Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Penyesalanku Kenanganku

Pagiku terasa berbeda kala kau pergi meninggalkanku. Entah untuk sementara atau selamanya. Ketika dulu kau disampingku, aku bisa mengayuh sepedaku lebih cepat karena selalu ada semangat dan dorongan darimu. Tetapi sekarang ku kayuh sepedaku perlahan-lahan serasa aku sedang mengangkat beban yang berat. Kalau sudah kehilangan sahabat terbaik, ku yakin semua orang pasti tak bisa berdiri sendiri dan selalu mengingat masa-masa indah bersama sahabat tercinta. Dua har telah berlalu, kau tak knjung datang menemuiku. Tiada kau rasanya hari-hariku menjadi kelabu.
Kau pergi kemana?? Apa salahku hingga kau pergi meninggalkanku?? Tiba-tiba air mataku mulai menetes. Jujur baru kali ini ku teteskan air mataku demi seorang sahabat. Mungkin ini semua memang salahku ketika kau ada aku tak memperdulikanmu tetapi kini ketika kau tiada aku selalu mencarimu. Sekarang semuanya telah menjadi bubur. Hanya penyesalan dan air mata yang bisa ku perbuat.
Gerbang sekolah telah di depan mata. Ku hapus air mata esedihan yang sedari tadi mengendalikan diriku. Aku bergegas memasuki kelas dan duduk di tempat dudukku. Tiba-tiba ada suara yang membuyarkan lamunanku.
“kau kepana,Cha?” tanya Sandra.
Sandra memang anak yang baik. Dia selalu ada untukku. Tetapi aku selalu menghiraukannya. Aku selalu sibuk dengan teman baruku.mungkin ini yang menyebabkan sikap Calisa berubah. aku memang orang ang egois dan ingin menang sendiri. Bel berbunyi panjang tanda murid-murid boleh pulang.
Siang yang terik,tiada lagi candamu yang selalu menggelitik perutku. Aku ingat sewaktu di sekolah tadi. Aku melihat Calisa atau biasa ku panggil Icha mulai akrab dengan teman barunya. Mereka terlihat sangat gembira. Sedangkan yang bisa ku perbuat hanya menyesali hal yang sudah terjadi. Separuh jiwaku mulai pergi dengan kesedihan. Apakah ini yang Icha rasakan ketika melihat aku dengan Siska. Siska adalah teman baruku. Memang akhir-akhir ini aku sangat akrab dengannya hingga aku melupakan sahabat terbaikku Icha. Siska selalu mengajakku bermain,belanja, jalan-jalan dan lain-lain. Hingga uangku ku hamburkan begitu saja. Aku tak pernah menyadari bahwa di luar sana masih banak orang yang mempertaruhkan nyawanya demi menghidupi keluarganya. Itu ucapan terakhir yang terucap dari bibir Icha. Dan karena itu Ibu selalu memarahiku. Ibu juga selalu berkata jangan sampai kita terjerumus pada lubang kehidupan yang kelam.
Tadi aku berangkat sekolah diantar oleh ibu. Sekarang aku jadi bingung aku harus pulang dengan siapa. Ibuku baru SMS, ia berpesan agar aku pulang bersama temanku karena ia sedang ada urusan penting. Sekarang aku pulang bersama siapa? Andai saja hubunganku dengan Icha masih berjalan lancar pasti aku sekarang senang sekali bisa pulang bersama Icha tapi mungkin itu hanya mimpi.
“hai Echa,belum pulang?” tanya Sandra
“belum” jawabku
“memangnya kenapa?”
“Ibuku tak bisa menjemputku sekarang aku jadi bingung mau pulang sama siapa”
“ayo naik! Pulang sama aku saja rumah kita kan searah”
“baiklah, terima kasih atas bantuanmu.”
Ditengah perjalanan aku baru sadar Sandra adalah teman yag baik. Tak sepantasnya aku dulu selau menghiraukannya. Aku pun meminta maaf pada Sandra atas kesalahanku selama ini. Hatiku senang sekali karena Sandra mau memaafkanku. Aku juga berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Sesampai di depan rumh, aku bergegas masuk rumah. Tiba-tiba ada orang yang menarikku dari belakang dan membungkam mulutku dengan sapu tangannya. Sebenarnya siapa dia? Berani sekali melakukan ini padaku. Setelah jauh dari rumah, dia melepaskan tanganku dan membuka bungkamannya. Aku sungguh tak percaya ternyata yang melakukan semua ini adalah Siska.
“kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku
“aku ingin mengajakmu berbelanja dan bersenang-senang”
“tapi bukan seperti ini caranya!”
“jika tidak sperti ini seperti apa lagi? Ibumu selalu melarangku bertemu denganmu”
“memang seharusnya aku tak bertemu danganmu!!” jawabku dengan kasar.
Aku masih tak habis pikir, orang yang selama ini ku jkira lebih baik justru mau menghancurkanku.
Aku berlari meninggalkan Siska dan kembali ke rumah. Sesampai di rumah ku peluk Ibuku sambil menyesali apa yang sudah terjadi.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   "Episode 2" Laki-Laki Manis Berpeci Hitam
%d blogger menyukai ini: