Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mengenal Jalan Cadas Pangeran, Saksi Bisu Perlawanan Sumedang Terhadap ‘Mas Galak’

Sebuah jalan biasanya digunakan untuk memudahkan pergerakan lalu lintas para penggunanya. Tak terkecuali Jalan Cadas Pangeran di Jawa Barat yang menghubungkan Kabupaten Sumedang dengan Kabupaten Bandung.

Jalan yang membentang sepanjang 11 km ini dibangun di masa penjajahan kolonial Belanda. Jalan ini termasukdalam ambisi Gubernur-Jenderal Hindia Belanda di masa itu, Herman Willem Daendels, untuk menyelesaikan jalan raya pos (de grote postweg) sepanjang 1.000 kilometer, mulai dari Anyer hingga Panarukan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Di balik manfaatnya yang membantu pergerakan moda transportasi masyarakat, ternyata jalan yang dihiasi pemandangan bukit serta persawahan tersebut menjadi bukti kekejaman bangsa Belanda. Tak sedikit rakyat Indonesia mendapat perlakuan tak manusiawi dari mereka saat pembangunan jalan ini.

Salah Satu Jalur Tersulit yang Dibangun

Dilansir dari dbmtr.jabarprov.go.id, jalur Cadas Pangeran merupakan salah satu dari sekian jalan pos yang cukup sulit dibangun di era Gubernur-Jenderal Daendels.

Untuk membangun jalan ini, para pekerja harus membelah bukit dengan peralatan serta tenaga yang seadanya.

Salah satu yang membuat kontur bukit sulit untuk dibongkar adalah kondisi tanahnya yang didominasi oleh bebatuan cadas yang sangat keras. Hal ini pun membuat pembangunan jalan ini molor, dari target awal selesai pada 1808 namun baru bisa digunakan tiga tahun kemudian.

Ketika itu banyak pekerja yang membangun jalan ini dengan tangan kosong, hingga tersiksa secara tenaga karena minimnya bantuan alat maupun logistik.

Membunuh 5.000 Nyawa

Pembangunan jalan dengan kontur berkelok tajam dan naik turun khas pegunungan tersebut juga dilaporkan telah membunuh 5.000 nyawa selama proses pembangunannya.

Selain karena minimnya sarana penunjang, para pekerja rodi tersebut banyak yang berakhir menjadi mangsa dari hewan buas penunggu bukit di kawasan tersebut. Tak sedikit pula para pekerja yang meninggal karena terkena wabah penyakit.

BACA JUGA :   Diluar Dugaan, Pembalap Motor Papua Sumbang 5 Emas di Ajang PON Papua

Bahkan selama proses pembangunan, Gubernur Jenderal Daendels selalu berlaku semena-mena dengan memaksakan tenaga manusia demi mengejar target pembangunan.

Simbol Perlawanan Terhadap Mas Galak

Perlakuan tak manusiawi dari Gubernur Jenderal Daendels pun tercium oleh Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Kusumadinata IX, atau yang akrab disapa Pangeran Kornel. Ia pun meluapkan kemarahannya dengan mengunjungi proyek Jalan Cadas Pangeran sembari memegang kepala keris yang masih tertancap di tempatnya.

Saat tiba di lokasi, Pangeran Kornel pun bersalaman dengan Gubernur-Jenderal Daendels menggunakan tangan kirinya.

Menurut Budayawan Sumedang, Raden Moch Achmad Wiriaatmadja, dikisahkan jika simbolisasi berjabat tangan menggunakan tangan kiri oleh Bupati Sumedang periode 1791 hingga 1828 itu mewakili amarah rakyat Sumedang atas kesewang wenangan dari gubernur “Mas Galak”.

Mas Galak sendiri merupakan sebutan Daendels di kalangan rakyat Jawa karena mereka kesulitan mengucap gelar “Marschalk” milik Daendels, sehingga menjadi Mas Galak. Selain itu sebutan tadi juga sesuai dengan rekam jejaknya yang tidak manusiawi.

Ketika itu sang bupati juga sempat mengajak duel satu lawan satu agar tak lagi memanfaatkan rakyat Sumedang untuk melakukan kerja paksa.

“Lebih baik berjuang dan berkorban sendiri daripada harus mengorbankan seluruh rakyat Sumedang,” ancam sang bupati.

Untuk menghargai keberanian Bupati Sumedang, nama jalan tersebut diresmikan menjadi Cadas Pangeran.

Dibangun Ulang

Setelah berfungsi, berpuluh-puluh tahun kemudian jalur tersebut dibangun kembali di bagian bawah tebing jalur utama dengan tujuan dapat menampung kendaraan dengan volume lebih besar. Selain itu Jalan Cadas Pangeran lawas di atas bukit juga tak lagi digunakan.

Pada 1990, pemerintah yang sedang gencar-gencarnya pembangunan perekonomian berupaya mengaktifkan kembali jalur asli di atas tebing melalui proses pelebaran jalan. Namun karena terjadi kesalahan prosedur pengaktifan kembali jalur lawas pun menyebabkan longsor.

BACA JUGA :   Asal usul desa amis

Saat itu, dibutuhkan hampir setengah tahun untuk memperbaiki sisa longsoran. Pada 1995 jalur bawah diperbaiki ulang untuk menambah massa beban dan kualitas jalan lewat sistem Road Contilever Construction sehingga badan jalan menjadi lebih lebar dan menempel kokoh pada tebing, lewat sanggaan pelat beton bertulang.

Terdapat Patung Bupati Sumedang Sedang Bersalaman

Untuk mengenang pemberontakan Pangeran Kusumadinata IX atau Pangeran Kornel tersebut, maka dibangunlah sebuah patung atau prasasti yang menampilkan Pangeran Kornel sedang berjabat tangan menggunakan tangan kirinya bersama Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Namun terdapat beberapa versi yang menyebutkan jika patung orang Belanda yang sedang bersalaman bukanlah Daendels, melainkan Rafless mengingat saat jalan tersebut jadi, posisinya sebagai Gubernur Jenderal telah berakhir.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: