Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Kuingin Hapus Air Mataku

Masa-masa indah itu tinggal kenangan. Kenangan yang mungkin tak bisa terulang. Masih ku ingat saat kau menjagaku. Masih ku ingat saat kau melindungiku. Rinduku tingallah angan. Yang kini masih tak bisa ku lupakan. Sepuluh tahun sudah waktu ku lalui tanpamu. Aku masih tak bisa melupakanmu meski telah ku miliki pengganti yang lebih darimu. Telah ku coba berbagai cara untuk bisa melupakanmu tapi itu sia-sia. Karena semakin ku berusaha melupakanmu semakin ku selalu mengingatmu. Tak bisa ku pungkiri jika aku sedikit lupa dengan sosok yang selalu menghiasi hari-hariku dulu. Walaupun sosokmu telah pergi jauh dariku, tapi anganku selalu merindukanmu. Teman masa kecil yang selalu menghiasi senyumanku. Meski ku tak tahu apa kau masih mengingatku. Tapi hanya satu yang ku tahu kaulah teman masa kecilku sekaligus sahabat terbaikku.
Malam yang kelabu, tiada seorangpun yang menemaniku. Ku rebahkan tubuhku dalam ranjang yang telah menjadi temanku disaat aku kecewa ataupun bahagia, ranjangku yang selalu ada disampngku. Ku lihat kembali album masa kecilku yang penuh dengan debu dan kotoran karena jarang sekali aku membukanya. Tapi entah kenapa aku ingin sekali membukanya walau aku harus membersihkan semua debu dan kotoran yang menempel. Ku bolah-balik album foto itu dan ku temukan sesosok anak lelaki kecil yang berada disampingku ketika perayaan hari ulang tahunku. Aku pun larut dalam anganku dan kembali ke masa lalu dimana aku bisa menemuminya teman masa kecilku. Setahuku dulu ayahnya adalah teman baik alm. Ayahku. Dia juga sering ke rumahku hingga kami pun merasa nyaman dan menghabiskan waktu bersama. Pernah suatu waktu, ketika aku sedang bermain dengan teman-teman dekat rumahku dia datang dan mengajakku untuk kembali pulang. Aku memang anak kecil yang masih polos bahkan sering dibohongi dan dimanfaatkan untuk kepentingan teman-teman dekat rumahku. Aku baru menyadari bahwa maksud dia itu baik agar aku tidak terus dibohongi dan dimanfaatkan oleh teman-temanmu. Bahkan secara tidak langsung dia telah menjagaku.
Tapi masa indah itu tak berlangsung lama, karena ayah sakit dan keadaannya semakin memburuk akhirnya ibuku memutuskan untuk kembali ke Kediri. Ya meskipun ini berat tapi apa boleh buat aku juga tak boleh egois mungkin ayah memang membutuhkan perawatan yang intensif. Malam yang penuh taburan bintang, suara televsi yang sedari tadi menemaniku dalam lamunanku tak juga berhenti. Tiba-tiba suara batuk ayah menyadarkan aku dari lamunanku. Kulihat keadaan ayah yang semakin hari semakin memburuk. Bahkan saat ayah batuk dia selalu mengeluarkan darah. Aku tahu meskipun ibu bisa tersenyum di depanku pasti beliau menyimpan kesedihan yang amat pilu dalam benaknya.
Waktu terus saja berjalan, tinggal beberapa menit lagi aku harus meninggalkan rumah tempatku dibesarkan. Barang-barang juga sudah diangkut di atas truk besar. Aku masih menghadap jalan setapak yang sering ku lalui. Berharap dia datang menemui ku untuk terakhir kalinya. Tapi harapan tinggallah harapan yang tak mungkin terjadi. Bahkan saat aku duduk dalam truk pun harapan itu belum hilang. Tak terasa dalam renunganku setetes air mata bening nan suci membasahi pipiku. Ternyata ibu mengerti bahwa aku ingin bertemu dengannya. Ibu juga berkata “Pada suatu hari nanti ada saatnya kamu akan bertemu dengan sahabat kecilmu itu”. Kata-kata ibu itu mulai menenangkan hatiku walau ku tak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Ketika ayahku meninggal pun aku tak bertemu dengannya lagi. Padahal saat itulah aku membutuhkannya. Mungkin dia tak datang karena ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Atau mungkin dia datang ketika aku diajak kakekku pergi agar aku tidak terlelap dalam kesedihanku. Dia, aku masih berharap untuk bertemu dengannya, entah kapan itu terjadi tapi itu keinginanku. Jika aku bertemu dengannya aku ingin mengucapkan terima kasih padanya.
Teman masa kecilku
Terima kasih karena kau telah menjagaku
Walau ku tahu kau bukan ibuku
Terima kasih karena kau selalu ada saat aku terluka dan kecewa
Walau aku tahu tidak ada hubungan darah diantara kita
Jika kau marah mengingatkanku pada Ayahku
Jika kau peduli mengingatkanku pada ibuku
Dan jika kau menggangguku mengingatkanku
Pada teman-teman yang selalu menggangguku
Ku berharap bukan aku saja yang merasakan itu tapi aku ingin kau juga merasakan itu. Dan rinduku bukanlah semu. Sekali lagi terima kasih kau sudah menghiasi hari-hariku yang dulu kelabu. Aku akan menunggumu sampai kita bisa bertemu.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Aku
%d blogger menyukai ini: