Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Akibat Ulah Manusia, Penyu Hijau Semakin Langka

Saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) melepaskan tukik atau anak penyu di Pantai Kemiren, Desa Griya Tegalsari, Kamis (23/09/2021).

“Yang kita lepas tadi adalah tukik Penyu Lekang dan tukik Penyu Hijau. Sebanyak 1.500 tukik penyu, untuk melestarikan satwa penyu yang semakin menurun populasinya,” ujarnya.

Penyu hijau ( Chelonia mydas ) kini memang semakin sulit dijumpai lagi di pinggir pantai. Hewan laut ini banyak dimangsa predator, terutama manusia.

Itulah sebabnya Jokowi merasa perlu membuat program pelestarian hewan lincah manakala sedang berada di tengah laut ini.

Program pelepasan tukik penyu ini, kata Jokowi, akan dilakukan juga di pantai-pantai di seluruh wilayah Indonesia.

Secara keseluruhan ada sekitar 7 jenis penyu di dunia, 6 diantaranya terdapat di Indonesia, yaitu; penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu pipih (Natator depressa).

Khusus Penyu Hijau, dapat ditemukan hidup di sepanjang kawasan pesisir pantai. Namun keberadaannya akhir-akhir ini sudah semakin jarang terlihat.

Penyu Hijau menghabiskan sebagian hidupnya di laut. Saat berkembang biak, induk hewan ini akan menyusuri daratan untuk bertelur.

Jika sudah menemukan tempat yang dianggapnya aman, induk penyu mengorek pasir membuat lubang-lubang untuk menyimpan telurnya.

Kemudian setelah itu menimbun telurnya dengan pasir pantai. Selesai proses bertelur tersebut, penyu kembali menyelam ke tengah laut.

Waktu terus berputar dan kira-kira 45-60 hari, telur-telur penyu menetas menjadi Tukik (sebutan bagi anak-anak penyu).

Tak begitu lama, tukik-tukik tersebut keluar dari “persembunyiannya” dan berlarian ke bibir pantai untuk berenang ke tengah laut.

BACA JUGA :   Anak Berusia Dua Tahun Menderita Bocor Jantung

Perjuangan tukik di tengah laut ini amat berat. Hasil observasi menunjukkan dari sekitar 1.000 ekor tukik yang berenang ke laut, ternyata hanya seekor saja yang bisa mencapai usia dewasa.

Sejak masih berupa telur, manusia selalu memburunya untuk dijual sebagai konsumsi masyarakat sebagai obat.

Saat berada di tengah-tengah laut, perjuangan tukik lebih dahsyat. Nyawanya sering terancam oleh adanya limbah plastik dan juga jaring-jaring nelayan.

Secara umum regenerasi penyu hijau sangat lambat. Indukan hanya bertelur sekali dalam waktu 2-4 tahun dan hanya 4-7 kali ke daratan untuk meletakkan telurnya.

Tak heran jika penyu hijau semakin hari kian susut jumlahnya. Peran manusia sangat dibutuhkan demi melestarikan hewan laut ini. (*)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: