Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Refleksi Diri: Cakra Manggilingan

Cakra Manggilingan artinya roda yang berputar. Begitulah gambaran kehidupan manusia. Kadang di atas, lain waktu di bawah.
Sore tadi saya kedatangan tamu. Keponakan datang ke rumah. Tumben, pikir saya. Tidak pernah dia datang ke rumah selama ini.
Usut punya usut. Pengin pinjam uang. Lho kok bisa. Bukankah mereka kaya raya, tanya daya dalam hati. Secara ekonomi ibarat seperti bumi dan langit dengan keadaan kami.
Cerita punya cerita. Selama pandemi harta bendanya habis untuk memenuhi kebutuhan. Rupanya perusahaan tempat suaminya kerja bangkrut. Dia terkena pemutusan hubungan kerja. Perusahaan tidak bisa menggani karyawannya.
Jadilah dia pengangguran. Untuk makan sehari-hari menjual barang-barang berharga yang selama ini mereka kumpulkan. Menjadi lambang status sosial mereka. Orang Kaya Baru.
Sayangnya selama ini mereka sombong. Membanggakan jabatan, kekayaan dan status sosialnya sebagai orang sukses. Bahkan mereka merasa harta yang dikumpulkannya tidak bakalan habis.
Ternyata kalau Tuhan berkehendak. Hanya dengan Kun Fayakun. Maka terjadilah. Hanya menurunkan virus yang kasat mata saja. Harta yang menumpuk itu ludes pelan-pelan. Tidak tersisa.
Satu setengah tahun yang lalu. Mereka begitu angkuhnya. Memandang kami pun ibaratnya tidak mau. Sekarang mereka datang dengan raut muka yang memelas. Menyesal? Saya belum menemukan rasa penyesalan itu di raut wajah mereka. Bahkan saya masih menemukan sikap jumawanya. Masih merasa sebagai orang kaya.
Dengan enteng mereka menyebut sejumlah uang. Dengan janji akan secepatnya dikembalikan. Kalau keadaan sudah pulih kembali. Kapan?
Kami hanya bisa minta maaf sembari menyuguhkan makanan ala kadarnya. Memberinya sedikit rupiah dengan ucapan buat jajan anak-anaknya. Tidak usah dibayar kembali.
Sepulangnya mereka kami merenung. Betapa kehidupan itu senantiasa berputar. Persis seperti roda pedati. Pelan-pelan seirama dengan tarikan sang sapi.
Ketika tenaga sapi masih kuat. Pergantian atas-bawah bisa cepat. Akan tetapi jika sapinya kelelahan. Maka berputarnya roda pun lambat. Lama ketika di bawah dan terasa cepat ketika di atas.
Sebaik-baiknya manusia sebagai makhluk adalah mensyukuri apa yang Tuhan telah dianugerahkan.
Bukankah Allah telah berfirman, apabila kita bersyukur. Maka akan ditambahkan nikmatNya. Sebaliknya apabila kufur nikmat maka azabnya sangat pedih.
Apakah jatuh miskin dari sebelumnya kaya raya sebagai azab?
Tentu saja saya tidak bisa menjawabnya.

BACA JUGA :   Asal Muasal Situ Patenggang, Kisah Raden Kian Santang & Dewi Rengganis

Mas Sam

MasSam (60)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: