Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Potensi SDA Dan Kearifan Lokal di Distrik Duma-Dama, Kab. Paniai

“Distrik Duma-Dama, Kabupaten Paniai, Potensi Dan Peluang Pembangunan Pengelolahan SDA Berbasis Karifan Masyarakat Adat”.

PEMBANGUNAN merupakan usaha peningkatan kualitas masyarakat dilakukan secara berkelanjutan berlandaskan kemampuan yang ada, dengan memanfaatkan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta memperhatikan tantangan perkembangan manusia secara nasional.

Pada masyarakat Duma-dama bagian selatan Timika pegunungan grassberg mempunyai berbagai keinginan mendasar yaitu pergumulan mengenai pembangunan di daerah tersebut.

Dalam pembangunan masyarakat adat Duma-dama perlu ada pemikiran yang besar dari setiap anak bangsa, duduk bersama dan berfikir untuk bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang ada.

Tentunya peran pemerintah daerah, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Tokoh Cendikiawan harus dapat memberikan sumbangan positif untuk pengelolaan sumber daya alam yang berlimpah.

Dengan melihat komunitas masyarakat tradisional hidupnya sangat tergantung kepada sumber daya alam hayati dan non hayati serta kondisi lingkungan di sekitarnya.

Sebelum masyarakat menerapkan teknologi adaptasi yang mereka miliki terhadap sumber daya alam hayati dan non hayati serta kondisi lingkungannya, mereka mencoba mengenali karakter sumber daya alam dan lingkungan.

Pengenalan, pemahaman, dan penguasaan merupakan tahapan penting bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan.

Daerah bagian selatan timika pegunungan grassberg di huni oleh masyarakat adat suku Mee dan Moni.

Mereka mempunyai pemikiran ke depan untuk anak cucu, dimana pemikirannya mengajak segenap masyarakat adat perlu berperan aktif dalam menjaga lingkungan alam dengan mengelola sumber daya alam yang ada secara bijak.

Bila kita melihat sumber daya alam seperti Kayu, Sungai, Batu, Pasir, Pertambangan, Kearifan lokal, Panorama alam, flora dan fauna sangatlah berlimpah dan patut mengucap syukur akan semuanya.

Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 memberikan Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua dan Papua Barat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Otsus bagi tanah papua juga adalah kewenangan khusus yang diakui untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.

Dan menekankan perlindungan hak-hak masyarakat adat orang papua yaitu kewajiban untuk mengakui, menghormati, melindungi, memberdayakan dan mengembangkan hak–hak masyarakat adat. Sehingga peran Pemerintah daerah harus memainkan fungsi dan peran dalam pembangunan menstabilisator ekonomi, sosial budaya, politik sebagai inovator dan pelopor.

Kendala terbesar yang masyarakat rasakan yaitu tidak adanya akses transportasi darat dan udara serta sarana internet.

Distrik Duma-dama merupakan salah satu daerah terisolir. Masyarakat bila hendak membeli kebutuhan bahan makanan (Sembako) atau mengantar kerabat mereka yang sakit ke kota Enarotali harus menempuh perjalanan selama 2 hari dengan berjalan kaki, bahkan bisa lebih berjalan kaki bila dengan anak-anak dan perempuan.

Proses pengerjaan pembangunan jalan trans papua antar kabupaten yang sudah menghubungkan kabupaten Mimika, Deiyai dan Paniai tentu membantu masyarakat.

Bila pembangunan telah selesai di kerjakan dampak pembangunan itu sangat di sambut baik oleh warga karena akan terjadinya mobilisasi barang dan manusia. Tentunya masyarakat lokal bisa memasarkan hasil bumi ke Kota Enarotali maupun ke kota Timika.

BACA JUGA :   POLIGAMI

Pengembangan masyarakat disekitar wilayah adat maupun pengembangan wilayah bukanlah hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi perlu semua pihak baik Pemerintah daerah, Lembaga Non Pemerintah (NGO), Masyarakat Adat dan Perusahaan (CSR).

Oleh karena itu, masyatakat secara tegas menuntun Pemerintah daerah, NGO dan PT.Freeport Indonesia memperhatikan masyatakat.

Keadaan wilayah secara geografis daerah Duma-dama terletak dari lembah selatan timika pegunungan grassberg hingga ke daerah pegunungan arah barat kabupaten Paniai.

Wilayah Duma-dama di impit oleh daerah adminitrasi Kabupaten Mimika, Deiyai dan Paniai.

Masyarakat Duma-dama berada di berbagai tempat mulai menyebar memenuhi lembah seperti di daerah Sungai Iwaka, Wetee, Yewa, Dogomo, Daka Bado, kayu Putih, Bouwoo Bado hingga ke dataran tinggi barat daerah Duma-duma.

Dengan adanya pemekaran kabupaten baru yaitu kabupaten Deiyai, maka Daerah Bouwoo Bado telah menjadi daerah Otonom baru, bergabung ke kabupaten Deiyai terlepas dari Distrik induk Duma-dama Kabupaten Paniai.

Sungai Iwaka hingga sampai kesungai Dogomo termasuk di Distrik Kuala Kencana kabupaten Mimika.

Daerah Daka Bado secara batas wilayah lebih dekat dengan Distrik Bouwoo Bado, dengan jarak tempuh 3 kilo meter (km).
Selain itu ada pertalian struktur sosial dan karakteristik masyarakat yang kuat sehingga masyarakat menuntut pemekaran kampung baru agar menjadi daerah adminitratif kampung baru Daka Bado dan bergabung dengan Distrik Bouwoo Bado.

Pada perkampungan pemukiman masyarakat terpencar-pencar berada di pinggiran sungai besar, lembah, puncak gunung, lereng-lereng pegunungan grassberg dan juga sangat berjahuan satu dengan yang lainnya.

Daerah Duma-dama secara adminitratif merupakan sebuah distrik terluas dan terpencil merupakan bagian dari kabupaten Paniai.

Berdasarkan batas alam daerah Duma-dama berbatasan dengan;

Di sebelah timur berbatasan dengan kali Yawei/Utaa dan Gunung Jelewatagal/Kali Kamoro Amun.

Di sebelah barat berbatsan dengan kali Yawei/Uta dan Gunung Kaitaka.

Di sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Sagu Kamoro.

Di sebelah utara berbatasan dengan kali Weya Paniyai Timur.

Menurut cerita orang tua dulu, berbagai suku di dataran pegunungan tengah papua merupakan satu keluarga besar sebagai adek dan kakak yang sama-sama keluar dari sebuah goa di sebelah timur pegunungan papua.

Suku Mee merupakan suku pertama atau anak pertama yang keluar dari goa Baliem (balimo), menyusul dengan berbagai suku pegunungan tengah papua lainya.

Setelah itu, mereka (Mee) melakukan perjalanan ke arah barat melalui danau Habema hingga rombongan tiba tinggal di Ilaga.

Mereka membangun honai besar disana, dari situ mereka berjalan lagi dengan membagi dua arah jalan.

Arah jalan pertama dilewati sebagian suku Mee melalui lembah Ilaga, Dogidide, Degewodide, dan Makataka lalu tembus di lembah Agadide dan terus hingga menetap di pinggiran Danau Paniai dan sekitarnya.

BACA JUGA :   PENAMPILAN

Arah jalan kedua sebagian suku Mee melalui pegunungan dari Beoga langsung tiba di daerah Duma-dama. Mereka terdiri dari marga Magai, Yupi, Yatipai, Dogopia, Gobai, Kudiai, Tobai, Wodapa.

Masyarakat Duma – dama terdiri dari dua suku besar yakni suku Mee dan Moni. Dan terdiri dari delapan belas (18) marga besar. Marga suku Moni terdiri dari ; Wamuni, Dibitau, Dimbau, Bugaleng, Kobokau, Zonggonau, Anau, Natagapa, Wandagau, Miagoni. Sedangkan marga suku Mee terdiri dari : Magai, Yupi, Tobai, Yatipai, Dogopia, Gobai, Kudiai, Madai.

Berdasarkan batas antar suku tetangga, daerah Duma-dama di impit oleh suku-suku kekerabatan lainnya ;

Sebelah timur berbatasan dari bagian tengah di diami oleh Suku Amungme.

Sebelah barat dari pegunungan bagian tengah didiami oleh Kab. Nabire.

Sebelah utara pegunungan tengah Suku Wolani. Sebelah selatan Suku Kamoro.

Sistem Kepemimpinan Tradisional di wilayah ini masih menganut sistem kepemimpinan “Kepala Suku”.

Kepemimpinan Kepala suku di wilayah ini terbagi atas dua yaitu Kepala Suku mewakili marga/klen dan Kepala Suku mewakili daerah Duma-dama atau mewakili 18 marga besar.

Hak Ulayat atau kepemilikan tanah di Duma-dama terjadi secara komunal atau berdasarkan kekuasaan wilayah.

Suku Mee dan Moni yang memiliki hak ulayat atas tanah daerah Duma-dama terdiri dari delapan belas (18) marga besar diantaranya.

Suku Mee terdiri dari marga ; Magai, Yupi, Dogopia, Tobai, Yatipai, Gobai, Kudiai, Madai, dll.

Suku Moni ; Wamuni, bugaleng, Anau, Zonggonau, Dibitau, Miagoni, Wandagau, Nakagapa. dll.

Kearifan Masyarakat Duma-dama lainnya adalah Owadaa (Pagar Rumah) atau pagar rumah merupakan sesuatu hal yang harus di bangun oleh kepala keluarga pada setiap suku Mee dimana berada.

Fungsi Owadaa sendiri untuk memagar rumah, tumbuh-tumbuhan,atau kandang hewan peliharaan dari berbagai gangguan baik dari hama (hewan) maupun dari manusia sendiri.

Biasaanya Owadaa atau pagar kayu yang digunakan memakai kayu besi yang keras di cincang menyerupai papan dengan ujungnya meruncing. Setelah itu, agar terlihat kokoh, kayu tersebut di lilit atau dianyam menggunakan tali rotan secara rapih dan berurutan hingga keras.

Gotong royong merupakan suatu kearifan lokal masyarakat Duma-dama turun-temurun dari nenek moyang. Kearifan lokal terbukti dengan berbagai aktivitas pada saat berburu di hutan.

Biasanya masyarakat terdiri dari dua, tiga hingga empat orang tua dan pemuda akan mengambil bagian dalam melakukan kegiatan berburu di hutan.

Semua hasil berburu akan di kumpul di pondok sementara yang telah mereka buat. Setelah itu, hasil berburu mereka akan saling membagi sama rata kepada anggota keluarga yang telah ambil bagian dalam berburu tersebut.

Begitu juga pada saat musim buah Panda. Masyarakat Duma-dama akan jalan berkelompok mengambil di dusun orang tua yang telah ada. Setelah itu, mereka berkumpul bersama dan saling membagi sama banyak hingga semua noken yang di bawah penuh barulah mereka bergegas pulang ke perkampungan.

BACA JUGA :   Membuka Cerita Lama ( Chapter 4 )

Dewasa ini, masyarakat Duma-dama terkendalah dengan sarana transportasi. Bila ada bantuan Beras, bahan makanan atau bahan bangunan lainnya dari Pemerintah atau dari Gereja, maka masyarakat akan gotong royong berpartisipasi ambil bagian dalam mengangkat barang dengan berjalan kaki menempuh jarak yang jauh.

Masyarakat Duma-dama menerima program pembangunan dari pemerintah. Akses menuju daerah ini harus memakai pesawat jenis kecil. Namun selama ini masyarakat lebih memilih berjalan kaki beratus kilo meter jauhnya melewati gunung, lembah dan menyeberang sungai besar.

Kekerabatan antar Suku Mee dan Moni terjalin turun – temurun dengan saling menghargai satu sama lainnya. Mereka hidup dengan memegang kebudayaan dan bahasa daerah yang berbeda. Tetapi itu bukan merupakan potensi terjadi tindakan kekerasan seperti yang terjadi pada masyarakat pegunungan di lainnya.

Kekerabatan yang tinggi terjalin akrab dan dapat kita lihat dengan kedua suku sama-sama menguasahi bahasa daerah. Suku Mee menguasahi bahasa suku Moni dan sebaliknya suku Moni menguasahi bahasa suku Mee.

Ada ungkapan sapaan pembuka yang sering di lontarkan masyarakat, seperti Meepa, Alegamee, Amazambae, Amanoae, koyao, amanai, dan sebutan lainnya. Sapa ini merupakan cara mencairkan situasi, apalagi di tambah dengan senyum, canda hingga saling membagi rokok. Tentu cara dan tindakan ini membuat kekerabatan terjalin akrab.

Suku Mee, Moni dan Kamoro telah terjalin keakraban cukup lama, karena adanya saling tukar-menukar barang (Barter).

Beberapa suku di pegunungan mempunyai habil alam yang bagus di tukar dengan barang milik suku Kamoro yang berada di pesisir.

Seperti daging hasil buruan, Kampak Batu, Rokok daun tikar dan lainnya, milik suku Mee dan suku Moni, saling menukar dengan barang milik suku Kamoro. Seperti berbagai jenis Kerang laut, Ikan laut, ikan Sungai, Sagu dan lain sebagainya.

Mereka saling menukar untuk melengkapi membutuhkan dasar antar suku, yang kini dikenal dengan sebutan sistem Barter.

Putapare adalah sebuah dusun sagu yang menjadi sebuah tempat khusus untuk saling Barter.

Di Putapare terjalin perputaran barang yang cukup tinggi sehingga suku Mee, Moni dan Kamoro memberikan sebutan atau panggilan khusus dengan menggantikan nama mereka yang sebenarnya untuk menandakan kebenaran orang saat berinteraksi.

Boleh dikatakan sebagai sebuah kode rahasia, supaya barang yang mereka bawah itu tepat di berikan kepada orang yang sama.

Sehingga ada sebutan nama orang tua dulu memakai nama khusus dalam melakukan transaksi sistem Barter. Antara lain ; Tamini Magai, Wali Yupini, Olepole Gobai, Dupole Yatipai, Gunitata Yatipai, Bulimala Magai, Uwiya Tobai, Bulilu Kudiai, Dolema Dogopia. Dolemago Bugaleng, Tegeme Zonggonau, Yalupaya, Impiyau, Taiyalo dan Yimigi.

Paskalis (47)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: