Oktober 16, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perempuan-Perempuan Metropolitan: Perempuan Kalem

“Dasar perempuan kampung” umpat Sarah. “Modal tubuh doang.”
Sinta kalem saja menanggapi kemarahan Sarah. Perjalanan hidup sudah banyak mengajarkan kepada dirinya. Bagaimana menghadapi perempuan-perempuan yang suaminya tergoda dengannya.
Bukan hanya suaminya bunda Marissa dan Sarah yang tergila-gila kepada Sinta. Masih banyak laki-laki lain yang kepincut dengan dirinya.
Wajahnya yang manis dan tubuh yang aduhai memang menjadi dambaan setiap lelaki. Penampilannya yang kalem menyamarkan perilakunya yang suka menggaet suami orang. Tidak sepenuhnya salah Sinta sebetulnya. Para lelaki itu memang yang berusaha mendekatinya. Mereka begitu tergila-gila dengan kemolekan tubuh Sinta.
“Tanya sama suami lo.” dengan enteng Sinta menjawab tuduhan Sarah. Sinta merasa tidak merebut suami siri Sarah. Suaminya saja yang terus mengejarnya.
“Kalau kamu tidak meladeni. Pasti suamiku tidak tergoda.”
Baru sehari aku menginjakkan kaki di kota metropolitan. Sudah banyak problema kehidupan yang dialami para kaum perempuan. Semakin membuatku bersemangat untuk mengungkap dan menuliskannya.
Pak redaktur sudah setuju dengan laporan reportaseku. Bahkan aku diminta untuk menulis sisi-sisi kehidupan perempuan-perempuan metropolitan setiap hari. Aku sudah disediakan kapling khusus: Kisah Perempuan-Perempuan Metropolitan.
Rasanya aku tidak perlu jauh-jauh mencari sumber berita. Di rumah kosan bunda Marissa saja dihuni oleh lebih sepuluh perempuan dengan segala pernak-pernik kehidupan metropolitannya. Bahan tulisan yang tidak akan habis-habisnya.
Aku tinggal masuk ke kehidupan mereka. Maka tulisan-tulisanku tentang perempuan-perempuan metropolitan akan terus mengalir.
Aku sengaja memilih model bertutur untuk tulidan reportaseku. Memadukan gaya investigasi dengan alur sebuah novel. Pak redaktur bilang genre tulisanku unik.
Siapa lagi yang bakal aku korek kisah hidupnya?
Tunggu ya!

Mas Sam
(Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama dan kejadian hanya kebetulan saja.)

MasSam (60)

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Cerpen Maafkan Aku Ayah
%d blogger menyukai ini: