Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan

Jaka Tarub adalah legenda Nusantara yang sangat populer di Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Konon kisahnya terjadi di sebuah desa Widodaren Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.

Di desa Widodaren terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makam Jaka Tarub. Sedangkan nama Widodaren berasal dari istilah Jawa yaitu Widodari yang artinya Bidadari. Bagaimana kisah Jaka Tarub yang sangat melegenda?

Dikutip PORTAL JEMBER dari salah satu unggahan video di Kanal YouTube Dongeng Kita pada 2 Maret 2021. Inilah cerita rakyat Jawa Timur, Legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan.

Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang hidup sebatang kara karena tidak memiliki anak dan suaminya sudah lama meninggal. Janda tersebut dikenal dengan nama Mbok Rondo Tarub. Karena hidup sebatang kara, suatu hari Mbok Rondo Tarub mengangkat anak yang masih bayi. Bayi laki-laki itu diberi nama Jaka Tarub.

Mbok Rondo Tarub membesarkan anak angkatnya dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Jaka Tarub tumbuh menjadi anak yang berbakti, setiap hari Jaka Tarub selalu membantu pekerjaan ibu angkatnya itu di ladang maupun di sawah. Selain itu Jaka Tarub juga gemar berburu di hutan.

Suatu hari Mbok Rondo memanggil Jaka Tarub dan mengajaknya berbicara. “Joko sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu menikah. Mbok sudah tua, jika Mbok sudah meninggal siapa yang akan mengurus mu?” ucap Mbok Randa Tarub. “Lagipula Mbok sudah ingin menimang cucu,” ucap lagi Mbok Randa.

“Tapi aku belum siap untuk menikah sekarang Mbok, jika saatnya tiba pasti aku akan menikah,” jawab Jaka Tarub kepada Mbok Randa. Mbok pun hanya mengangguk dan mendoakan Jaka Tarub agar mendapatkan yang terbaik nantinya.

Beberapa bulan kemudian Mbok Randa Tarub meninggal dunia. Jaka Tarub sangat sedih, karena belum bisa memenuhi keinginan Mbok Randa. Semenjak ditinggal, Jaka Tarub menjadi kehilangan semangat hidupnya. Setiap hari kegiatannya hanya melamun dan bermalas-malasan dirumah. Bahkan ladang peninggalan Mbok Rondo Tarub hanya ditumbuhi rumput dan semak belukar, karena tidak pernah dirawat lagi.

BACA JUGA :   Belajar Bahasa Inggris: Simoang Lima Gumul Monument

Suatu malam ketika sedang tidur, Jaka Tarub bermimpi memakan daging rusa yang lezat. Suara ayam jantan yang berkokok, membuyarkan mimpi Jaka Tarub. Setelah terbangun dari mimpinya, dia pun merasa lapar dan ingin memakan daging rusa. Segeralah ia menyiapkan perlengkapan untuk berburu rusa.

Jaka Tarub pun pergi menuju hutan yang lebat dan mulai mencari rusa. Namun dia tak kunjung menemukan rusa disekitar hutan. Jaka Tarub pun masuk ke hutan semakin jauh dari rumahnya. Hari pun menjelang siang, tidak ada seekor rusa yang berhasil ditemukan.

Jaka Tarub lalu beristirahat di sebuah pohon, karena lelah dan lapar, dia pun tertidur. Ketika sedang tertidur lelap tanpa disadarinya, tujuh bidadari turun dari kayangan ke sebuah telaga yang tidak jauh dari tempat Jaka Tarub tertidur.

Ternyata bidadari tersebut turun dari kayangan, untuk mandi di telaga tersebut. Tiba-tiba ada angin kencang yang datang, membuat selendang milik bidadari terbang. Bidadari yang sedang mandi itu, tidak menyadarinya.

Angin itu menerbangkan sebuah selendang bidadari dan jatuh didekat Jaka Tarub yang sedang tidur. Sore hari ketika matahari hampir tenggelam para bidadari pun kembali ke kayangan dengan menggunakan selendangnya.

Ketika hendak kembali terbang ke kayangan, seorang bidadari kebingungan mencari selendangnya. Sementara itu Jaka Tarub terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat selendang yang ada didekatnya.

Jaka Tarub pun langsung mengambil selendang itu dan ketika dia sedang kagum dengan keindahan selendang tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara perempuan menangis. Jaka Tarub pun memasukan selendang ke balik bajunya dan mencari asal suara tersebut.

Jaka Tarub menemukan asal muasal suara tangisan itu, dia melihat seorang perempuan cantik sedang menangis di pinggir telaga. “Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini? Apakah kamu ini jin atau lelembut penghuni hutan ini?” tanya Jaka Tarub kepada perempuan itu. “Namaku Nawang Wulan, aku adalah bidadari yang turun dari kayangan dan selendang ku tiba-tiba menghilang, sehingga aku tidak bisa kembali pulang ke kayangan, apakah kamu melihat selendang ku?” ucap perempuan itu.

BACA JUGA :   Asal usul NYI Roro kidul penguasa laut Selatan

Jaka Tarub ternyata bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik jelita. Jaka Tarub merasa jodohnya telah tiba.”Nawang Wulan, namaku Jaka Tarub. Aku tinggal di desa tidak jauh dari sini, sebentar lagi hari gelap lebih baik kamu ikut bersamaku karena banyak binatang buas berkeliaran saat malam hari di hutan ini,” kata Jaka Tarub.

Nawan Wulan pun mengikuti Jaka Tarub ke desanya, tidak lama kemudian Jaka Tarub dan Nawang Wulan pun menikah. Beberapa waktu kemudian, mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan. Anak perempuan tersebut diberi nama Nawang Sih, selama hidup bersama Jaka Tarub pun merasa heran karena lumbung padinya selalu penuh.

Padahal setiap hari Nawang Wulan memasak nasi dari beras lumbung padi tersebut. Suatu hari ketika Nawang Wulan memasak nasi, dia pergi ke sungai dan menitipkan pesan kepada Jaka Tarub untuk menjaga apinya agar tidak terlalu besar atau pun terlalu kecil. Nawang Wulan juga berpesan untuk tidak membuka tutup nasinya saat memasak.

Karena penasaran, secara perlahan Jaka Tarub pun membuka tutup nasi itu dan terkejut melihat isinya. “Jadi selama ini istriku hanya memasak sebutir beras? Pantas saja beras di lumbung ku tidak berkurang, tapi bagaimana mungkin sebutir beras bisa menghasilkan nasi yang sangat banyak,” ucap Jaka Tarub dengan penuh kebingungan.

Sementara itu Nawang Wulan sudah kembali dari sungai dan segera menuju dapur, tetap Jaka Tarub sudah tidak ada disana. Nawang Wulan membuka tutup tersebut. “Kang mas Jaka Tarub sudah melanggar perintahku, mulai sekarang aku tidak bisa lagi memasak nasi dengan sebutir beras,” ucap Nawang Wulan.

Setalah kejadian itu, Nawang Wulan memasak nasi seperti perempuan pada umumnya karena dia tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya untuk memasak dengan sebutir beras. Akibatnya persediaan beras di lumbung padi Jaka Tarub semakin menipis.

BACA JUGA :   Makin Cuek

Suatu hari, ketika sisa beras semakin menipis Nawang Wulan mengambil sisa-sisa beras di lumbung padi. Tiba-tiba Nawang Wulan menemukan selendangnya.

Nawang Wulan yang akhirnya mengetahui bahwa selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub menjadi sangat marah. Dia pun segera menemui Jaka Tarub. “Kang mas Jaka Tarub, jadi selama ini kamu yang menyembunyikan selendang ku? Cukup sampai disini hubungan kita! Aku tidak bisa hidup bersama laki-laki yang telah menipuku,” ucap Nawang Wulan dengan keadaan marah. “Adinda Nawang Wulan, maafkan aku. Aku mengaku bersalah, tapi tolong jangan tinggalkan aku! Kasihanilah Nawang Sih dia masih bayi,” ucap Jaka Tarub sambil memohon kepada Nawang Wulan.

“Tidak ada lagi maaf untukmu, buatkan danau dibelakang rumah dan letakkan Nawang Sih di situ setiap malam aku akan datang untuk menyusuinya dan jangan sekali-kali mengintip,” ucap Nawang Wulan.

Nawang Wulan dengan selendangnya segera terbang kembali ke kayangan, seperti janjinya setiap malam Nawang Wulan turun untuk menemui anaknya.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: