Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Peri Ungu Peri Tanpa Sayap

Di kerajaan awan hiduplah 7 peri bersaudara yang lahir bertepatan dengan pelangi pertama di kerajaan tersebut. Karena bertepatan dengan pelangi pertama yang muncul di kerajaan awan, maka nama mereka sama dengan warna yang ada di pelangi. Peri pertama yang berarti kakak tertua adalah peri Merah, peri kedua adalah peri Jingga, peri ketiga adalah peri Kuning, peri keempat adalah peri Hijau, peri kelima adalah peri Biru, peri keenam adalah peri Nila, dan peri terakhir adalah peri Ungu. Mereka adalah anak-anak pertama dari raja dan ratu awan. Kelahiran mereka hanya berselang beberapa menit, karena mereka adalah kembar 7 yang tidak identik.

Semua menyambut kelahiran mereka dengan suka cita. Pesta rakyat besar-besaran diselenggarakan selama beberapa hari tanda syukur raja dan ratu awan atas nikmat yang telah mereka terima. Pesta rakyat tersebut sangat meriah dengan adanya pagelaran pentas seni, pasar kuliner terbuka, pesta dansa yang dapat dihadiri oleh kalangan atas hingga bawah, lomba membuat busana untuk ketujuh anak raja yang baru lahir, serta banyak lagi. Raja dan ratu awan sengaja mengadakan pesta rakyat agar kebahagiaan ini tidak hanya dirasakan oleh raja dan ratu tapi seluruh rakyatnya bahkan kolega-koleganya.

“Toloooooooooooooong.” Teriak si peri ungu. Tak sampai ada yang dapat menolong, peri ungu telah jatuh dengan punggung dan sayapnya menghantap batu besar. Seketika itu peri ungu kehilangan kesadarannya.

Hari demi hari pun dilewati dengan kesedihan oleh peri ungu. Peri ungu merasa tidak berdaya, dan kehilangan kepercayaan dirinya. Karna sayapnya yang patah dan semakin hari semakin parah sampai akhirnya sayap patah itupun terlepas dari tubuhnya dan hancur, maka perhatian raja dan ratu awan hanya terfokus pada peri ungu. Dengan perhatian ekstra dari raja dan ratu awan tak membuat peri ungu bahagia, atau sekedar membaik kondisinya. Perhatian ekstra raja dan ratu awan malah menimbulkan kecemburuan pada saudara-saudara peri ungu. Tak jarang mereka berharap bahwa sebaiknya peri ungu menghilang saja, bahkan yang lebih ekstrim peri merah, peri biru, dan peri nila beberapa kali bersekongkol untuk mencelakai peri ungu dengan sihir-sihir penderitaan yang telah mereka pelajari. Walaupun usaha mereka selalu gagal namun mereka tak pernah menyerah untuk
melampiaskan kecemburuannya terhadap peri ungu.

BACA JUGA :   Sepotong Elegi Tipis (Bab 1 Terlambat)

Hingga suatu hari peri ungu bertemu dengan merpati biru yang dapat berbicara. “Wahai gadis cantik, mengapa kau duduk merenung sendiri di tepi jurang ini ? Apa kau sedang bersedih ?” Sapa sang
merpati.

“Siapa itu ? Mengapa aku tak melihat seorangpun disini ? Keluarlah tunjukan perwujudanmu.”
“Haii, aku disini, aku seekor merpati biru, bukan manusia seperti yang kau fikir, tengoklah keatas pohon maka kau akan dapat melihatku.”

“Bohong, aku tak pernah tau merpati dapat bicara. Hanya peri lah yang dapat berbicara.”
Karna peri ungu belum juga mendapati perwujudan merpati biru yang dapat bicara itu, maka merpati putih memutuskan untuk menghampiri sang peri. “Lihatlah aku disini sekarang.”

“AAAAAAHHH….” Peri ungu yang terkejut langsung jatuh kedalam jurang. Merpati biru pun langsung menangkap peri ungu dengan cakarnya, dan membawa peri ungu kembali ke atas bukit. “Hai merpati, bagaimana bisa tubuh kecilmu itu mengangkat tubuhku ini ?” Peri ungu secara spontan bertanya pada merpati biru setelah sampai di atas bukit.

“Karna aku bukanlah merpati biasa, aku berasal dari kerajaan ajaiba, disana kau akan menemukan banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.” Kata merpati biru. Sambil mendengarkan penjelasan si merpati, peri ungu dengan teliti memperhatikan perwujudan si merpati biru. Tubuhnya mungil seperti layaknya merpati pada umumnya, bulunya pun seindah bulu merpati yang peri ungu tahu, bedanya si merpati itu berwarna biru terang dan dapat berbicara. “Jadi, maukah kau memberitahuku mengapa kau duduk merenung sendiri di tepi jurang tadi ? Apa kau sedang bersedih ?” Kata merpati biru membuyarkan lamunan sang peri ungu. “Kau sungguh cantik, dan memiliki aura yang begitu menarik perhatian, tapi auramu seolah tertutup oleh kabut hitam pekat. Ayolah cerita padaku, aku berjanji tak akan menyakitimu.” Lanjut merpati biru meyakinkan.

BACA JUGA :   Hujan di Tengah Jalan

“Baiklah aku akan menceritakan semua padamu, tapi berjanjilah jangan sampai kau ceritakan tentang masalah ini pada siapa pun, kecuali dengan izinku, karna aku tidak mau menyakiti siapa pun.”
Merpati biru mengangguk tanda setuju, bahkan mereka melakukan perjanjian kelingking. Peri ungu pun menceritakan semua keluh kesahnya, semua kejadian yang membuatnya bersedih dan duduk merenung di ujung jurang tadi. Dengan seksama merpati mendengarkan cerita dari peri ungu. Sesekali si merpati biru menghapus air mata sang peri ungu yang menetes disela-sela ceritanya. “Aku bisa membantumu ikutlah denganku.” Kata si merpati biru setelah peri ungu menyelesaikan ceritanya.

“Tapi jika aku ikut denganmu maka aku meninggalkan semua yang aku miliki sekarang ? Termasuk ayah dan ibuku, juga saudara-saudaraku ?”

“Yahh, tentu saja.” Jawab merpati singkat. “Tak apa kau tinggalkan mereka sekarang, toh hanya untuk sebentar saja.”

Disaat peri ungu masih berfikir tentang ajakan merpati biru, tiba-tiba perwujudan merpati biru semakin memudar, memudar, dan memudar sampai akhirnya tak dapat dilihat lagi perwujudannya oleh peri ungu. Seketika itu peri ungu langsung terbangun dari tidurnya.
“Ahh, ternyata ini semua hanya mimpi.”

“Wahai rakyatku, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku, dan seluruh penghuni kerajaan awan nikmatilah pesta rakyat yang kuselenggarakan ini, agar kalian juga dapat merasakan kebahagiaanku dan istriku.” kata raja awan saat membuka pesta rakyat tersebut. Serentak seluruh peri yang menghadiri acara pun langsung berteriak rusuh, tanda mereka juga merasakan kebahagiaan sang raja dan ratu mereka. Kebahagiaan seantero kerajaan awan tak hanya sampai disitu saja, tapi tetap terjadi di hari-hari berikutnya, hari-hari saat membesarkan peri-peri kecil kerajaan awan.

Hari demi hari berlalu, tak terasa kini peri kecil sang raja dan ratu mulai beranjak remaja. Karna sudah mulai beranjak remaja, maka semua peri wajib mendapatkan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi kerajaan beserta masyarakatnya dan bagi individu mereka masing-masing. Mereka diajari menjadi peri yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dengan talenta yang dimiliki masing-masing peri. Peri-peri tersebut diajarkan terbang, menggunakan sayap mereka yang semakin hari semakin kuat digunakan untuk terbang. Peri-peri tersebut juga mempelajari ilmu sihir, mulai dari sihir kebahagiaan sampai sihir penderitaan yang digunakan untuk menghukum yang bersalah. Tiba-tiba pada suatu hari kebahagiaan kerajaan awan mulai terusik. Hal ini terjadi karena peri ungu mengalami kecelakaan saat berlatih terbang di taman kerajaan. Karna terlalu asik terbang dan bermain-main diatas, peri ungu lupa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.

BACA JUGA :   Fiksi: Aku Dilecehkan Guru

“Peri ungu sayang, bangunlah nak, ini ibu, bangunlah nak.” Dengan berlinang air mata ratu awan mencoba menyadarkan si bungsu peri ungu. “Dokter, tolong sadarkan putriku, obati dia dokter, agar dia dapat segera sadar dan membuka matanya, sehingga aku tak khawatir lagi dokter, cepatlah dokter.” Ratu awan mendesak dokter untuk lekas menyembuhkan anaknya. Dengan telaten peri dokter memeriksa keadaan peri ungu. Sampai tahap pemeriksaan sayap, peri dokter mendapati bahwa sayap sang peri telah patah dan tidak dapat diselamatkan lagi. Raja dan ratu yang mendengar pernyataan peri dokter seketika terkejut. Karena bukan rahasia lagi bahwa tidak ada obat yang dapat menumbuhkan sayap sang peri yang patah saat usianya sudah lebih dari 2 tahun.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: