Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Cerpen Ketika Cinta Berkata Dusta

Kenapa selalu memikirkannya?? Kenapa bayangannya selalu menghantuiku?? Kenapa selalu ingin bersamanya?? Ya Allah, apakah ini yang dinamakan cinta?? ataukah ini hanya cobaaan yang Kau berikan pada hamba-Mu yang lemah ini. Dan kenapa harus dia?? sahabatku sendiri. Tiadakah orang lain ??
Setiap hari bertemu, tertawa bersama, merajut mimpi, dan mengejar cita-cita. Membuatku semakin dekat dengannya. Dan saat kita tak bertemu membuatku selalu merindukan kehadirannya. Apalagi setiap kita bertemu pasti semua orang meledek kita. Menganggap kita menjalin kasih padahal sering kita jelaskan bahwa kita sebatas sahabat. Tetapi tak bisa ku pungkiri, jika aku mulai menaruh hati padanya. Bukan pada parasnya, tetapi pada keteguhan jiwanya, kesederhanaan penampilanya dan kebijakan hatinya. Ya Allah, aku tak ingin menduakan cintaku untuk orang lain. Beri aku kekuatan untuk semua ini, jangan biarkan aku larut dalam cinta yang semu.
Maaf. Hanya kata itu yang bisa ku ucap. Maaf jika aku menyakiti hatimu. Tapi aku tak bermaksud seperti itu. Awalnya aku hanya ingin yang terbaik untuk kita. Tetapi ternyata ini mimpi buruk bagiku. Tanpa sengaja aku telah menyakiti hatimu. Semua bermula ketika Kinar, temanku bertanya padaku.
“Emang bener ya, kalo kamu pacaran sama si Raihan??” setelah aku mendengar perkataan itu. Sejenak aku terdiam dan membisu. Apa yang harus ku lakukan?? Perkataan itu seakan menghantam tubuhku dan menyeretku dalam deburan ombak yang kuat. Tiba-tiba Kinar menepuk pundakku.
“Kenapa kok enggak dijawab?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?? Padahal katamu kita teman kan??” tanyanya lagi. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Kinar. Jika aku tak menjawab pertanyaannya sama saja aku berdusta padanya.
“Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat tak lebih dari itu.”
“Tetapi bagaimana kalau dia menganggapmu lebih dari sahabat?? Dan dia mengutarakan perasaannya padamu. Apa kamu juga merasakan itu??”
“Merasakan apa??” tanyaku pura-pura polos agar percakapan ini segera berakhir. Semakin lama percakapan ini semakin membuatku terpojok.
“Sudahlah jangan pura-pura polos aku tahu kamu juga suka Raihan bukan??”
“Siapa yang berkata seperti itu?? Aku tak pernah menganggapnya lebih, kami hanya sebatas sahabat!! Itu saja” jawabku dengan lantang.
“Apa kamu yakin sama perkataanmu?? Apa kamu enggak nyesal nantinya??”
“Untuk apa menyesal?? Itu memang apa yang aku rasakan. Lagipula aku tidak mungkin mengatakan apapun berdasarkan dengan kebohongan.” aku terpaksa mengatakan itu. Aku ingin yang terbaik untuk aku dan Raihan, sahabatku. Aku tak ingin jika persahabatan yang selama ini ku jalani harus hancur karena cinta. Meskipun banyak orang yang berkata bahwa cinta itu dimulai dari persahabatan. Tetapi aku tetap berpegang teguh pada prinsipku. Tak ku sangka tiba-tiba Raihan datang menghampiriku dengan raut wajah yang penuh kekecewaan.
“Aku masih enggak nyangka kata-kata yang tadi kamu bilang. Awalnya aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Tetapi setelah aku mengetahui semuanya harapanku telah musnah. Lalu apa maksudmu memberi perhatian padaku, selalu ada disaat aku terluka, disaatku termenung, dan disaat aku bahagia. Apa kamu enggak sadar kalau perbuatanmu itu telah memberiku harapan??”
“Aku tak bermaksud seperti itu??”
“Mungkin memang benar apa yang dikatakan Kinar. Lebih baik belajar menerima seseorang yang tulus pada kita dari pada mengejar seseorang yang kita harapkan padahal kita belum tahu apakah dia juga mengharapkan kita. Kini aku menyesal telah menghabiskan waktuku untuk mengharapkan seseorang yang tak pernah mengharapkanku. Padahal aku tahu ada seseorang yang tulus menunggu dan dia adalah Kinar temanmu sendiri.” Akhirnya Raihan mengutarakan persaannya pada Kinar.
“Mungkin aku enggak bisa membalas perasaanmu, tapi aku akan berusaha untuk menjaga perasaan itu. Ku mohon izinkan aku untuk selalu disampingmu seperti kamu yang selalu ada disampingku walau aku tak menganggapmu ada. Maaf jika aku selalu membanding-bandingkanmu dengan orang lain. Aku berjanji akan menerima kamu apa adanya. Aku mencintaimu bukan karena kecantikanmu, tetapi karena ketulusan hatimu, ketabahan jiwamu dan kesabaran batinmu. Aku akan belajar untuk mencintaimu karena Allah bukan karena nafsu.” Itulah kata-kata yang diucapkan Raihan untuk Kinar temanku sendiri. Tanpa berpikir panjang Kinar pun menerima cinta Raihan.
Sejak saat itulah mereka selalu bersama, kemana pun Kinar pergi pasti ada Raihan disampingnya. Andai saja dulu mulutku tak berdusta mungkin yang berada disamping Raihan saat ini aku bukan Kinar. Kini baru aku tahu apa itu cinta setelah ia tak lagi disampingku dan telah bersama orang lain. Setelah ia pergi hari-hariku semu, tanpa seberkas cahaya sedikit pun. Kini yang bisa ku perbuat hanya menyesal.
Maafkan aku yang berusaha mempertahankan hubungan dengan cara merusaknya dari belakang, menjaga hubungan dengan cara mendustakan perasaan, menjaga hubungan dengan cara melukai perasaan orang lain bahkan menjaga hubungan dengan kebohongan didalamnya. Ini semua kesalahanku, dan aku pantas menerimanya.
Aku duduk di pojok taman sendiri menyesali perbuatanku kali ini. Aku masih teringat akan bayangan Raihan yang selalu menghantui. Setiap kali ku melangkah bayangan itu masih ada. Semakin aku berusaha melupakannya semakin aku selalu merindukannya. Kini bukan hanya Raihan yang ku rindukan tapi entah kenapa aku selalu merindukan sosok Kinar. Sosok yang selalu menemaniku entah saat aku sedih, terluka ataupun bahagia. Sosok yang selama ini sudah ku anggap sebagai kakak. Tiba-tiba ada suara yang menghentikan lamunanku.
“Tak ada yang perlu disesali semuanya sudah terjadi. Mungkin ini yang terbaik untuk kita”
Suara itu..
Aku ingat sekali dengan suara itu. Tetapi suara siapa?? Apakah Kinar?? Ahh, tak mungkin dia pasti sedang sibuk dengan pacarnya si Raihan. Lalu kalau bukan Kinar siapa?? Aku menoleh ke belakang.
“Kinar?? Apakah benar ini kau??’
“ Iya ini aku. Maaf jika aku telah merebut Raihan darimu tapi jujur aku tak bermaksud seperti itu..”
“Sudahlah lupakan semuanya!! Aku justru senang melihat Raihan bersamamu mungkin itu memang yang terbaik untuknya. Lalu kenapa kamu enggak pernah menemuiku setelah kamu jadian dengan Raihan?? Apa kamu lupa sama temanmu ini??”
“Maaf bukannya aku lupa sama kamu, sebenarnya aku juga ingin bertemu denganmu tetapi aku tak yakin kalau kamu akan memaafkanku. Selama ini aku hidup diselimuti rasa bersalah dan setiap aku merindukanmu aku selalu ke taman ini.”
“Ini bukan sepenuhnya salahmu Kinar,mungkin ini memang suratan takdir Yang Maha Kuasa. Selama ini hidupku juga semu tak ada yang mau mewarnai hari-hariku. Setiap aku merindukanmu, aku juga selalu ke taman ini”
“Jadi jejak kaki yang selama ini ku temui itu jejakmu??”
“Iya, mungkin ini rencana Allah untuk mempertemukan kita.”
“Rencana Allah memang indah pada waktunya”
Sejak saat itu kita selalu bersama. Aku juga telah melupakan masa laluku bersama Raihan. Bahkan aku sudah bisa membuka lembar baru bersama sahabat-sahabatku, Raihan dan Kinar. Melihat mereka bahagia membuatku juga bahagia. Aku sadar Kinar memang lebih baik dariku dan aku rela jika orang yang dulu ku harapkan bersama orang lain apalagi orang itu Kinar sahabatku sendiri.
Mungkin cintamu telah hilang
Tapi ingatanku masih tajam
Masih bisa ku ingat senyuman yang bisa menenangkanku
Masihku ingat celotehan yang menjadi sumber kebahagiaanku
Dan masih ku ingat jelas ketika aku dengan sengaja membuatmu terluka
Ku mohon maafkan aku
Maaf karena telah merusak kepercayaanmu
Maaf karena telah menjaga hubungan dengan kebohongan
Ketika cinta berkata dusta
Saat itulah ada hati yang tersiksa
Dan saat itu juga aku menyadari
Sebesar apapun harapanku padanya semua akan hancur jika dusta sudah berkuasa
Dan inilah akhirnya
Melihatmu tertawa bersamanya, menjaganya dan melindunginya
Dan aku di sini…
Di ruang kecil dalam hatimu
Hanya bisa tertawa dan berusaha tegar
Melupakan kesalan yang kuperbuat
Dengan menjadi bagian dari kisahmu bersamanya

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Di Tengah Malam
%d blogger menyukai ini: