Oktober 26, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Darah Peziarah Tumpah di Makam Keramat

Lima orang terlihat khusyuk berziarah di makam Prabu Siliwangi di Gunung Tampomas, Desa Narimbang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Maret silam. Kedatangan Nyonya Enok beserta empat sepupunya Dawam, Wakya, Tarmin, dan Lisdiana dari Indramayu untuk meminta berkah dan keselamatan.

Rencananya selama tiga hari mereka melakukan berbagai ritual. Kasmat, juru kunci makam, menuturkan kompleks pemakaman memang menyediakan penginapan untuk para peziarah.”Bu Enok sering ke sini,” ujar Kasmat. Di malam ketiga, para peziarah beristirahat sebelum pulang ke rumah. Tanpa sepengetahuan mereka, seorang pria memasuki kompleks pemakaman. Sebelumnya lelaki itu telah mengamati gerak-gerik Enok dan rombongan. “Setelah maghrib ada orang datang, mukanya nggak diliatin. Dia bawa tasbih dan senter,” ujar Enok.

Tanpa merasa curiga, Enok dan Lisdiana melanjutkan ritual. Pria misterius itu minta dibukakan pintu penginapan karena di luar hujan deras. Merasa kasihan, Enok mempersilakan pria bernama Uu masuk ke dalam. Belum lama berada di penginapan, Uu meraba-raba kaki dan memegang tubuh Lisdiana. Rupanya U`u bermaksud mengauli paksa perempuan itu.

Sadar bahaya mengancam, Lisdiana segera lari terbirit-birit hingga sejauh 50 meter. “Karena takut saya sembunyi sampai pagi,” kata perempuan berambut panjang ini. U`u yang membawa dua potong kayu kemudian memukuli para peziarah. Merasa tak puas, dia mengayunkan sebilah golok secara membabi buta.

Empat jam berselang, aparat Kepolisian Resor Sumedang bersama warga setempat tiba di lokasi kejadian. Dawam, seorang peziarah tewas, sedangkan tiga lainnya terluka parah. “Seorang yang melarikan diri menderita luka ringan,” ujar Kapolres Sumedang Ajun Komisaris Besar Polisi Yoyok.

Upaya kepolisian membongkar kasus ini sempat terbentur karena tersangka Uu ternyata tuna rungu. Untungnya, polisi mendapat bantuan Oo Rohendi, tetangga tersangka. “Kami mengajak interpreter dari masyarakat setempat untuk mengetahui motivasi tersangka,” kata Kapolres Sumedang.

BACA JUGA :   Gunung Tampomas di Sumedang, Diyakini Tempat Mencari Ilmu Prabu Siliwangi, Benarkah?

Uu memang tak bisa mendengar dan berbicara, tapi perbuatannya menganiaya lima peziarah bisa disebut luar biasa. Sebagai pria, dia telah lama menginginkan seorang istri. Namun ketidakmampuan Uu berbicara menyebabkan gadis-gadis di desanya selalu menghindar. Setelah lama tak bisa menyalurkan nafsu birahi, Uu berniat memperkosa Lisdiana. "Mungkin karena didorong nafsu birahi, syahwatnya naik," kata Oo Rohendi.

Warga Desa Narimbang terkejut dengan perbuatan Uu yang sebelumnya dikenal berperilaku aneh. "Dia sering ngambil celana dalam. Kalau udah kotor dikembaliin," ujar Iyah, tetangga tersangka. Menurut Iyah, Uu juga sesekali mengintipnya di pemandian umum. Di lain waktu, U`u bertandang ke rumahnya sambil bertelanjang dada. Amat, kakak tersangka, mengakui ulah adiknya itu, tapi dia tak pernah menegur karena disibukkan dengan pekerjaan. “Dia memang suka ngambil celana dalam, tapi nggak disimpan,” tutur Amat.

Tarmi, istri Dawam, tak mampu menahan derai air mata mengingat kepergian suami selama-lamanya. Ibu tiga anak ini terbayang terakhir kali Dawan berpamitan sebelum ke Gunung Tampomas. Dahlan, anak kedua Dawam, mengaku tak mendapat firasat kepergian ayahnya. “Saya nggak, kalau ibu mimpi nebangin pohon kelapa, padahal nggak biasa mimpi kayak gitu,” kata Dahlan.

Korban lainnya Enok menderita luka bacokan dahi, dekat bibir, tangan, dan dada. Begitu darah mengucur, Enok merasakan antara sadar dan tidak sadar. “Si gagu ngamuk, saya nggak tahu dia dapat golok dari mana?” kata dia. Enok tak menyangka kegiatan yang dilakukan rutin setiap tahun itu berakhir dengan tragedi.(COK/Lita dan Irfan)

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: