Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Pertanyaan Yang Selaku Menghantui

Dear Diary,
Rasa apa ya, ini Diary? Apa rasa cinta? Atau sekedar sayang? Tapi mana mungkin aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri? Tapi kalau benar seperti itu, apa mungkin persahabatanku akan hancur? Aduh, entahlah. Kenapa pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiranku? Lupakan!!
Apalagi akhir-akhir ini hubunganku dengan Tama semakin dekat. Bahkan kami sempat dikabarkan berpacaran saat di sekolah. Apalagi kemarin pagi Diary, aku dibuat salah tingkah di depan teman-temanku. Sebenarnya sih masalahnya sepele. Sahabatku satu ini, si Tama ingin mengembalikan bukuku yang ia pinjam kemarin lusa. Tapi teman-temanku justru salah paham. Apalagi waktu si Sari temanku sekelas bilang “Ra, dicari Tama.”
Kamu tahu enggak sih Diary, apa yang terjadi? Semua teman sekelasku teriak kegirangan. Bayangkan saja bagaimana tingkahku saat semua temanku seperti itu. Dan yang lebih parahnya lagi, bukuku langsung ditaruh di meja dekat pintu sama Tama sambil bilang makasih. Oh my god, bahkan dia enggak peduli gimana keadaanku saat itu. Tama memang seperti itu orangnya cuek. Tapi kali ini dia keterlaluan, katanya sahabat selalu ada saat suka maupun duka. Nah ini justru pergi, persahabatan macam apa ini?
Sari juga sih, kenapa suaranya harus senyaring itu? Mungkin kalau suaranya enggak kayak gitu, semua pasti enggak akan terjadi. Dan aku juga enggak salah tingkah di depan semua temanku.
Oh iya Diary, tadi pagi si Tama datang ke kelasku. Tahu enggak apa yang terjadi? Semua temanku bisik-bisik. Dan enggak perlu ditanya, mereka pasti lagi ngomongin aku sama si Tama. Terus ni ya, waktu aku tanya dia ngapain datang ke kelasku. Eh dia cuma tanya apa kabar. Dan pertanyaaan itu bikin semua temanku yang menguping pembicaraanku dengan Tama tertawa terbahak-bahak. Ada juga temanku yang nyeletuk “Oh kayak gitu ya, kalau anak baru pacaran?” kata-katanya sih sedikit tapi nancap di hati. Dan kamu tahu enggak apa yang terjadi Diary? Tama cuma tersenyum dengar teman-temanku mengejek kami. Haduh, ini anak hatinya terbuat dari apa sih? Kok bisa sabar kayak gitu. Ya emang sih, aku enggak pernah pacaran. Sampai sekarang pun belum pernah kalau sama Tama kan cuma gosip aja. Kata teman-teman sih enak punya pacar ,malam Minggu enggak kesepian, ada teman curhat, ada teman SMS. Nah kalau jomblo kayak gini kesepian terus. Nih ya, bahkan ada yang bilang kalau Jakarta banjir itu yang disalahin bukan pemerintah, tapi harusnya para JoNes (Jomblo Ngenes) yang tiap malam Minggu selalu ngarepin hujan biar semua temannya yang punya pacar enggak jadi jalan. Kata-kata itu nusuk banget, Diary. Tapi meskipun banyak kata-kata sindiran kayak gitu aku tetap teguh dengan pendirianku, aku masih pengin bikin orang tua bahagia. Masalah pacar sih entaran aja kalau sudah gede. Oh iya, biar jomblo kan yang penting happy ending dari pada punya pacar galau terus percuma. Tiap malam Minggu aku juga enggak kesepihan, kan ada orang tua yang selalu menghibur dan selalu ada disampingku.
Oh ya Diary, aku tadi sempat curhat gitu sama si Sari. Ya, awalnya sih enggak niat buat curhat. Tapi si Sari aja yang mancing-mancing, jadi keceplosan deh. Diary, ternyata si Sari itu enak juga lo diajak curhat. Apalagi masalah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terus menghantuiku. Waktu aku cerita semua ke Sari masalah itu. Katanya sih itu rasa cinta. Tapi masak iya aku cinta sama si Tama? Kata Sari rasa itu mulai muncul waktu aku sering menghabiskan waktu bersama Tama. Ya, walaupun sekedar belajar bareng. Ya, kalau aku sih percaya aja sama si Sari, dia kan lebih berpengalaman dari aku. Bisa dibilang sih dia lebih senior kalau masalah cinta-cintaan. Sari juga bilang, kalau si Tama juga suka sama aku. Katanya sih Tama pernah curhat gitu sama dia. Yang enggak habis pikir sih, kok bisa ya si Tama curhat sama Sari yang baru dikenal. Padahal kan aku lebih lama mengenal dia. Terus aku ditanya sama Sari. Dia bilang gini nih “Kalau Tama ngomong dia suka sama kamu gimana? Apa kamu tetap berpegang teguh sama pendirianmu untuk enggak pacaran? Padahal kamu sendiri kan tahu kalau kamu juga suka sama Tama.”
Hampir satu jam Diary aku diam dihadapan Sari. Yang dikatakannya memang ada benarnya. Nah kalau, si Tama menerima jawabanku tapi kalau dia marah gimana, kan urusannya bisa berabe. Belum selesai aku memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui aku ditambah lagi pertanyaan Sari yang membuat kepalaku seakan mau pecah.
Ini nih Diary yang aku khawatirkan dari dulu. Kalau sahabat jadi cinta kayak gini kan ribet. Persahabatan pasti rusak gara-gara cinta. Akhirnya aku bilang ke Sari, gini nih “Untuk jawabannya biar aku sama Tama aja yang tahu. Tapi intinya di sini aku enggak pengin nyakitin siapa pun. Perasaan ini datang tiba-tiba tanpa diundang jadi enggak ada yang bisa disalahin.”
Oh iya Diary, sekarang aku mutusin untuk tetap berpegang teguh sama pendirian aku. Aku masih pengin buat orang tua bahagia. Masalah pacar entaran aja. Toh, aku yakin kalau aku jelasin semuanya ke Tama dia pasti enggak akan marah. Ya, meskipun dia orangnya cuek tapi hatinya baik kok, dia juga selalu berpikir dewasa bahkan sering nasehati aku kalau aku punya masalah atau aku punya salah sama orang lain. Seperti yang aku bilang tadi di awal. Sampai sekarang pun aku enggak tahu hatinya Tama terbuat dari apa? Bisa-bisanya dia punya sifat yang baik dan penyabar, pastinya sih sifat yang dicari semua orang. Sifat sabar itu juga sulit dipelajari lebih sulit dari pelajaran matematika, IPA ataupun Bahasa Inggris. Untuk sekarang ini mungkin tekadku teta, ingin membahagiakan orang tuaku. Aku akan fokus ke situ. Dan enggak mikirin pacar, kekasih atau apalah yang sejenisnya. Toh jodoh udah ada yang ngatur. Jodoh pasti bertemu kata Afgan lewat lagunya.
Tapi Diary, kalau boleh jujur sebenarnya aku masih ragu dengan keputusanku sendiri. Semua ini membuat aku bingung. Mungkin yang harus aku lakukan sekarang hanya menjalani semua ini apa adanya. Biarlah Allah yang berkehendak.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Mimpi Sang Dara
%d blogger menyukai ini: