Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sosok Daendels, Gubernur Jenderal yang Pangkas Birokrasi dan Berantas Praktek Korupsi

HERMAN Willem Daendels, merupakan salah satu Gubernur Jenderal di Batavia. Ia tiba pada 1 Januari 1808 di sebuah pelabuhan kecil dekat Banten, setelah melalui perjalanan panjang.

Sebagaimana dikisahkan dalam buku “Nusantara Sejarah Indonesia” karya Bernard H. M. Vlekke. Daendels tiba setelah pelayaran yang sulit dan berbahaya dari Belanda melalui Lisbon dan Maroko. Kedatangan gubernur jenderal ini pun membuat kejutan bagi para orang lama.

Daendels memutuskan memindahkan para pejabat-pejabat yang tidak sehat ke Buitenzorg. Kekuasaan besar yang diberikan Raja Louis Belanda membuat Daendels mendapat angin begitu besar. Berbagai macam perubahan ia implementasikan.

Ia mereorganisasi dewan dan hanya memberikannya hak penasihat. Selanjutnya, Daendels memangkas birokrasi yang terkenal korupsi, menghancurkan dan membangun administrasi. Tak hanya itu sejumlah infrastruktur dibangun oleh Daendels. Salah satu pembangunan yang dilakukan yakni jalan dan benteng.

Di bidang administrasi misalnya, Daendels mereformasi total administrasi. Bahkan di masa Daendels, semua wilayah Belanda sebelah timur Cirebon dibentuk satu provinsi, provinsi pantai timur laut Jawa.

Bahkan pada 18 Agustus 1808, konon Daendels membagi Pulau Jawa ke dalam lima prefektorat dan 38 kabupaten. Semua pejabat menerima pangkat militer dan gaji memadai. Hadiah suap-suap dari bupati + bupati dan raja Jawa, keuntungan istimewa, dan penyalahgunaan jabatan harus dihentikan.

Di sisi lain kedatangan Daendels, memunculkan stigma diktator padanya. Meski mencapai banyak hasil positif, tapi justru mendatangkan kebencian pada banyak orang yang memiliki kepentingan.

Dirinya pun juga mengangkat semua bupati Jawa menjadi pejabat pemerintah Belanda. Hal ini disebut Daendels untuk melindungi para bupati dari beban pemerasan dan perlakuan menghinakan dari pejabat Eropa.

Namun sayang Daendels juga memiliki kelemahan. Dia yang datang menjadi pejabat baru sebenarnya memerlukan dukungan dari pemimpin-pemimpin Jawa. Tapi dia dengan mudah ditipu oleh sikap menyerah yang diperagakan para pejabat Jawa yang ditemuinya. Ia meyakini bahwa metodenya dalam menangani penguasa setempat sudah tepat.

Djuan Revi (352)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

BACA JUGA :   Innalillahi Wainnaillaihi Rodjiun, Cikeas Berduka Lagi
Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: