Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Stadion Aji Imbut, Tenggarong

Stadion Aji Imbut adalah sebuah gelanggang olahraga/stadion yang berlokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Stadion Aji Imbut memiliki kapasitas 35.000 penonton, stadion ini memiliki dua atap berbentuk setengah lingkaran dan saling berhadapan.

Stadion Aji Imbut diresmikan pada 2011, memiliki desain yang tergolong jarang ditemukan di stadion manapun di Indonesia.
Stadion ini dibangun sebagai sarana olahraga untuk PON XVII tahun 2008.

Stadion Aji Imbut merupakan kandang dari klub Liga 2, Mitra Kukar.

GOR Aji Imbut semula bernama Stadion Madya Tenggarong atau Stadion Kudungga, baru pada 28 Maret 2011, diresmikan dengan nama saat ini.

Aji Imbut adalah gelar dari Sultan Muhammad Muslihuddin, sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-16, Ia memerintah pada 1780 hingga 1816.

Pada masa awal, GOR Aji Imbut difungsikan sebagai venue PON XVII 2008, Kaltim bertindak sebagai tuan rumah.

Arena representatif tersebut langsung mencuri perhatian. Stadionnya megah, lengkap dengan rumput berstandar FIFA bernilai Rp 2 miliar.

PT Pembangunan Perumahan Tbk (persero) atau PT PP adalah kontraktor pekerja proyek stadion tersebut, dokumentasi PT PP menyebutkan, proyek terbagi dalam dua tahap.

Pertama, pada Oktober 2007, dengan nilai kontrak Rp 195,8 miliar. Proyek kedua dimulai 6 November 2006 dan selesai pada 30 Mei 2009 dengan nilai Rp 209 miliar.
Jika PT PP bertindak sebagai kontraktor utama, kontraktor beton adalah PT Beton Konstruksi Wijaksana.

Sementara kontraktor track lari atau atletik merupakan Datra Internusa Group dengan total pembangunan GOR Aji Imbut mencapai Rp 899 miliar.

Pemberian nama Stadion Aji Imbut itu berdasarkan kajian yang mendalam terhadap seorang figur yang sangat berjasa dalam sejarah pembangunan di Kesultanan Kutai Kartanegara.

BACA JUGA :   Solskjaer Masih Bungkam soal Kiper Nomor Satu Manchester United

Aji Imbut adalah gelar dari Sultan Aji Muhammad Muslihuddin.

Berdasarkan catatan historis bahwa Aji Imbut pada saat itu ingin memindahkan pusat pemerintahannya dari Marangan (kini di kawasan Loa Kulu dan Jembayan) ke wilayah hulu.

Dalam proses perjalanan melewati Sungai Mahakam mencari ibu kota pemerintahan yang tepat, Aji Imbut sempat bermalam di daerah Gersik (di kawasan Desa Perjiwa saat ini), sebelum memilih ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan (nama kota Tenggarong dahulu) pada 28 September 1782.

Beberapa hari di Gersik, Aji Imbut tertarik dengan kawasan ini karena memiliki lahan pertanian yang potensial untuk dikembangkan.

Di samping itu, Gersik yang tidak jauh dari Tenggarong juga memiliki anak Sungai Mahakam yaitu Sungai Landap sebagai sistem irigasinya.

Sehingga akhirnya Gersik menjadi lumbung pangan bagi warga ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong pada waktu itu.

Sehingga peran Gersik sebagai pemasok pangan sangat penting dan strategis kedudukannya.

Gersik tempo dulu hingga saat ini yang kemudian berubah menjadi Desa Perjiwa posisinya masih tetap strategis dan tidak bisa tergantikan bagi kota Tenggarong.

Oleh sebab itulah stadion di Desa Perjiwa diberi nama Stadion Aji Imbut untuk dijadikan sebuah monumental sejarah kawasan dan figur yang sangat berjasa di Kutai Kartanegara.

Beberapa fasilitas olahraga di Stadion Aji Imbut selain lapangan sepak bola adalah:

Gedung velodrome tertutup

Gedung beladiri

Arena equistrian (berkuda)

Stadion panahan

Arena sepeda BMX

Asrama atlet

Serta dilengkapi jaringan infrastruktur dan dipercantik dengan penataan taman dan plasa.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: