Oktober 19, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Tangisan Dalam Sujudku

Pagi-pagi buta aku telah dikejutkan dengan alarm hp-ku yang berbunyi. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan mematikan alarm hp-ku. Kemudian ku kembali dalam mimpi indahku. Hingga aku dikejutkan dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Ku coba mengumpulkan nyawaku terlebih dahulu sebelum ku lihat siapa yang melantunkannya. Ternyata yang melantunkannya adalah Syamsul kakaku. Akhi yang satu ini memang sangat taat pada agamanya. Dia berpostur tinggi besar, kulit yang putih dan hidung yang mancung. Akhi juga sering memanggilku si Pesek karena hidungku yang mancung ke dalam. Kali ini aku berangkat sekolah diantar kak Syamsul. Saat aku melewati gerbang sekolah tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggilku. Ternyata itu Rasyid, ikhwan yang selama ini ku kagumi. Aku mengaguminya karena ketekunannya dalam beribadah dan kesabaranyan dalam menghadapi segala hal yang terjadi. Bahkan aku sering senyum-senyum sendiri ketika aku mengingatnya.
Sempat kemarin saat aku duduk di teras, aku membayangkan saat aku bersamanya. Entah kenapa, tiba-tiba mulutku ini tak henti-hentinya tersenyum. Hingga tak ku sadari kakaku memperhatikanku.
“biasanya kalo orang lagi senyum-senyum sendiri itu tandanya dia lagi jatuh cinta” kata kakakku mengejekku.
“yee, siapa yang jatuh cinta??”
“kakak nggak bilang kalo kamu jatuh cinta ya, tapi kamu sendiri yang mengatakan itu” jawab kakakku.
Kini aku tak bisa berkutik di depannya. Dengan malu-malu ku ceritakan semua pada kakakku.
“rasa kagum itu wajar, tapi yang perlu kamu tahu jangan sampai kamu menduakan Allah pencipta kita” nasihat kak Syamsul padaku.
Ketika di kelas ku dengar Rasyid sedang jadi topik pembicaraan anak sekelas. Kata mereka Rasyid sedang dekat bahkan kabarnya sudah jadian dengan Rindu anak kelas IX-D. Hhuuuuhhh, rasanya seperti disambar petir. Memang aku sering sekali melihat mereka berdua kelihatannya mereka memang sangat akrab. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan ini padanya tapi mungkin aku harus mencari waktu yang tepat.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, lagi-lagi Kak Syamsul mengantarku ke sekolah. Kali ini tiada suara yang mengejutkanku. Ketika aku duduk di kantin sambil makan bakso, tiba-tiba ada suara hentakan kaki yang menghampiriku. Tak ku sangka ternyata itu Rasyid. Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk menanyakannya. Sebelum ku menanyakan itu ternyata dia ingin mencurahkan isi hatinya padaku. Dengan senang hati aku mendengarkannya bahkan hampir setiap hari aku menjadi pendengar setianya. Matahari serasa berhenti menyinari saat ku dengar dia berkata bahwa dia mengagumi Rindu. Lalu apa maksudnya mendekatiku, memberi perhatian lebih padaku bahkan dia selalu mencurahkan isi hatinya padaku. Ketika ku tanya padanya dengan mudahnya dia mengatakan bahwa dia menganggapku hanya sekedar teman. Ku tak tahan lagi menahan air mataku yang sejak tadi memberontak ingin keluar. Saat ku ingin meninggalkannya tiba-tiba bel berbunyi panjang. Ku tinggalkan dia seorang diri dan kuberlari menuju kelas hingga bayangnya lenyap dalam keramaian. Mungkin mulai hari ini takkan ku lihat lagi senyuman yang setiap pagi selalu menghampiri, mungkin aku juga akan merindukan hentakan kaki yang setiap pagi selalu mendekatiku. Dan mungkin mulai saat ini ku takkan pernah melihatnya lagi. Aku pulang dengan deraian air mata.
“ kau kenapa?” tanya kak Syamsul padaku.
Ku ceritakan semua kegundahan yang kini sedang merajalela di benakku.
“ini semua salahku, Kak. Aku tak mengindahkan pesanmu. Mungkin ini akibatnya karena aku telah menduakan Kekasihku”
“kembalilah pada Allah dan mintalah ampun pada-Nya”
Aku langsung menuju kamar mandi untuk berwudlu dan segera masuk ke kamar untuk sholat dhuhur. Setelah sholat masih belum bisa ku lupakan semua yang terjadi. Semua ini terasa teramat perih bagiku. Ini memang kesalahanku. Ku masih tak menyangka dugaanku hanya sia-sia. Kukira kau suka padaku ternyata kau hanya menganggapmu sebagai teman. Apalagi ketika ku lihat kau dengan si dia. Hhuuuuuhhh, bumi serasa berhenti berputar.
Maafkan aku ya Allah..
Aku telah menduakan cinta-Mu
Aku telah mendustakan kasihmu
Aku telah ingkar pada-Mu
Maafkan aku jika aku sempat menghentikan tekadku
Tekad tuk menjadi kekasih-Mu
Kini ku kembali pada-Mu
Dengan hati yang penuh kalbu
Kini ku serahkan jiwa raga hanya untuk-Mu
Wahai Kekasihku…
Masih ku ingat kala kau senyum padaku. Kala kau mencurahkan semua isi hatimu padaku. Tapi kini itu hanya kenangan. Kenangan yang mungkin tak bisa ku lupakan. Karena setiap ku berusaha melupakannya semakin ku selalu mengingatnya.
Ya Allah.. wahai Kekasihku..
Kini kuserahkan hidup matiku untuk-Mu
Wahai zat yang abadi berikan yang terbaik untukku
Berikan ridhomu disetiap langkah kakiku
Ya Allah bantu aku melupakannya
Tuntun aku menuju jannnah-Mu
Dan maafkan segala kekhilafanku
Kan ku ungkapkan Tangisan Dalam Sujudku
Aku berjanji pada-Mu…
Kan ku tunggu seseorang yang menjemputku dengan cinta-Mu
Yang menjagaku dengan kesucianku
Dan mampu menuntunku menuju Jannah-Mu

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Kasih Sayang Seorang Ayah
%d blogger menyukai ini: