ini Syams ingin menjadikan belajar sebagai kebutuhan, bukan keterpaksaan karena ada belasan atau bahkan puluhan nomor soal yang harus diselesaikan.
Dari sekian banyak peristiwa, ada satu yang tak mungkin bisa terlupa. Saat semua guru tersita waktunya untuk memberikan penilaian atas proses belajar yang telah terjalani. Dari penilaian inilah akan bisa dikeahui perkembangan kognitif dan afektif siswa. Nilai kognitif menggambarkan seberapa jauh penguasaan siswa terhadap materi, Ada batas nilai KKM yang harus dipenuhi. Sedangkan afektif menggambarkan mentalitas dan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran, salah satunya adalah kejujuran.
Sepintas tampak mudah dan sederhana. Tetapi tidak untuk Syams. Saat-saat harus memberikan nilai di lembar rapor online siswa adalah waktu yang sangat menyiksa. Bukan karena waktunya banyak tersita untuk memeriksa hasil ujian akhir para siswa tetapi karena harus menghadapi buah simalakama yang terhidang di atas meja. Dia sadar benar tidak sedang hidup di masa silam. Dulu para pengajar memiliki kemerdekaan untuk memberi nilai apa adanya, tidak mengingkari realita. Syams tahu persis risikonya. Berani jujur dalam menilai artinya membuka peluang untuk ditendang.
“Edan! Nilai ujian doremifa doremifa. Diremidi juga tidak ada efeknya. Apa iya harus aku sulap jadi KKM 80. Ini tongkat sulapnya Harry Potter pun nggak bisa,” gerutu Syams saat memelototi rapor online dari laptopnya. Adapun yang dia maksud dengan nilai doremifa adalah 1, 2, 3, 4.
Akhirnya dengan berat hati Syams memberi nilai 80 biarpun harus mengingkari kenyataan. Bukan karena takut didepak. Dia cuma tidak berminat menciptakan konflik dengan orang tua siswa.
Kalau Syams mau berkomromi untuk kognitif, itu tidak berlaku untuk afektif. Buat Syams, memberikan nilai afektif A, B, C, D, atau bahkan E bisa berdampak besar pada masa depan anak-anak didiknya.
“Kalau sikap mereka sepantasnya diganjar dengan nilai C atau malah sekalian D, kenapa harus kupaksakan untuk memberi mereka B atau bahkan A? Apa jadinya dunia pendidikan kalau sikap tidak bagus harus dikata bagus?”
Begitulah akhirnya. Syams tega memberikan nilai afektif apa adanya. Bagus dikatakan bagus, jelek dikatakan jelek.
Setelah input nilai rampung, Syams kontan menerima buah keberaniannya. Namanya langsung menjadi buah bibir. Wali kelas berkasak kusuk dan bahkan ada yang mencoba memprotes.
“Kok anak-anakku banyak yang sampeyan kasih C afektifnya, Pak. Malah ada yang D ya?” tanya seorang wali kelas dengan nada tidak puas.
“Ya terus bagaimana Pak? Kan panjenengan tahu sendiri tabiatnya anak-anak saat mendapat materi. Ada yang ngobrol sendiri dengan teman semejanya, ada yang wara wiri, ada yang tidur. Masa yang begitu harus saya kasih B dan A? Nanti mereka keterusan lho Pak berperilaku begitu karena merasa aman,” jawab Syams memberi pengertian.
Nama Syams tidak cuma “harum” di kalangan para wali kelas. Di kantin pun namanya mulai dikenal.
“Oooh… Bapak yang kasih nilai anak-anak C dan D ya Pak?” tanya penjaga kantin.
Syams sangat terkejut karena beritanya sudah tersebar sampai ke kantin sekolah. Namun dia kukuh dengan sikapnya. Baginya, ini harus jadi pembelajaran buat para siswa memperbaiki adabnya. Dengan adab belajar yang baik, segala proses transfer ilmu akan menjadi mudah.
Itulah deretan memori yang masih terekam di otaknya. Tidak selalu manis tetapi terlalu manis untuk ditinggalkan.
Syams membuka tasnya. Dia mengambil stopmap berisi selembar surat pengunduran diri sebagai pengajar. Ada sisa keraguan yang masih membayangi. Jika surat itu jadi diserahkan, berarti hari ini adalah hari terakhirnya di sekolah itu.
“Haruskah aku keluar dari sini? Jika ya, tentu aku harus segera mencari lahan lainnya untuk bisa mendatangkan pemasukan lebih besar dari yang kudapat disini. Jika tidak, apa yang bisa kuberikan untuk keluargaku dengan penghasilan dari sini?”
Setelah menguatkan diri, Syams memutuskan untuk tetap dengan rencananya yaitu melepaskan profesinya sebagai pengajar. Dia segera melangkah menuju ruang kepala sekolah untuk meresmikan pengunduran dirinya dan menutup semua kenangan yang pernah tercipta.
“Kutinggalkan setengah jiwa dan rinduku di sini, anak-anak! Selamat berpisah.”

BACA JUGA :   Covid 19 : Perspektif Penduduk Desa Poros Timor Leste

Melarungkan Impian
Matahari terus bergerak ke tengah membagikan teriknya secara merata. Sayangnya belum ada inspirasi terpancar dari cakrawala yang bisa menembus otaknya untuk dijadikan bahan tulisan. Pikirannya masih buntu, tak tahu harus menulis apa.
Syams duduk bersila di sebuah gazebo yang dipasang di samping jembatan kayu Pantai Kenjeran Lama. Sambil menikmati suara burung-burung melintas di atas lembutnya ayunan ombak laut, dia berusaha menangkap setiap isyarat alam untuk bisa dituliskan. Dia tidak ingin menyerah begitu saja biarpun kebuntuan menghadang jalannya. Syams masih menyimpan keyakinan akan adanya setapak jalan keluar yang bisa dilintasi.
Selama itu pula, lima lembar kertas dan sebilah pena masih tergeletak di pangkuan. Pena itu sangat setia mengikuti kehendak hati Syams selaku tuannya. Belum pernah sedetikpun membangkang. Bila Syams ingin menulis “susu”, kata itu pulalah yang tertuang di atas selembar kertas. Sang pena tidak pernah menggantinya dengan “kopi” ataupun “wedang jahe”.
Dengan pena inilah Syams merangkai kata dan menyusun alinea hingga menorehkan banyak cerita sebelum diketikkan dan dipublikasikan. Memang bukan kisah percintaan melainkan tentang realita dan pesan-pesan kehidupan. Bagi Syams, sebilah pena tak ubahnya pedang naga puspa yang akan sangat berbahaya jika berada di tangan manusia berwatak jahat. Karena itulah dia tidak pernah mau sembarangan dalam membuat karya.
“Menjadi matahari,” inilah yang selalu diucapkannya saat hendak mulai membuat tulisan. Dalam keyakinannya, menulis bukan semata-mata menciptakan keindahan kata-kata. Menulis adalah pekerjaan memancarkan kejujuran, harapan dan pesan-pesan kebaikan.
“Apa yang harus kutuliskan sekarang sebelum kugantungkan pena ini? Hmmm…,wahai burung-burung laut. Kabar apa yang hendak kau bagi kepadaku dari seberang sana? Harapan apa yang akan kau siulkan kepadaku? Apakah harapan kemakmuran?”
Namun kawanan burung itu seperti tak peduli dengan celotehan Syams. Mereka tetap sibuk dengan urusannya sendiri. Sepertinya mereka pun tak pernah ambil pusing dengan segala bentuk silang sengkarut yang terjadi di negeri ini.
Syams memandang kawanan burung itu dengan menggumamkan perasaan iri,”Kalau saja hidupku seperti mereka. Bebas mencari jalan rezeki, seberapapun dapatnya tetap bisa disyukuri. Nyaman rasanya hidup seperti mereka. Tanpa perlu memanggul beban kemana-mana.”
Kembali ia menatap kertas-kertas di pangkuannya. Semuanya masih kosong, sekosong harapannya.
“Masih bisakah aku menulis dengan jujur tentang ketidaknormalan yang terjadi? Atau aku harus menuliskan kepalsuan? Atau aku gantungkan saja pena ini?”
Banyak sudah realita yang ia kemas dalam bentuk cerita. Banyak keresahan yang ia suarakan melalui tulisan. Inilah caranya menyampaikan pesan setelah tidak lagi turun ke jalan. Tetapi tulisannya tidak selalu menyerang. Terkadang Syams tuliskan juga kekagumannya terhadap seseorang agar bisa dijadikan teladan.
“Hmmm, kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Secerdas apapun seseorang jika tidak menulis maka dia akan dilupakan masyarakat dan tenggelam dari sejarah. Jika kelak aku meninggalkan kefanaan ini, sejarah akan mencatatku sebagai apa? Sebagai matahari atau sebagai polutan?”
Gamang. Itulah yang Syams rasakan sekarang. Menulis kebaikan untuk siapa? Lima buku tunggal buah kerja otaknya tidak ada pembacanya. Kadang mencuat penyesalan mengapa ia tidak hidup seangkatan dengan Abdul Muis atau Chairil Anwar yang berkarya di saat masih banyak yang gandrung membaca.
Syams mengedarkan matanya ke arah barat. Matahari sudah bergeser ke sana. Sementara dia masih belum menulis apa-apa di tempat itu. Tiba-tiba dia teringat dengan Tiara. Salah satu anak didiknya yang pernah ia tuliskan sebagian kisah hidupnya. Anak yang cerdas, suka menulis juga, dan yang paling menarik adalah kejujurannya.
“Tiara. Dimana kamu sekarang? Kamu pasti sekarang sudah jadi orang besar. Gila, semangat belajarmu memang gila. Tapi yang paling gila adalah keberanianmu untuk jujur. Di saat yang lain rela membayar jutaan rupiah untuk mendapat seberkas bocoran jawaban ujian, kamu malah melewatkan kesempatan.”
Seulas senyum tersungging di bibir Syams. Ia membayangkan kalau saja ada seribu Tiara, tentulah bangsa besar ini tak perlu mencemaskan masa depannya.
Kembali wajahnya menatap ke atas. Alam sudah mulai melukis senja. Matahari sudah bersiap-siap merapat ke ufuk barat. Syams menghela napas sejenak. Ibu jari dan telunjuknya mulai menjepit pena. Selembar kertas sudah disiapkan untuk menerima tumpahan isi hatinya.

Tulisan Terakhirku Untuk Semesta
Mungkin tulisanku ini bukanlah yang terindah. Tetapi sangat mungkin inilah tulisan terakhirku. Aku tak tahu apa tulisan yang ini bernasib lebih baik atau sama saja dengan semua karyaku sebelumnya.
Bangsa ini tak punya gairah membaca. Itu bukan kataku. UNESCO yang mengatakan demikian. Kata orang-orang UNESCO, dari 1.000 orang cuma ada satu orang yang suka membaca. Terbayang kan betapa sulitnya menemukan orang gemar membaca di negeri kita ini? Mungkin sama sulitnya dengan menemukan jarum di atas gurun pasir.
Jangan tanya kepadaku ini salah siapa. Karena aku sudah lelah mengatakannya. Tapi kenyataan berkata, bangsa kita harus berkaca dari negara-negara yang menjadi besar karena rakyatnya suka membaca. Aku pernah membaca, di negara China, rakyatnya yang hidup sebagai pemulung tiap hari mampir ke perpustakaan. Bukan untuk cari gratisan makanan melainkan untuk membaca buku ataupun koran. Di Finlandia yang lebih keci dari negara kita, sejak kelahirannya seorang bocah sudah dikenalkan dengan membaca.
Izinkan aku bertanya, bagaimana dengan kita? Sejak lahir anak kita dikenalkan dengan buku atau gawai?Kuharap kita tidak menepuk dada karena negara kita ada di lima besar pengguna media sosial sedunia. Lalu ada pula yang mengabarkan jumlah pemain game online dari negara kita sudah mencapai 100 juta. Apakah ini luar biasa?
Sudahlah semesta. Biarkan “matahari” ini pergi tanpa tahu kapan akan kembali. Sepertinya ini akan menjadi tulisan terakhirku. Aku lelah. Aku sudah kalah. Cukuplah sudah aku berkata-kata. Mungkin memang sekarang saatnya aku menikmati kesendirian layaknya seorang pertapa tua.
Terakhir, untukmu Prathivi. Akan kularungkan pena ini beserta tulisan ini. Biarlah mereka tenggelam beserta semangatku untuk menjadi mataharimu yang menerangi semesta.

Dengan perasaan hancur Syams melipat selembar kertas yang baru saja ia torehkan dengan tulisan perpisahan. Lalu kertas dan pena itu dimasukkan dalam sebuah botol kemudian dilemparkannya ke laut.
Dia sadar tak ada keabadian di alam fana ini. Ada awal pastilah ada akhir. Jadi mungkin inilah akhir perjalanannya sebagai pejuang pena. Seiring hilangnya warna jingga matahari di bibir pantai Kenjeran, terbenam pula kisahnya sebagai matahari yang menyinari semesta dengan karya. Syams pun tak bisa menjawab, apakah ada saatnya “matahari” itu terpancar lagi.

Bersambung

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: