Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tiga Alasan Ibu-ibu Benci tapi Rindu Sinetron Indonesia

Ibu-ibu mana saat ini yang tidak kenal sinetron Ikatan Cinta atau Suara Hati Istri?
Kalau ada ibu-ibu tifak mengenal dua sinetron tersebut. Bisa dipastikan ibu tersebut kuper. Kurang pergaulan. Mainnya kurang jauh.
Secara sinetron Ikatan Cinta yang dibintangi oleh Amananda Manopo dan Arya Saloka itu. Sekarang sedang naik daun dan memuncaki rating sebagai sinetron terpopuler.
Tiap malam sehabis maghrib. Para ibu sudah siap-siap di depan tivi. Remote control pun sudah menjadi hak prerogratif kaum ibu. Jangan harap suami atau anaknya dapat mengintervensi. Mengganti chanel berita atau talk show lainnya.
Ikatan Cinta menambah panjang daftar sinetron yang mencapai kesuksesan. Kita tentu masih ingat dengan sinetron Tersanjung, Bajaj Bajuri, Tukang Bubur Naik Haji atau Raden Kian Santang. Judul-judul tersebut adalah sinetron yang populer di masanya.
Maraknya tayangan sinetron di Indonesia tidak terlepas dari kemunculan stasiun televisi swasta. Pada awalnya mereka menayangkan telenovela. Sebutan lain sinetron dari belahan Amerika Latin. Sebelumnya dunia mengenal adanya soap opera.

Benci tapi Rindu
Bagi para seniman film. Sinetron dikategorikan sebagai karya seni ‘ringan’. Anehnya justru yang ringan itu digemari oleh masyarakat. Ibarat pepatah, benci tapi rindu.
Mengapa?
Tidak ada jawaban pasti. Semuanya hanya analisis belaka. Tidak ada penelitian ilmiah yang dapat menjelaskannya.
Setidaknya ada 3 alasan mengapa sinetron dibenci pada satu sisi. Akan tetapi di sisi lainnya begitu dirindukan.
Pertama, pemeran utamanya. Bukan tokohnya. Ibu-ibu lebih melihat siapa pemerannya bukan tokoh yang diperankannya. Lihat contoh kasus digantikannya pemeran Azzahra dalam sinetron Suara Hati Istri beberapa waktu lalu.
Begitu pemeran utamanya diganti, karena sebelumnya menunai protes, ratingnya langsing anjlok. Bahkan pihak stasiun tivi lebih suka mengganti dengan cerita lain.
Tentu saja stasiun tivi tempat ditayangkannya Ikatan Cinta. Tidak akan mau seandainya pemeran Andin diganti artis lain. Bukan Amanda Manopo.
Kedua, jalan cerita berbelit-belit. Ternyata ramuan resep yang ‘mbulet’ itu disukai kaum ibu. Sekalipun sambil menggerutu bahwasanya ceritanya mengada-ada.
Seperti tokoh film perang saja. Tidak ada matinya sekalipun diberondong peluru. Akan tetapi sekali tembak puluhan musuh bisa mati bergelimpangan.
Demikian halnya tokoh dalam sinetron. Tokoh protagonis disiksa kayak apapun tetap tegar. Sebaliknya tokoh antagonis dijerat dengan perangkap apapun pasti bisa lolos.
Ketiga, cerita ringan. Untuk memahami isi cerita sinetron tidak perlu mengernyitkan dahi. Bahkan saking entengnya cerita. Endingnya akan seperti apa penonton sudah bisa menebak terlebih dahulu. Seolah-olah kaum ibu-ibu yang menonton sambil geregetan itu adalah sang sutradara. Bahkan seakan mereka mendikte sutradara akan jalan cerita yang seharusnya.
Apapun yang terjadi. Biarkan saja yang penting ibu-ibu hatinya terhibur sejenak. Lepas dari hari-hari yang membuat hatinya suntuk.

BACA JUGA :   Menanti Kedatangan Gubsu di Mesjid Al Hamdy

Mas Sam

MasSam (60)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: