Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Masa Depan Bangsa Digenggaman Kita

Aku sedang duduk termenung dalam diam. Sambil ku bayangkan hidupku nanti di masa depan. Ya, walaupun semua orang tak pernah tahu bagaimana hidupnya di masa depan nanti. Tapi apa salahnya berandai-andai. Toh, itu juga membuat kita lebih semangat untuk menyongsong masa depan. Dan pastinya selalu optimis. Ku dengar suara indah kicauan burung ditimpali dengan suara teriakan abang tukang sayur. Tiba-tiba saja suasana indah itu hilang, kalah dengan suara teriakan ibu dari dapur.
“Via, cepat mandi nanti telat ke sekolah!” Suara ibu sambil berteriak.
“Iya iya.”
Setelah mandi, aku langsung makan bersama ayah dan ibuku. Makan dengan sayur asam yang sangat lezat ditambah tempe dan ditemani sambal terasi buatan ibu. Wah, rasanya aku tak ingin beranjak dari sini. Masakan ibu memang paling enak deh. Tapi karena tuntutanku sebagai pelajar, aku harus berangkat sekolah. Ini juga kan untuk orang tuaku. Ya, semoga saja semuanya lancar dan aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku.
Sesampai di sekolah, aku melihat Rahma mengobrol sama anak-anak kecil yang sedang mencari sampah plastik untuk menyambung hidup. Lebih baik aku temui saja dia dan sedikit bertanya-tanya enggak apa-apa lah.
“Rahma kok kamu di sini, sih?”
“Iya nih lagi ngobrol sama anak-anak. Ya sudah, kita masuk saja, yuk!”
Kenapa jadi Rahma yang menarik tanganku dan mengajakku masuk. Kan harusnya aku. Tapi ya sudah lah, lupakan. Oh iya, masih pagi-pagi seperti ini Rahma sudah dipanggil Bu Yuli. BuYuli itu yang mengurusi keuangan siswa, seperti siswa yang belum membayar keperluan sekolah. Sudah beberapa bulan terakhir ini Rahma memang selalu menunggak untuk bayar bulanan. Padahal, itu kan untuk study tour. Rahma Rahma, dia memang seperti itu kalau ada masalah pasti ditutup-tutupi. Sebenarnya niatnya baik, dia enggak mau merepotkan orang lain. tapi kan kalau untuk sekedar bercerita apa salahnya. Yang pernah aku dengar sih, katanya kalau kita punya masalah dan mau menceritakan masalah itu pada orang yang kita percaya bisa membuat kita sedikit lebih tenang. Apalagi kalau orang yang kita percaya itu bisa memberikan solusi yang terbaik, itu pasti sangat membantu kita dalam memecahkan masalah. Aku juga berkata seperti itu pada Rahma setelah dia keluar dari ruangan Bu Yuli.
“Aku sudah menunggak 5 bulan. Kamu tahu sendiri kan, Bapakku hanya kerja sebagai kuli bangunan dan Ibuku hanya menitipkan kue-kuenya di beberapa warung dekat rumah. Sepulang sekolah pun aku harus menjual kue buatan Ibu. Aku tidak tega meminta uang pada Ayah dan Ibuku.” Kata Rahma.
“Tapi Rahma, kalau kamu tidak membicarakan semua ini dengan orang tuamu bagaimana caramu untuk membayarnya?”
“Entahlah aku juga masih bingung.”
“Apa kamu tidak mendapat bantuan seperti BSM?”
“Tidak Via.”
“Kok bisa seperti ini, sih? Kamu dan keluargamu yang kesusahan mencari uang tidak mendapat bantuan sedangkan si Angel anak orang mampu justru mendapat bantuan. Dunia memang sudah terbalik. Apalagi kamu anak berprestasi di sekolah.”
“Ya, mungkin memang belum rezekinya Via.”
“Tidak bisa seperti itu Rahma, ini namanya tidak adil. Kalau sekarang saja sudah ditanamkan ketidak adilan bagaimana nasib bangsa kita di masa depan?”
“Aku mohon padamu Via, kontrol emosimu mungkin ini hanya kesalahan.”
“Kalau memang kesalahan ini namanya kesalahan yang fatal Rahma, kamu mau melihat uang yang seharusnya ditujukan kepada orang yang membutuhkan justru diberikan kepada orang yang sukanya menghambur-hamburkan uang.”
Rahma tetap saja berusaha untuk sabar. Aku masih tak percaya, bisa-bisanya orang yang kesulitan mencari nafkah dibiarkan saja sedangkan orang yang memiliki harta berlimpah justru diberikan bantuan. Aku masih tidak terima, ini artinya tidak adil. Tumbuhan saja kalau ditanam akan semakin tumbuh bahkan bisa berkembang biak. Apa ketidak adilan di bangsa ini akan seperti tumbuhan itu? Apalagi aku sebagai generasi muda harus menegakkan ini semua. Masa depan bangsa ada di genggaman generasi muda. Oh iya aku sampai lupa, Angel itu adalah salah satu teman sekolahku. Dia itu anaknya manja, sombong, suka menghambur-hamburkan uang bahkan tidak pernah mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Apakah pantas orang seperti dia mendapatkan bantuan? Semua sifat Angel memang berbanding terbalik dengan Rahma. Rahma itu orangnya baik, mandiri, rendah hati, selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan walaupun hanya sedikit dan dia juga paling suka berbagi.
Oh iya, jadi ingat tadi siang waktu pulang sekolah. Aku melihat Rahma memberikan sedikit kue jualannya untuk anak kecil yang kelaparan di pinggir jalan.
“Rahma, kenapa kamu berikan sedikit kue jualanmu kepada mereka?” tanyaku.
“Kasihan mereka Via, sejak pagi tidak makan.”
“Tapi, apa kamu tidak rugi?”
“Aku tidak pernah merasa rugi kalau itu untuk berbagi. Kita itu sebagai makhluk sosial harus tolong menolong, siapa tahu hari esok aku membutuhkan bantuan mereka.”
“Apa kamu tidak dimarahi Ibumu?”
“Justru Ibu mengajaranku untuk selalu berbagi kebaikan. Kalau bukan kita orang yang memperhatikan mereka siapa lagi? Orang-orang yang kaya? Kalau kita mengharap bantuan dari mereka seperti mengharapkan hujan di musim kemarau yang belum tentu terjadi. Kita itu lebih beruntung dari mereka Via, kita masih bisa sekolah sedangkan mereka untuk makan saja kebingungan apalagi untuk sekolah?”
“Kamu benar Rahma. Orang tuamu pasti bangga punya anak yang berprestasi di sekolah dan hati yang baik sepertimu.”
Semenjak aku kenal dengan Rahma, kehidupanku berubah. Aku belajar banyak dari dia tentang keikhlasan, rasa syukur, berbagi, berkorban dan lain-lain. Jadi aku bertekad besok aku akan menemui Bu Yuli dan menjelaskan semua yang terjadi pada Rahma.
Tak terasa fajar telah mengusir gelap. Pagi ini, aku tidak perlu duduk termenung sambil melihat indahnya suasanan pagi. Yang aku lakukan sekarang adalah segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah makan, aku langsung berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku segera mencari Bu Yuli di ruangannya. Setelah itu aku menceritakan semuanya tentang kehidupan Rahma dan keluarganya. Bahkan Bu Yuli sampai meneteskan air mata mendengar cerita hidup Rahma.
“Bagaimana kesalahan yang sangat fatal ini bisa terjadi? Saya akan membicarakan ini dengan kepala sekolah.” Kata Bu Yuli.
“Oh iya Bu, tolong sampaikan pesan saya pada kepala sekolah. Sebaiknya calon penerima bantuan harus mau diadakan vasitasi atau kunjungan rumah agar masalah seperti ini tidak terulang lagi. Kasihan yang menjadi korban.”
“Saya pasti akan menyampaikan pesanmu. Terima kasih atas informasinya.”
Semoga saja keadilan selalu memihak. Saat jam istirahat, akudan Rahma sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil menikmati bekal yang sudah dibawakan ibu dari rumah. Tiba-tiba saja Rahma dipanggil Bu Yuli lagi. Semoga saja ini pertanda baik. Setelah keluar dari ruangan Bu Yuli, Rahma terlihat murung. Harapanku musnah sudah bagai dihempas gelombang. Tiba-tiba saja Rahma memelukku dan mengatakan terima kasih padaku. Ternyata rencanaku berhasil sekarang keadilan sudah ditegakkan.
“Masa depan bangsa ada di genggaman kita.” Kataku bersama Rahma. Pengalaman ini takkan pernah terlupakan, melihat sahabatku tersenyum bahagia membuat aku semakin senang dan selalu ingin berbagi keadilan bagi orang yang merasa dirinya tidak mendapat keadilan. Bahkan jika kelak aku memiliki uang yang lebih, aku ingin sekali melihat anak-anak tidak mampu yang berprestasi bersekolah dengan hasil keringatku sendiri. Aku juga ingin pendidikan di bangsaku ini terus berkembang dan yang pasti aku tidak ingin kejadian yang dialami Rahma terulang lagi pada orang lain.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Kehilangan :chapter 1
%d blogger menyukai ini: