Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perempuan-Perempuan Metropolitan: Perempuan Malang

“Perempuan malang. Kasihan dia.” kata bibi Sri.
“Kenapa memangnya dengan, Santi?” pancingku.
Bi Sri, asisten rumah tangga bunda Marissa ini, rupanya banyak tahu juga tentang perempuan-perempuan yang ngekos di rumah kos bunda.
“Mbak Santi capek-capek kerja. Eh suaminya enak-enakan sama cewek lain.” kata bi Sri memukai jelaskan kehidupan Santi.
Pernikahan Santi dengan laki-laki pilihannya tidak direstui oleh orang tuanya. Suaminya hanya seorang pengangguran. Setelah mereka menikah. Istrinya di suruh kerja. Sementara dia nyantai saja di rumah.
“Perempuan kan gampang nyari kerjaan.” suaminya memberi alasan.
Berbekal ijazah SMA dan paras ayunya. Santi mudah saja mendapatkan pekerjaan. Jadilah dia pagi-pagi berangkat kerja. Sore hari menjelang senja baru sampai di rumah.
Rupanya ini menjadi peluang suaminya untuk bermain api asmara dengan perempuan lain. Uang gaji istrinya dia pakai untuk bersenang-senang dengan perempuan barunya.
Bangkai busuk yang disimpan suaminya. Tercium juga oleh keluarga Santi. Mereka minta dia berpisah dengan suaminya yang tidak tahu diri.
Awalnya Santi tidak percaya. Dia yakin suaminya tidak akan mengkhianatinya. Akan tetapi setelah dia memergoki kelakuan suami dan perempuan lain. Barulah dia percaya dan setuju untuk bercerai.
Untuk menghilangkan trauma bathinnya. Santi merantau ke kota metropolitan. Tapi hanya dengan bekal ijazah sekolah menengah siapa yang mau memberi pekerjaan?

Perempuan Malam
Akhirnya Santi terdampar pada kehidupan malam. Pekerjaan resminya menjadi seorang waiters. Melayani dan menemani minum tamu. Selebihnya tidak ada yang tahu.
“Mbak Santi nggak pernah cerita.” jawab bi Sri ketika aku mencoba mengoreknya.
“Tapi karena kerjanya malam. Orang-orang terlanjur memberi cap negatif. Sebagai perempuan malam.”
Masyarakat memang denga mudahnya memberi label negatif kepada perempuan yang kerja di malam hari. Padahal belum tentu pekerjaannya melanggar norma.
“Tergantung orangnya, mbak.” bi Sri menegaskan.
Aku hanya bisa membayangkan. Betapa berat beban bathin yang ditanggung Santi dengan cap yang diberikan oleh orang lain. Santi pun tidak berusaha menjelaskan karena orang sudah apriori dulu kepada dirinya. Dia menelan sendiri kepedihan hatinya.
Aku semakin termenung. Mendapati fenomena perempuan-perempua di kota metropolitan.

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 9

Mas Sam
(Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama dan kejadian hanyalah kebetulan saja.)

MasSam (60)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: